<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322</id><updated>2011-07-07T10:08:08.958+07:00</updated><category term='Musik dan Lirik'/><category term='Resensi'/><category term='Pustaka'/><category term='keluargakamase'/><category term='Refleksi'/><category term='Jalan-jalan'/><category term='Ziarah'/><title type='text'>Rausyan Fikr</title><subtitle type='html'>Berbahagialah mereka yang mati muda.
Cogito Ergo Sum !!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-2273267504875716537</id><published>2009-04-03T13:43:00.000+07:00</published><updated>2009-04-03T13:56:27.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Arsitektur Kota Jawa: Kosmos, Kultur, dan Kuasa (Jo Santoso)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apa yang terjadi ketika manusia yang mendiami sebuah kota tidak merasa menjadi bagian dari kota tersebut? Ketika sebuah kota menjadi begitu konformistis dan seragam, tidak memiliki orisinalitas dan identitas budaya. Ketika pusat kota menjadi lokasi konsumsi daripada sebagai pusat budaya, dan hubungan yang terjadi didalamnya bersifat anonim. Ketika kota hanya menjadi the temple of consumerism, tempat pemujaan bagi pemuasan nafsu belanja. Maka yang terjadi adalah perasaan teralienasi dengan akar budaya dan tradisi. Lantas, apa yang salah?&lt;br /&gt;Pertanyaan itulah yang coba diungkap dalam buku setebal 234 halaman ini. Buku ini mencoba meneliti prinsip-prinsip dasar dalam pembentukan ruang dan kota di Jawa, Dan bagaimana kemudian ruang kota dan permukiman ditata sedemikian rupa sehingga mampu memberi wujud dan tubuh pada pemikiran dan kesadaran religius dan budaya masyarakat Jawa, sehingga menghasilkan harmoni antara jagad ageng dengan jagad alit, antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan alam dan manusia lain. Dengan kajian sejarah arsitektur yang komprehensif, disertai dengan kajian sosiologis dan antropologis yang memadai, penelusuran sejarah arsitektur dan tata ruang kota dalam buku ini membawa kita pada kesimpulan-kesimpulan yang mengejutkan.&lt;br /&gt;Kajian dimulai dari zaman Megalitikum di pulau Nias, yang oleh Jo Santoso dianggap menjadi cikal bakal dan dasar yang kemudian berkembang menjadi prinsip umum tata kota di Jawa, bahkan di Nusantara. Permukiman pulau Nias yang berasal dari kebudayaan Melayu proto memiliki konsep dasar berupa mikrokosmos dualistis, adanya pembagian wilayah untuk yang sakral dan yang profan. Yang sakral dan yang profan ini membangun hubungan antara manusia dengan “dunia atas” serta dengan sesama manusia dan alam. Prinsip ini terus bertahan sekalipun setelah masuknya kebudyaan Melayu-deutero. Yang ada sebelumnya hanya melakukan proses integrasi terhadap unsur-unsur kebudayaan baru.&lt;br /&gt;Dalam kajiannya pada Borobudur dan Prambanan, penulis menunjukkan kuatnya dimensi religius (spiritual) dan kesadaran kosmis dalam arsitektur Jawa. Di masa kejayaan Budha Mahayana, Borobudur merupakan sebuah penjabaran pusat dari totalitas keruangan. Manifestasi dari kerinduan manusia akan pembebasan sejati dan pertemuan dengan Sang Mahakuasa. Untuk mencapai tujuan itu, maka Borobudur harus mengatasi dimensi material (batu-batuan sebagai komponen utama Borobudur) sebagai bentuk penolakan terhadap kehidupan fana. Dan stupa di puncak Borobudur adalah simbol dari perjumpaan dengan Maha Kuasa dan kesatuan kosmis. Arsitektur dan penataan ruang Borobudur akhirnya membawa manusia meleburkan seluruh dimensi kehidupannya pada sebuah kehidupan yang bermakna religius.&lt;br /&gt;Pada candi Prambanan, fungsinya lebih dari sekadar bangunan sakral, tetapi juga mencoba untuk menjabarkan hubungan yang hierarkis antara manusia dengan dewa serta alam dan manusia lainnya. Kecenderungan candi yang paling besar (Siwa) di pusat dan kemudian candi-candi yang semakin ke luar semakin kecil merupakan hierarkis pemujaan terhadap dewa-dewa dengan tingkatan yang berbeda. Candi ini juga bukan sebuah sentrum pemujaan tanpa batas, tapi dibatasi oleh ruang yang terbatas (hal 72). Candi ini juga menjadi tonggak arsitektur pagar keliling, yang pada tahap selanjutnya akan banyak mewarnai arsitektur dan penataan ruang kota di Jawa. Menurut Maclaine Pont, arsitektur inilah yang khas Jawa, dan tetap dipertahankan sampai era Islam. Dan Prambanan adalah awal dari proses rejavanisasi.&lt;br /&gt;Pada zaman Majapahit, proses rejavanisasi mencapai puncaknya. Prinsip dasar mikrokosmos dualistis dan arsitektur pagar keliling tetap dipertahankan. Upaya rekonstruksi ibukota Majapahit menunjukkan bahwa terdapat ruang/wilayah sakral dan profan di dalamnya. Wilayah sakral ada di sebelah selatan dan wilayah profan di sebelah utara yang dibatasi oleh jalan (Pigeaud), permpatan (Maclaine Pont). Alun-alun (Slamet Muljana). Bangunan di ilayah sakral adalah istana/kraton, kadharmadyaksan, candi budha dan siwa, Sedang wilayah utara ditempati pasar, administrasi kota, kediaman Mahapatih, dan permukiman orang asing (Arab, India, dan Cina).&lt;br /&gt;Sementara untuk penerapan prinsip mikrokosmos hierarkis dilakukan dengan hubungan yang dibangun antarelemen dalam sistem compound dan manor. Hubungan satuan-satuan teritorial ini membentuk sebuah satuan mikrokosmos yang sifatnya lebih tinggi. Dengan cara inilah keseimbangan kehidupan sosial budaya dan`kemasyarakatan diwujudkan. Ketiadaan pagar yang mengelilingi ibukota Majapahit tidak berarti bahwa penerapan prinsip mikrokosmos hierarkis ini tidak bersifat total. Konsep ruang di Jawa tidak mengutamakan batasan teritorial, tetapi lebih pada hubungan antara elemen-elemen pembentuk ruang (hal 111).&lt;br /&gt;Bentuk dan prinsip ini tetap dipertahankan pada zaman Islam, dengan lebih memperkuat fungsi alun-alun. Ada sebuah kontinuitas dalam pembentukan ruang kota dari sejak zaman Majapahit sampai zaman Islam (Banten, Pajang, Mataram). Dalam penelitian terhadap kota-kota Islam Banten, Pajang, serta Mataram (Plered, Surakarta, dan Kertasura), terdapat kesamaan dalam penggunaan poros sebagai orientasi ruang kota. Ada dua varian penggunaan poros, yaitu poros tunggal yang memanjang dari Selatan ke Utara, dan yang kedua adalah poros ganda (Selatan – Utara) yang mengapit alun-alun.&lt;br /&gt;Alun-alun pada zaman Islam mengalami revitalisasi, dan memiliki arti dan fungsi yang berbeda. Pada zaman Islam, alun-alun melambangkan tegaknya sistem kekuasaan atas wilayah tertentu, sekaligus melambangkan tujuan dari penegakan sistem kekuasaan tersebut, yaitu menciptakan harmonisasi antara dunia nyata (mikrokosmos) dan universum (makrokosmos). Alun-alun berfungsi tempat perayaan ritual dan upacara keagamaan yang penting, seperti upacara grebeg mulud, grebeg sawal, dan grebeg besar. Selain itu, alun-alun juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan militer yang bersifat profan dan merupakan instrumen kekuasaan dalam mempraktekkan kekuasaan sakral penguasa (hal 176). Di sini, alun-alun menjadi penting sebagai ruang publik terbuka yang sifatnya demokratis dan egaliter.&lt;br /&gt;Kajian tentang beberapa kota seperti Pajang, Kotagede, Plered, sampai Surakarta dan Yogyakarta, menunjukkan bahwa kota Jawa berhubungan erat dengan prinsip-prinsip filsafat serta religius budaya yang dipahami sebagai sebuah kesatuan kolektif.  Karena itu pengaturan tata ruang kota diatur dengan kaidah-kaidah kosmografis Jawa. Kosmografis Jawa juga mengatur hakikat hubungan antara manusia dengan benda, termasuk manusia dengan lingkungan bangunan. Kaitannya dengan itu, kegiatan pemerintahan dan sosial budaya religius bukan sekedar upacara religius semata, tapi mencoba untuk mendemonstrasikan sebuah hubungan sosial tertentu antarkelompok masyarakat. (hal 177)&lt;br /&gt;Yang tak kalah penting adalah kemampuan kota Jawa untuk mendukung proses peradaban (civilization) lewat terbentuknya landasan religius-budaya antara elit penguasa dengan rakyat. Penguasa memberikan fasilitas kepada para tenaga ahli dan profesional agar dapat berkarya dalam satuan permukiman khusus. Satuan permukiman khusus ini pada gilirannya menopang kekuasaan sakral raja (hal 178-179). Struktur tata ruang dan permukiman kota-kota Jawa merupakan aplikasi instrumen dan pemberi wujud pada kehidupan sosial budaya religius-sakral masyarakat Jawa.&lt;br /&gt;Kota-kota di Jawa merupakan bentuk kota yang khas dan unik, tidak ada duanya di dunia. Bentuk kota di Jawa berbeda dan bukan salinan dari bentuk kota yang berkembang di India dan Cina, dua kebudayaan besar yang selama berabad-abad memiliki pengaruh yang kuat di Nusantara. Dan ini tak lepas dari sistem kepercayaan dan filsafat masyarakat Jawa, yang mampu mensintetiskan hasil-hasil kebudayaan besar yang masuk ke Jawa tanpa harus menghilangkan kebudayaan asli Jawa. Struktur tata ruang kota di Jawa memungkinkan masyarakat untuk menerima ide-ide baru dari luar, mensintetiskan dan mengintegrasikan dengan kebudayaan lokal tanpa meninggalkan dan menghilangkan kebudayaan asal.&lt;br /&gt;Di tengah perkembangan kota yang semakin tidak terarah, jauh dari nilai-nilai ideal budaya dan tradisi lokal bangsa, maka belajar dari kearifan leluhur dalam membangun kota menjadi relevan. Pengembangan arsitektur dan tata ruang kota harus berjalan seiring dengan perubahan dan transformasi masyarakat. Artinya, ada sebuah kontinum ruang – waktu yang semestinya tidak diputus secara semena-mena. Maka, dalam pembangunan dan pengembangan kota, sudah selayaknya memeperhatikan sejarah perkembangan masyarakat, termasuk didalamnya dimensi sosial budaya dan religius masyarakat, seperti yang dicontohkan oleh nenek moyang kita. Buku yang merupakan bagian dari disertasi penulis di Fakultas Arsitektur Technische Universitaet Berlin yang berjudul Zur Problematik des Baulich-raeumlichen Transformations-prozesses in der Vorkolonialen epochs Javas/Indonesiens, dapat menjadi rujukan yang berharga bagi para perencana kota, arsitek, insinyur dan terutama pengambil kebijakan perkotaan. Sejarah adalah kunci untuk melihat dan memahami masa depan. Kita harus belajar dari sejarah dalam membangun kota yang harmonis dan selaras antarelemen pendukungnya, bukan hanya elemen-elemen dalam satuan fungsi ekonomi semata, tapi juga unsur-unsur budaya. Berdasarkan pengalaman, kita lebih sibuk menyiapkan konsep tata ruang fisik dan ekonomi saja, dan cenderung melupakan tata sosial tata budaya. Kita bisa belajar dari kearifan dan kebijaksanaan leluhur dalam mengembangkan kota yang berkesinambungan dan nyaman bagi semua warganya. Dan buku ini bisa menjadi bahan renungan dan refleksi bagi semua. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-2273267504875716537?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/2273267504875716537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=2273267504875716537&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/2273267504875716537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/2273267504875716537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2009/04/arsitektur-kota-jawa-kosmos-kultur-dan.html' title='Arsitektur Kota Jawa: Kosmos, Kultur, dan Kuasa (Jo Santoso)'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-5149912587101045591</id><published>2009-03-03T08:47:00.005+07:00</published><updated>2009-03-03T09:09:16.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Oleh-oleh dari Kampung: Saat banjir datang lagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SayNFtDPizI/AAAAAAAAALQ/CwjlQQUhdY4/s1600-h/P2270005.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SayNFtDPizI/AAAAAAAAALQ/CwjlQQUhdY4/s200/P2270005.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308773189895031602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Niat awal sih pengen nyenengin keponakan jalan-jalan naik dokar, tapi akhirnya tujuan perjalanan ke lokasi banjir juga. Ternyata, banjir yang menerjang kabupaten Bojonegoro dan diberitakan menerjang hampir seluruh wilyah kabupaten bukan isapan jempol. Menurut berita yang dilansir Kompas (Jum’at 27/02/09), kabupaten Bojonegoro merupakan tempat banjir terparah, dengan menenggelamkan 8.ooo lebih hektar sawah dan 13.000 lebih rumah serta pengungsian besar-besaran. Nah, ternyata air itu telah mencapai tempat yang hanya berjarak 3 km ke arah utara dari rumahku. Dan kesanalah dokar itu membawa rombongan kecil itu, rombongan aku dan keponakan-keponakanku yang berjumlah 7 orang Plus ibu-ibunya keponakanku yang masih kecil, jadinya 10 orang dalam rombongan itu. Sebenarnya aku masih punya dua orang keponakan, tapi karena dah pada gede alias ABG, jadi ga pada ikutan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selama perjalanan, kami melewati jalanan yang sudah rusak parah. Hampir separuh bad&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;an jalan ada lubang yang menganga, bahkan ada lubang yang selebar 1 m. Mungkin karena banjir jalanan itu jadi kayak gitu, tapi seingatku jalan ke arah Kanor emang dari dulu kondisinya seperti itu, rusak parah. Dan kalau sudah benar-benar parah cuman ditambal aja, kayak seragamnya partai Kay Pang (partai pengemis). Begitu musim hujan, kembali ke keadaan semula. Begitu seterusnya, selalu berulang-ulang selama bertahun-tahun. Tapi aku denger dari ibuku, bahwa ruas jalan di kecamatan Kanor baru aja 2 bulan dibangun jalan baru mulus beraspal, tapi ga tahu nasib jalannya sekarang setelah diterjang banjir.&lt;br /&gt;Selama perjalanan pula, keponakan-keponakanku yang masih kecil (kurang dari 1 tahun) banyak ketawa riang, sambil m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;enunjuk-nunjuk pada kuda. Sepertinya mereka sangat menikmati perjalanan itu. Di tengah jalan, seorang tua menyapa dengan melambaikan tangannya pada kami. Orang tua itu kecil tubuhnya, dengan agak bongkok. Aku inget siapa dia. Kakek-kakek itu adalah orang yang dulu saat aku masih duduk di bangku MI atau MTs jualan es lilin di sekolahku. Aku ga tahu dia sekarang kerja apa, tapi yang aku lihat saat itu dia hanya mencari rumput. Aku juga ga tahu untuk apa rumput-rumpu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;t itu. Kalo untuk ternak, ternak siapa? Ternak dia sendiri ataukah ternak orang lain? Kayaknya hidup itu makin lama makin sulit bagi dia dan ga jelas kepastiannya.&lt;br /&gt;Di tempat kami ketemu kakek itu pula, aku melihat air sudah menggenangi persawahan dan halaman depan rumah penduduk, dan halaman depan sekolah dasar. Kayaknya sekolah itu diliburkan, karena  tidak tampak satupun murid atau aktifitas belajar didalamnya.  Bahkan, air sudah merendam jalan kecil, satu-satunya akses bagi warga desa menuju jalan raya terdekat.aku bisa membayangkan betapa repotnya mereka kalau harus ke pasar misalnya. Dimana-mana yang terlihat hanya genangan air. Air..air…saat jumlahnya kecil &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dinanti-nanti, saat melimpah malah tidak diharapkan. Mungkin emang kita harus lebih bijak lagi dalam mengelola alam agar kita hanya mendapatkan jumlah yang dibutuhkan, ga lebih dan ga kurang.&lt;br /&gt;Terus ke arah utara, tiba juga rombongan ke desa Simbatan. Kecamatan Kanor. Dari jauh udah tampak palang larangan untuk masuk bagi kendaraan bermotor. Yang masang palang itu adalah warga, untuk sebuah alasan yang kupikir masuk akal. Warga takut bila ada mobil atau kendaraan bermotor masuk, akan terjadi gelombang air yang akan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menghantam perumahan dan permukiman warga. Gelombang ini ditakutkan akan memperparah tingkat kerusakan rumah warga yang sebagian besar masih dari gedhek (anyaman bambu). Kekhawatiran lain adalah gelombang tersebut dapat mempercepat jebolnya tanggul. Tanggul yang menahan luapan air sungai bengawan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; solo emang masih dibangun dari tumpukan tanah aja. Apabila tergerus air, sedikit demi sedikit akan jebol juga. Akibat banjir aja udah banyak kerusakan yang ditimbulkan, jadi ga usah ditambah lagi lah kerusakannya, mungkin demikian pikir warga.&lt;br /&gt;Saat melihat banjir itu, kami ditawari orang untuk naik perahu kalau mau melihat banjir. Dalam hati aku pikir, hebat juga orang desa ini menangkap peluang dari bencana ya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ng terjadi. Tapi aku menolak, karena &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;beberapa pertimbangan. Yang pertama kayaknya karena hatiku menolaknya. Mana mungkin aku jalan-jalan “berwisata” menikmati kesusahan orang lain sambil jepret sana jepret sini dengan kamera digital yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; kubawa. Aku ga mau menyakiti perasaan warga korban banjir. Jadinya, ya kita ngeliat banjir hanya dari jauh aja, dari tempat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kereta kuda itu berhenti, dari tempat perbatasan genangan air dengan daratan. Yang kedua, karena aku ingat tragedy yang menimpa keluarga temen MTs-ku. Seluruh anggota keluarganya, bapak, ibu, dan adik-adiknya, tewas seluruhnya (hanya benar-benar menyisakan dia seorang) saat naik perahu ketika terjadi banjir besar beberapa tahun lalu. Bayangan itu bikin aku merinding dan memutuskan untuk tidak naik perahu.&lt;br /&gt;Setelah puas melihat banjir (masya Allah), dan keponakanku main air di tempat bencana, maka kami memutuskan kembali pulang. Di tengah perjalanan pulang, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kusir dokar ketemu koleganya sesama petani. “Piye mbah? Kelem (gimana kek? Tenggelam?) ”, sapa kusir itu. “iyo, blas ra siso (iya, ga ada yang tersisa)”, jawab kakek itu dengan tatapan mata yang kosong dan nanar. Tampak jelas guratan kesedihan itu. Kesedihan ditambah dengan kebingungan. Mungkin yang ada dalam pikiran dia saat itu adalah gimana ngluna&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;si utangnya, sementara panen gagal. Gimana nasib anak istrinya? Gimana ini gimana itu, sepertinya berjibun pertanyaan yang sulit dijawab. Mungkin juga saat itu kakek itu berharap ada keajaiban, ada caleg yang melunasi hutangnya, ga hanya pasang tampang di poster atau baliho dengan janji-janji kosong mau menyejahterakan petani.&lt;br /&gt;Kayaknya emang petani itu lapisan masyarakat atau kelompok sosial yang emang di&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SayQq5ebVFI/AAAAAAAAALg/x2aCzwwLFYs/s1600-h/P2270046.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 153px; height: 116px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SayQq5ebVFI/AAAAAAAAALg/x2aCzwwLFYs/s200/P2270046.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308777127420318802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kutuk untuk selalu mengulang-ngulang kesialan seumur hidupnya. Sepertinya mereka mewarisi kesialan dar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;i nenek moyangnya sebagai petani. Mulai dari jaman feodalisme (kerajaan-kerajaan tradisional), masa kolonial dan pasca-kolonial, termasuk era orde lama dan orde baru, nasib petani hanya dimain-mainkan dalam pusa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ran kekuasaan yang saling berebut pengaruh. Penderitaan mereka hanya dieksploitasi untuk mendapatkan simpati demi kursi. Sementara petani, selamanya berkubang dalam lumpur kemiskinan. Kebijakan harga, kebijakan pupuk, kebijakan pasar, ga pernah berpihak pada petani. Entah kapan lingkaran setan penderitaan it&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;u putus.&lt;br /&gt;Akhir perjalanan menyisakan kebahagiaan buat keponakanku, tapi juga menyisakan pertanyaan buatku. Saat aku mau kembali ke Bandung, tersiar kabar bahwa tanggul di Semambung kecamatan kanor, dan di Bayeman jebol, sehingga banjir menjadi semakin tidak terkendali. Jalur transportasi terputus dan dialihkan ke jalur lain, sehingga membuatku hampir ketinggalan bus yang akan membawaku ke Bandung karena susuhnya transportasi menuju kota Bojonegoro. Sebelum pulang, dering telp berbunyi dan dari seberang sana suara Pak De-ku mengabarkan kalau tanggul di Widang – Tuban jebol, sehingga merendam rumahnya dan sedang siap-siap untuk mengungsi. Sabar ya Pak de…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-5149912587101045591?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/5149912587101045591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=5149912587101045591&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5149912587101045591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5149912587101045591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2009/03/oleh-oleh-dari-kampung-saat-banjir.html' title='Oleh-oleh dari Kampung: Saat banjir datang lagi'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SayNFtDPizI/AAAAAAAAALQ/CwjlQQUhdY4/s72-c/P2270005.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-1925940556656234008</id><published>2008-12-26T22:06:00.001+07:00</published><updated>2008-12-26T22:09:50.078+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik dan Lirik'/><title type='text'>A Never Ending Love: Jogjakarta</title><content type='html'>Bicara Jogja tidak pernah ada habisnya. Dengarlah cerita dan pengakuan Katon Bagaskara ketika menciptakan lagu Yogyakarta yang legendaris ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katon diminta Adi membuat lirik. Dalam pikiran Katon, lagu mestinya berbau latin. Itu berarti ia harus membuat setting kota di mana di kota itu terjadi romantika percintaan seseorang yang lama ditinggalkan kekasihnya. Namun, kota tersebut selalu membawa kenangan indah. Romantika lagu sudah jadi, tetapi kotanya belum terpilih. Konsep awal yakni nama kota yang berbau Eropa, membingungkan Katon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya lalu berpikir, kenapa tidak kota di Indonesia, namun yang bisa membangkitkan romantisme, dan terpikirlah Yogyakarta. Langsung kebayang Malioboro, Tugu, Tamansari, yang tiap sudut menyapaku bersahabat”, kata Katon Bagaskara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogjakarta, akan selalu menjadi kota yang istimewa bagi orang yang pernah tinggal disana. Dan aku akan selalu merindukan Jogjakarta, dengan segala kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi maafkan aku Jogja, aku tidak memasukkan namamu dalam daftar yang harus kukunjungi dalam perjalanan panjangku tahun ini. Bukan karena aku tidak merindukanmu, tapi biarkan rasa rindu ini semakin terpendam dan menjadi dalam, sehingga pada waktunya nanti membuncah menjadi sebuah kemesraan yang tak terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah lagu baru Katon yang berjudul Jogja, Never Ending Love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the sand&lt;br /&gt;I can see my footprints left behind&lt;br /&gt;Parangtritis waves calling in rhyme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the longest time&lt;br /&gt;life has been a struggle in the past&lt;br /&gt;Now it’s time to free my soul at last&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Between waves chasing each other to the shore&lt;br /&gt;The sound of Gamelan enticing even more&lt;br /&gt;This calm I’ve been waiting for&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letting myself fly&lt;br /&gt;I see all these people passing by&lt;br /&gt;bicycles are everywhere I go&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smiles so beautiful&lt;br /&gt;friendly faces greeting me so nice&lt;br /&gt;My heart’s found its home in paradise&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watch that lady&lt;br /&gt;dancing gracefully&lt;br /&gt;She brings to life the legend of Tamansari&lt;br /&gt;How softly and sweetly&lt;br /&gt;tradition’s calling me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh please let me stay&lt;br /&gt;time don’t pass away&lt;br /&gt;I treasure your beauty&lt;br /&gt;day to day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here peace I can find&lt;br /&gt;leave troubles behind&lt;br /&gt;just this city in my mind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A place that’s so real&lt;br /&gt;and yet makes me feel&lt;br /&gt;like being in heaven up above&lt;br /&gt;Pure white like a dove&lt;br /&gt;a passion deep in my heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A never ending love:&lt;br /&gt;Jogjakarta&lt;br /&gt;Hoo~ woo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deep within my heart will never be apart&lt;br /&gt;Javanese romance enchanting like a dance&lt;br /&gt;Oh.. so innocently tradition’s calling me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~-~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh please let me stay&lt;br /&gt;time don’t pass away&lt;br /&gt;I treasure your beauty day to day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here peace I can find&lt;br /&gt;leave troubles behind&lt;br /&gt;just this city in my mind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A place that’s so real&lt;br /&gt;and yet makes me feel&lt;br /&gt;like being in heaven up above&lt;br /&gt;Pure white like a dove&lt;br /&gt;a passion deep in my heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A never ending love:&lt;br /&gt;Jogjakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-1925940556656234008?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/1925940556656234008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=1925940556656234008&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/1925940556656234008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/1925940556656234008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/12/never-ending-love-jogjakarta.html' title='A Never Ending Love: Jogjakarta'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-6900370492578079459</id><published>2008-12-18T12:48:00.005+07:00</published><updated>2008-12-18T13:04:51.236+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Bandung Military Tour</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SUnl1IwK2wI/AAAAAAAAAJ8/j8wW8Zp5J3c/s1600-h/PA190001.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281004739113966338" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 161px; CURSOR: hand; HEIGHT: 114px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SUnl1IwK2wI/AAAAAAAAAJ8/j8wW8Zp5J3c/s200/PA190001.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Well, selalu menyenangkan jalan-jalan. Apalagi kalau jalan-jalan tersebut dapat memberikan banyak pengetahuan baru.&lt;br /&gt;Minggu yang lalu, aku mengikuti acara Militour, jalan-jalan &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SUnmqyBQzwI/AAAAAAAAAKE/2-kmjsFJzrc/s1600-h/van+oorlog.jpg"&gt;&lt;/a&gt;mengintip fasilitas militer yang ada di kota Bandung. Memang, Bandung (Priangan), selain dulunya disiapkan sebagai ibukota Negara Hindia Belanda sebagai pengganti Batavia, juga disiapkan sebagai pusat militer pemerintah kolonial. Maka tidak mengherankan bila di Bandung terdapat banyak fasilitas militer.&lt;br /&gt;Di mulai dari Gudang Utara, yang merupakan arsenal militer Hindia Belanda, perjalanan bermuara di Museum Mandala Wangsit, museum perjuangan Kodam III/Siliwangi. Seperti biasa, militer selalu mengklaim dirinyalah sendiri yang menopang kedaulatan dan pejuang sejati kemerdekaan Indonesia. Istilah seperti “tentara berjuang bersama rakyat”, sering mereka keluarkan daripada pernyataan: “rakyat berjuang bersama tentara”. Seolah-olah merekalah komponen utama perjuangan dulu. Tapi sudahlah, bangunan dan fasilitas militer lebih menarik untuk diamati daripada memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;Sayangnya, kita tidak bisa masuk ke dalam instalasi dan fasilitas militer, alasannya sih katanya demi menjamin kerahasiaan Negara (hehehe..padahal fasilitas mereka sudah bisa dipotret lewat Google Earth). Jadi kita hanya bisa menikmati arsitektur klasik romantik dari luar aja. Kalau dari sudut sejarahnya sih ga ada yang menarik menurutku. Bukannya nyombong, tapi aku sedikit banyak tahu tentang sejarah militer di Indonesia, mulai dari KNIL, PETA, dan laskar-laskar rakyat sampai TNI sekarang. Cuman mungkin dengan berkunjung ke tempat-tempat itu, aku ngerasa seperti terlibat langsung dengan sejarah militer Indonesia sendiri.&lt;br /&gt;Yang menarik bagiku adalah karinding yang dimainkan oleh seorang anggota Bandung Heritage. Karinding merupakan alat musik tiup sederhana yang terbuat dari batang bambu, yang ukurannya kecil sekali, panjang sekitar 10 cm, lebar 1 cm, dan ketebalan 1-2 mm. Ketika ditiup oleh satu orang, suaranya emang lirih dan kecil. Tetapi ketika ditiup secara bersamaan oleh eberapa orang, interferensi suara menghasilkan suara yang nyaring. Menurut pengakuan orang itu, frekuensi yang dihasilkan oleh interferensi suara itu dapat mengusir hama di sawah. Alat musik ini dulunya banyak dimainkan oleh urang sunda saat di sawah. Sambil menunggu sawah, mengusir hama, juga bermain musik dengan karinding. Bayangkan “kebudayaan petani” yang bersahaja dan memiliki kohesi sosial yang sangat kuat. Saat individualisme belum mencemari pematang sawah. &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SUnnyn4SXHI/AAAAAAAAAKM/YiN6i-eTayc/s1600-h/PA190032.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281006894953159794" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 181px; CURSOR: hand; HEIGHT: 140px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SUnnyn4SXHI/AAAAAAAAAKM/YiN6i-eTayc/s200/PA190032.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan karinding ini sudah sangat langka, untuk tidak mengatakan hampir punah. Dan sudah jarang sekali orang yang bisa memainkannya. Begitulah nasib budaya kita…Tergusur oleh kekuatan besar yang sekarang lagi dominan: KAPITALISME. Saat kita melupakan karinding, bisa jadi dalam beberapa tahun mendatang Malaysia akan meng-klaim bahwa karinding adalah produk budaya mereka. Siapa peduli?...&lt;br /&gt;Yang tersisa dari perjalanan ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang terkadang klise tapi jawabannya sulit tersedia. Lantas, peran Dinas Pariwisata dimana? Justru kelompok-kelompok masyarakat seperti Bandung Heritage inilah yang memiliki kepedulian nyata terhadap warisan sejarah dan budaya bangsa. Bukankah gila kalau Tommy Winata mau membeli gedung Sabau (bekas gedung Department van Oorlog dan bekas gedung KNIL) untuk dijadikan hotel, dan Pangdam III/Siliwangi mengijinkannya.&lt;br /&gt;Sejarah memang harus ditulis ulang, dengan kajian akademik yang objektif lepas dari kepentingan penguasa. Kenapa? Karena apa yang tertulis dan terpampang di Museum adalah warisan sejarah Orde Baru yang militeristik. Apakah otak dan kesadaran anak cucu kita harus terkontaminasi sejarah yang “bengkok”?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-6900370492578079459?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/6900370492578079459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=6900370492578079459&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/6900370492578079459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/6900370492578079459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/12/bandung-military-tour.html' title='Bandung Military Tour'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SUnl1IwK2wI/AAAAAAAAAJ8/j8wW8Zp5J3c/s72-c/PA190001.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-348086244533558945</id><published>2008-12-02T09:26:00.005+07:00</published><updated>2008-12-02T11:09:13.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluargakamase'/><title type='text'>Arti sebuah puncak: Mi'raj menuju kesempurnaan</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/STSyLUL210I/AAAAAAAAAJs/lnJSO2AcEOA/s1600-h/DSC08156.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275036971024439106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 139px; CURSOR: hand; HEIGHT: 113px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/STSyLUL210I/AAAAAAAAAJs/lnJSO2AcEOA/s200/DSC08156.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apa arti sebuah puncak?&lt;br /&gt;Sebuah puncak adalah sebuah pencapaian akhir dari usaha yang sangat keras&lt;br /&gt;Puncak bukan sebuah akhir dari perjalanan.&lt;br /&gt;puncak adalah sebuah proses.&lt;br /&gt;puncak adalah sebuah perjalanan spiritual&lt;br /&gt;menuju kesempurnaan jiwa dan pikiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan dari mahluk menuju Allah (&lt;em&gt;min al-khuluq ila al-khaliq&lt;/em&gt;) &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;itulah saat kita memantapkan hati, meluruskan niat, membersihkan jiwa, meninggalkan dunia dengan segala hirup pikuknya untuk memenuhi panggilan nurani. Apapun yang terjadi, meski hujan menghadang, puting beliung menerjang, hati yang mantap tidak tergoyahkan membawa kita menuju semesta. Membawa kita berjalan dari alam kemakhlukan menuju alam spiritual.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan di dalam Tuhan bersama Tuhan (&lt;em&gt;min al-haq fi al-haq&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;saat kita mulai mendaki, itulah saat kita menetapkan sebuah keyakinan. Saat mendaki menuju puncak, terasa sangat berat. Keyakinan telah melahirkan kekuatan untuk terus mencapai puncak. Keyakinan bahwa akan ada sebuah kenikmatan yang tidak terbayangkan saat mencapai puncak. Keyakinan yang mampu membawa kaki-kaki kita melewati setiap tanjakan, tikungan. Setiap langkah kaki kita adalah sebuah keyakinan. Keyakinan itulah hakikatnya. Berjalan dalam keyakinan bersama keyakinan.&lt;br /&gt;Puncak, adalah akhir sebuah perjalanan sekaligus awal perjalanan baru. Puncak adalah hikmah/kearifan (&lt;em&gt;al-hikmah al-muta’alliyah&lt;/em&gt;), pencerahan tertinggi (&lt;em&gt;rausyan fikr&lt;/em&gt;). Melihat luasnya alam, betapa kerdilnya manusia. Menyadari sepenuhnya kemakhlukan, hamba sahaya sekaligus wakil-Nya di alam semesta ini. Penyatuan dengan Sang Maha Segalanya (&lt;em&gt;liqa ila Allah&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan (&lt;em&gt;min al-haq ila al-khuluq bi al-haq&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Puncak adalah awal dari perjalanan baru. Awal untuk meneruskan perjalanan turun kembali menuju kemakhlukan dan menjalankan tugas kekhalifahan, bersama kearifan puncak dan pencerahan tertinggi. Maka perjalanan turun kembali adalah sebuah perjalanan suci, dengan kesadaran baru.Bersama Tuhan (liqa ila Allah)pula turun ke bumi bersama semua problematikanya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan di dalam makhluk bersama Tuhan (&lt;em&gt;fi al-khuluq bi al-haq&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah saat kembali dalam masyarakat dengan kearifan. Dengan kearifan itu pula menjalankan tugas kemakhlukan sekaligus kekhalifahan. Menciptakan kehidupan yang lebih baik, kebudayaan dan peradaban tinggi, yang dibangun dengan moral dan etika yang luhur. Menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Itulah makna sebuah puncak bagiku.&lt;br /&gt;mi’raj menuju kesempurnaan spiritual.&lt;br /&gt;bukan hanya untuk diri kita, tapi juga untuk orang lain&lt;br /&gt;untuk rakyat, bangsa, dan negara&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275039510818115826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 180px; CURSOR: hand; HEIGHT: 131px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/STS0fJp20PI/AAAAAAAAAJ0/WM20AHSHux4/s200/DSC08189.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/STSvyrFkjtI/AAAAAAAAAJk/HONDl0iHQ0w/s1600-h/DSC08189.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/STSvyrFkjtI/AAAAAAAAAJk/HONDl0iHQ0w/s1600-h/DSC08189.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-348086244533558945?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/348086244533558945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=348086244533558945&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/348086244533558945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/348086244533558945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/12/arti-sebuah-puncak-miraj-menuju.html' title='Arti sebuah puncak: Mi&apos;raj menuju kesempurnaan'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/STSyLUL210I/AAAAAAAAAJs/lnJSO2AcEOA/s72-c/DSC08156.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-8923753107884714198</id><published>2008-11-28T13:24:00.008+07:00</published><updated>2008-11-28T14:07:13.333+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ziarah'/><title type='text'>Makam Sunan Bayat</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SS-QQmaNljI/AAAAAAAAAJE/SSyrcK7ZPtI/s1600-h/P8310078.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273592303536936498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 115px; CURSOR: hand; HEIGHT: 164px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SS-QQmaNljI/AAAAAAAAAJE/SSyrcK7ZPtI/s200/P8310078.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Wali songo adalah sebuah lembaga agama yang menjadi penopang utama kerajaan Demak Bintoro. Anggota dewan tersebut ada sembilan (&lt;em&gt;songo&lt;/em&gt;) orang, dan dalam periode tertentu, salah satu anggotanya adalah Sunan Bayat.&lt;br /&gt;Makam Sunan Bayat ada di kecamatan Bayat, kab. Klaten. Makamnya terletak di atas bukit. Kompleks makam Tembayat ini sendiri dibangun sejak tahun 1526 (sengkala: &lt;em&gt;murti sarira jleging ratu&lt;/em&gt;) dengan nuansa Hindu yang sangat kental. Jadi lebih tua dari makam Imogiri. Desain kompleks makam ini mengikuti pandangan kosmologis masyarakat Jawa. Begitu masuk, sudah disamput gapura Segara Muncar yang berbentuk candi bentar. Gapura ini sekarang sudah menyatu dengan kompleks permukiman warga dan berdiri di sudut lapangan balai desa.&lt;br /&gt;Agak naik ke atas, kita akan bertemu gapura Dhuda, juga berupa candi bentar. Berturut-turut akan menemui gapura Pangrantunan (kayak nama daerah di buku Nagasasra dan Sabuk Inten) berbentuk paduraksa tanpa pintu, gapura Panemut yang berbentuk candi bentar, gapura Pamuncar seperti gapura Panemut, dan gapura Bale Kencur yang berbentuk paduraksa yang berdaun pintu. Aku belum tahu kenapa gapura-gapura tersebut dinamai demikian. Tapi yang jelas, bentuk arsitekturnya Hindu banget. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Setelah gapura terakhir, kita akan menemui masjid usianya setua usia kompleks makam ini. Ukurannya kecil, bahkan untuk masuk masjid harus menundukkan kepala. Arsitektur majsid jawa dengan 4 soko guru. Bahan kayu yang dipakai untuk sokoguru, pintu, dan jendela masih asli. Bedung yang sudah termakan usia juga masih ada, ditaruh di luar. &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SS-RbsL3WbI/AAAAAAAAAJM/ovcafln2PiI/s1600-h/P8310160.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273593593577560498" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 137px; CURSOR: hand; HEIGHT: 106px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SS-RbsL3WbI/AAAAAAAAAJM/ovcafln2PiI/s200/P8310160.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah gapura Bale Kencur, kita memasuki makam keluarga dan pengikut sunan Bayat. Di kompleks makam ini terdapat dua padasan yang berusia ratusan tahun, yang bernama Kyai Naga. Disebut Kyai Naga karena tempat keluarnya air dari padasan berbentuk kepala naga. Naik lagi ke atas, kita akan sampai pada puncak kosmos pemakaman itu, yaitu makam sunan Bayat. Makam tersebut terletak di dalam sebuah bangunan yang luas dan tertutup (lihat foto bawah), dengan tembok yang tebal. Di dalam ruangan, makam tersebut juga ditutupi oleh bangunan dari kayu, dengan selambu kain warna putih. Sayang aku dilarang mengambil gambar di dalam. Bahkan kita tidak bisa melihat ke dalam untuk melihat makam tersebut. Di sekitar bangunan tersebut juga terdapat senjata tombak dan payung. Mungkin itu adalah pusaka peninggalan Sunan Bayat. Ada sebuah tulisan yang berhuruf Jawa, sayang tidak ada terjemahannya. Aku tidak bisa membaca itu tulisan apa . Mungkin riwayat hidup Sunan, mungkin bisa apa saja.&lt;br /&gt;Sunan Bayat sendiri hidup semasa Sunan Kalijaga (dan Syekh Siti Jenar). Nama aslinya adalah Ki Ageng Pandanarang. Awalnya beliau adalah seorang pejabat tinggi kerajaan dan memiliki kekayaan yang melimpah. Kemudian beliau memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawinya, kekayaannya, dan mengabdikan dirinya untuk syia’ar agama. Beliau menjadi murid Sunan Kalijaga, dan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga diperintahkan untuk berd’awah di daerah Bayat, Klaten. Disinilah Sunan Bayat berda’wah sampai menutup mata. Saat gonjang-ganjing Syekh Siti Jenar, Sunan Bayat masuk sebagai salah satu anggota dalam dewan Wali Songo (baca Syekh Siti Jenar karya Abdul Munir Mulkhan).&lt;br /&gt;Makam Tembayat juga membuktikan satu hal, bahwasanya Islam “ramah” terhadap budaya lokal/asli. Proses da’wah yang asimiliatif, penuh toleransi, dan tanpa kekerasan budaya, ditunjukkan oleh makam Tembayat ini, seperti juga banyak bukti lain seperti Masjid Menara Kudus. Makam ini memberi pelajaran penting bahwa mengajak kepada kepada kebaikan tidak harus melalui kekerasan, pelajaran akan pentingnya toleransi untuk keharmonisan hidup. Makam ini juga menjadi teladan seorang Sunan Bayat yang rela meninggalkan kehidupan duniawi yang penuh kemewahan demi sebuah panggilan nurani untuk kemanusiaan dan pencerahan.&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273595596435559522" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 173px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SS-TQRabFGI/AAAAAAAAAJU/Dx6eyPFARIQ/s200/P8310083.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-8923753107884714198?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/8923753107884714198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=8923753107884714198&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/8923753107884714198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/8923753107884714198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/11/makam-sunan-bayat.html' title='Makam Sunan Bayat'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SS-QQmaNljI/AAAAAAAAAJE/SSyrcK7ZPtI/s72-c/P8310078.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-3692909816563785674</id><published>2008-11-25T08:15:00.004+07:00</published><updated>2008-11-25T08:59:55.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluargakamase'/><title type='text'>Purwokerto, Sebuah Panggilan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SStVivQ-eYI/AAAAAAAAAI0/ohD2CcV3Gno/s1600-h/DSCN1249.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272401844058880386" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SStVivQ-eYI/AAAAAAAAAI0/ohD2CcV3Gno/s200/DSCN1249.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebuah undangan singkat itu akhirnya membawa kami ke Purwokerto. Sebuah undangan dari kelompok petani yang mengharapkan “bantuan” kami untuk pembuatan biodigester. Ternyata website &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kamase.org/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;www.kamase.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; sangat efektif untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, meski tidak semua masyarakat familiar dengan teknologi internet. Dengan semangat 45, kami datang memenuhi undangan itu, meski belum pernah menginjak tanah Banyumas. Awalnya kami memutuskan ke Purwokerto tanggal 15 – 16 November, tapi karena permintaan yang mendesak, maka kami putuskan untuk memenuhi undangan tanggal 1 – 2 November. Dan berangkatlah kami berdua ke Purwokerto demi sebuah panggilan masyarakat.&lt;br /&gt;Awalnya kami tidak begitu yakin bahwa kami akan bisa memenuhi undangan. Bagaimana tidak? belum apa-apa kita sudah ketinggalan bus yang akan membawa kita ke Purwokerto. Jadinya kita mutusin naik bis ekonomi ke Purwokerto, apapun resikonya, berapapun biaya (waktu)nya. Belum-belum kita udah bayangin betapa stressnya naik bis ekonomi, bukan karena ketidaknyamanan, tapi karena bayangan akan berapa banyak waktu yang kita buang sia-sia karena bis-nya ngetem sana-sini. Sesuai dugaan, bis-nya ngetem di Tasikmalaya sejam, di Banjar setengah jam, di mana lagi aku sampai lupa. Berangkat jam 10 pagi dari Cicaheum, nyampai terminal Purwokerto jam 17.30 sore.&lt;br /&gt;Memang, selama perjalanan kami dihibur dengan pemandangan yang sangat indah. Jalan yang berkelak-kelok, di kiri jalan bukit kokoh menjulang tinggi, kanan jalan lembah dan ngarai yang dalam. Kadang-kadang terlihat hamparan sawah terrasering yang luas, kadang terlihat sungai yang berkelak-kelok. Kadang juga terlihat hutan. Ditambah dengan hujan yang turun seharian, membuat suasana semakin menarik. Kompensasi pemandangan indah menjadikan waktu tempuh menjadi tidak berarti.&lt;br /&gt;Di terminal Purwokerto, kami dijemput ma dua mahasiswa. Satu dari UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto), dan satunya dari Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman). Sesuai dugaanku, mereka aktifis salah satu elemen ekstra kampus. Mereka udah lama kenal dengan pengurus paguyuban petani yang ngundang kami di sana, karena organisasi mereka memiliki kegiatan pemberdayaan masyarakat di sana melalui kegiatan edukasi. Memang seharusnya demikianlah mahasiswa, belajar mengasah kepekaan sosial dan meresponnya untuk mempercepat transformasi sosial, terutama di pedesaan yang transformasi sosialnya lambat.&lt;br /&gt;Berapa lama menuju lokasi? di jalan aku nanya gitu. Kira-kira setengah jam lagi. Ah, syukurlah kalau gitu. Jadi kami bisa segera istirahat. Hari sudah mulai gelap saat kami di jalan. Jalan masih basah setelah siangnya diguyur hujan. Jalan mulai menanjak naik, suara mesin motor menderu seperti merasa berat membawa kami berdua naik. Jalanan benar-benar gelap, kabut mulai turun, jarak pandang terbatas, hanya 3 meter ke depan. Kita benar-benar tidak bisa melihat kiri kanan, yang tampak hanya kegelapan semua. Kondisi ini benar-benar membuat kami musti ekstra waspada. Di tengah jalan, tiba-tiba motor terhenti, karena ternyata kita terjebak tanah longsor. Terpaksa kami nuntun motor sampai keluar dari jebakan longsor, baru melanjutkan perjalanan kembali. Untung kondisi jalan udah mulus. Aku ga bisa bayangin kalau seandainya kondisi jalan rusak parah seperti di daerah Panggang – Gunungkidul. Kami sampai di lokasi setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, dengan kondisi seperti itu. Dingin banget. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SStbgC6GxhI/AAAAAAAAAI8/6tsQWkh41h8/s1600-h/DSCN1174.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272408394861823506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 148px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SStbgC6GxhI/AAAAAAAAAI8/6tsQWkh41h8/s200/DSCN1174.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ternyata, desa yang kami datangi adalah desa terakhir dan terletak di kaki gunung Slamet di ketinggian 900 m dpl. Desa tersebut berbatasan langsung dengan hutan di sebelah utara. Jumlah penduduk sekitar 200 KK, dan 98% adalah petani dengan tingkat pendidikan yang rendah (rata-rata cuman sampai SD). Sebagian besar pemuda pergi ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya mengadu nasib, sementara pemudi dan kaum wanitanya banyak yang menjadi TKI/TKW. Ngga’ heran, meski tingkat pendapatan rendah tapi rumah para petani keliatan bagus dari luar.&lt;br /&gt;Masyarakat masih banyak bergantung pada alam. Sebelum listrik dari PLN masuk, mereka memanfaatkan air sungai untuk membangkitkan listrik. Air melimpah, kayu bakar tinggal mengambil dari hutan. Alam memberikan keberlimpahan, dan mereka memperlakukan alam sebagai bagian dari diri mereka sendiri. Di daerah terpencil ini, ternyata masih ada orang yang peduli terhadap nasib para petani dan warga sana. Selain mahasiswa, para petani di sana dibina oleh seorang alumni Komunikasi UGM angkatan 1993. Komitmennya terhadap pemberdayaan masyarakat di sana sangat tinggi. Malam itu kami bicara panjang lebar tentang pemberdayaan dan penguatan masyarakat sipil, terutama peningkatan kualitas hiudp petani.&lt;br /&gt;Pagi harinya, kami ketemu ketua paguyuban petani di sana. Kami bicara tentang keinginan dan kebutuhan petani disana, danmereka secara terbuka minta bantuan para mahasiswa (kami datang ke sana atas nama mahasiswa, Kamase/Komunitas Mahasiswa Sentra Energi) untuk ikut memikirkan bagaimana mereka bisa mandiri di bidang energi. Ini bukan yang pertama. Sebelumnya mereka udah pernah minta bantuan kepada pemerintah dan lembaga pemerintah lainnya, tapi hasilnya nol. Hanya, sering mereka didatangi oleh banyak lembaga untuk survey (sampe mereka lupa lembaga apa aja yang pernah datang ke sana), tetapi rakyat dan petani di sana ga pernah tahu untuk apa survey itu dan apa tindak lanjutnya. They got nothing, kecuali janji-janji. Dan mereka kayaknya udah jenuh dan bosen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah ngobrol ma ketua paguyuban, kita melakukan site visit, dimana kita akan membangun instalasi biodigester. Lokasinya lumayan jauh dari permukiman, kira-kira 200 - 250 m, terlrtak di tengah sawah dengan ketinggian lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Tentu saja ini akan jadi tantangan tersendiri bagi kami untuk membuat desain yang efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Kami menyanggupi untuk membantu warga di sana. Kami akan menyediakan system dan desain engineeringnya, tetapi untuk masalah implementasi dan pelaksanaanya kami serahkan kepada warga. Inilah pendekatan emansipatif yang sebenarnya, sebuah pendekatan yang mestinya dilakukan dalam proses pembangunan. Selain itu, kami siap mendampingi sampai operasional sistem tersebut, dan kami juga berencana menjadikan desa tersebut menjadi pilot project “Desa Mandiri Energi”. Kami juga akan terlibat secara aktif dalam penyiapan masyarakat (social engineering).&lt;br /&gt;Semoga ini akan menjadi pembelajaran yang sangat bagus bagi mahasiswa, terutama anggota Kamase, agar memahami kebutuhan riil masyarakat, melatih kepekaan mahasiswa (bisa merasa, bukan hanya merasa bisa), dan mau bergulat dengan permasalahan warga, dan yang lebih penting adalah melatih untuk berpikir integratif dan holistis, dengan berbagai sudut pandang, untuk mencapai kearifan puncak sebagai intelektual muda.&lt;br /&gt;Sebelum kembali ke Bandung, aku nyempetin main ke instalasi kincir air pembangkit listrik yang sudah tidak dipakai lagi. Sungguh sangat disayangkan, sebenarnya apabila sistemnya diperbaiki, potensi ini dapat digunakan untuk menggerakkan unit ekonomi kecil dan menengah warga disana, yang aku lihat terdapat penggilingan padi dan usaha koperasi. Setelah itu, kami jalan-jalan menikmati segarnya udara pedesaan dan indahnya pemandangan pegunungan. Ah,,,segernya... Ah, indahnya… Seandainya tiap hari bisa seperti ini.&lt;br /&gt;Matahari semakin tinggi, saatnya kembali ke Bandung. Selama perjalanan ke terminal Purwokerto, kami dapati kenyataan bahwa ternyata jalanan yang kita lewati semalam, yang gelap gulita, ternyata kiri kanan jalan tersebut adalah jurang yang lumayan dalam. Ngeri juga kalau bayangin semalem motor slip kemudian jatuh ke jurang.&lt;br /&gt;Selamat tinggal, Purwokerto. "We shall return", demikian kata Douglas McArthur&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-3692909816563785674?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/3692909816563785674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=3692909816563785674&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/3692909816563785674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/3692909816563785674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/11/sebuah-undangan-singkat-itu-akhirnya.html' title='Purwokerto, Sebuah Panggilan'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SStVivQ-eYI/AAAAAAAAAI0/ohD2CcV3Gno/s72-c/DSCN1249.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-3320996904983755748</id><published>2008-11-20T09:46:00.003+07:00</published><updated>2008-11-20T09:59:27.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pustaka'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Selamat Hari Pahlawan, Jenderal (bagian terakhir)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SSTQrhWS4PI/AAAAAAAAAIE/HatvPXhq4Dc/s1600-h/DSCN1362.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270566910035157234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SSTQrhWS4PI/AAAAAAAAAIE/HatvPXhq4Dc/s320/DSCN1362.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat agresi militer Belanda II, Soedirman memilih untuk menyingkir dari ibukota RI saat itu (Yogyakarta) dan memimpin perang gerilya, meski sudah diminta oleh Soekarno saat itu untuk istirahat saja di Yogyakarta, mengingat penyakit TBC yang dideritanya dalam masa penyembuhan. Jawaban Soedirman sangat tegas: ”Yang sakit adalah Soedirman, tetapi Panglima Besar tidak pernah sakit”. Sebuah semangat yang luar biasa. Sebelumnya, komando Angkatan Perang diserahkan oleh Soedirman kepada Soekarno sebagai Panglima Tertinggi, untuk melakukan perlawanan. Tetapi Soekarno menolak dan memilih untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Sambil berucap:”Jika Panglima Tertinggi tidak bersedia memimpin angkatan perang, maka komando akan dipegang oleh Panglima Besar”, Soedirman memutuskan menyingkir dari Yogyakarta. Dan dimulailah episode panjang kisah gerilya Panglima Besar Soedirman yang terkenal itu.&lt;br /&gt;Kisah gerilya Panglima Besar mirip kisah pelarian Tan Malaka menghindari kejaran penjajah kapitalis. Selalu berpindah dari satu daerah ke daerah lain, dan tidak pernah lama tinggal di daerah yang ditempatinya. Bedanya, Tan Malaka bila tinggal di suatu daerah dalam hitungan bulan, tetapi bila Soedirman tidak pernah lebih dari satu hari. Bila Tan Malaka menghindari kejaran polisi/intelijen lintas negara (Inggris, Belanda, Perancis, AS), maka Soedirman harus menghindari kejaran militer sekutu disertai pesawat-pesawat tempur yang terus meraung-raung sambil menjatuhkan ribuan ton bom. Tapi Jenderal Soedirman selalulolos dari kejaran musuh, dan tak jarang tentara Belanda hanya menyerang daerah-daerah kosong yang sudah ditinggalkan oleh Sang Jendral. Selama gerilya inilah, dengan sakit TBC yang semakin parah (parunya hanya bekerja satu), Sang Jenderal mengoordinasi dan mengatur angkatan perang RI untuk menghadapi tekanan militer Belanda.&lt;br /&gt;Prinsip Jendral Soedirman jelas: Lebih baik di bom atom daripada merdeka kurang dari 100%. Prinsip ini juga dianut oleh partner sejatinya: Tan Malaka. Maka bersama Tan Malaka (terutama dalam Persatuan Perjuangan), Soedirman menolak semua bentuk politik diplomasi yang tanpa didahului oleh pengakuan kedaulatan sebagai negara merdeka. Karena prinsip ini pula, duet ini sering berseberangan dengan politik resmi pemerintah dan negara. Tetapi karena sebagai Panglima Besar yang harus menyatukan elemen bangsa untuk tetap bersatu, maka Soedirman “terpaksa” patuh dan taat kepada politk pemerintah. Bagi Soedirman, tentara adalah alat pemerintah, maka politik tentara adalah politik pemerintah. Bagi Soedirman, posisi ini tentu dilematis. Di satu sisi harus tetap teguh mempertahankan prinsip, tapi disisi lain Soedirman harus mampu meyakinkan anak buahnya bahwa inilah yang terbaik. Hal ini wajar, karena saat itu moral tentara Republik sedang tinggi-tingginya karena kemenangan di banyak front pertempuran. Tetapi dengan kharisma dan wibawa Panglima Besar, bukan hal yang sulit untuk mendinginkan hati tentara republik.&lt;br /&gt;Ternyata, meskipun hanya seorang guru SD, Soedirman memiliki naluri militer yang tajam. Naluri itu ditambah dengan jiwa kebapakan dan sosial yang tinggi (sebagai aktifis Muhammadiyah dan tokoh masyarakat), menghasilkan perpaduan yang sangat dahsyat sebagai Panglima Besar.&lt;br /&gt;Ada hal yang menarik kalau kita ikuti sepak terjang Jenderal Besar Soedirman. Beliau banyak terinspirasi oleh perjuangan Nabi Muhammad SAW. Ketika pasukan Siliwangi harus ditarik mundur dari daerah kantong menuju daerah Republik, maka Soedirman mengistilahkan dengan “hijrah”, untuk menjaga moral pasukan. Bahkan Soedirman sendiri yang menyambut di stasiun Tugu Yogyakarta. Saat Soedirman terkepung di daerah Jawa Timur, beliau menggunakan trik yang sama dilakukan Nabi untuk melarikan diri, yaitu dengan mengelabui musuh dengan Soedirman palsu. Soeparjo Rustam dan Heru Kesser memakai mantel untuk mengelabui Belanda. Dan memang akhirnya Belanda dapat dikelabui.&lt;br /&gt;Soedirman yang selama Gerilya tidak dapat dikalahkan oleh Belanda, akhirnya harus dikalahkan oleh sakitnya. Tetapi sejatinya dia tidak dikalahkan, karena hanya fisiknya saja yang sakit dan digerogoti penyakit, tetapi jiwa dan semangatnya akan selalu merdeka, bebas, tidak tertaklukkan, dan akan terus menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus mengobarkan semangat pantang menyerah berjuang demi rakyat. 29 Januari 1950, beliau menutup mata untuk selamanya di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki – Yogyakarta.&lt;br /&gt;Perjuangan Panglima Besar seharusnya menjadi contoh bagi kita semua. Pesan beliau yang saat ini kembali populer adalah: “Rakyat tidak boleh menderita, biarlah kami para pemimpin yang menderita”, seharusnya menjadi refleksi bagi para pemimpin bangsa sekarang. Bukannya malah mengumbar hawa nafsu tanpa malu lagi.&lt;br /&gt;Selamat Hari Pahlawan, Jenderal, dari kami yang selalu mengenangmu…&lt;br /&gt;Maafkan kelakuan para pemimpin kami yang tidak tahu malu itu, Jenderal&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-3320996904983755748?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/3320996904983755748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=3320996904983755748&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/3320996904983755748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/3320996904983755748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/11/selamat-hari-pahlawan-jenderal-bagian.html' title='Selamat Hari Pahlawan, Jenderal (bagian terakhir)'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SSTQrhWS4PI/AAAAAAAAAIE/HatvPXhq4Dc/s72-c/DSCN1362.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-84065480258231357</id><published>2008-11-17T11:28:00.003+07:00</published><updated>2008-11-17T11:35:58.717+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pustaka'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Tentang Pahlawanku, Jendral Besar Soedirman</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SSD0ds-JH8I/AAAAAAAAAH0/eTTr9KBtLbw/s1600-h/soedirman.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269480355148668866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 103px; CURSOR: hand; HEIGHT: 130px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SSD0ds-JH8I/AAAAAAAAAH0/eTTr9KBtLbw/s320/soedirman.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jenderal Besar Soedirman adalah salah satu tokoh yang sangat kukagumi di Indonesia, selain Ibrahim Datuk Sutan Malaka. Kebetulan keduanya merupakan dwitunggal selain Soekarno – Hatta. Kenapa aku begitu mengagumi Panglima Besar Angkatan Perang RI pertama itu? &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Soedirman dilahirkan tanggal 24 Januari 1916 di Purwokerto. Soedirman dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja, bahkan boleh dikatakan dari keluarga tidak mampu. Bahkan mungkin karena saking miskinnya, Soedirman diangkat anak oleh kakak perempuan dari ibunda Soedirman. Kebetulan kakak perempuan ibu Soedirman menikah dengan seorang wedana di daerah Rembang. Karena sejak kecil diangkat anak olehkeluarga priyayi inilah maka Soedirman mendapatkan gelar Raden didepan namanya, sehingga menjadi Raden Soedirman. Meski begitu, kehidupan Soedirman diwarnai oleh kesederhanaan dan kerendahhatian. Ibadah wajib tidak pernah absen, ibadah sunnah menjadi pelengkap ibadah wajib tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebenarnya tidak yang istimewa dalam perjalanan hidup seorang Soedirman muda. Soedirman aktif di persyarikatan Muhammadiyah, organisasi yang dia yakini memiliki posisi dan peran yang strategis dalam membina mental dan karakter serta pribadi masyarakat. Karena itu dia terlibat di Majlis Tabligh dan aktif memberikan pengajian/ceramah di berbagai tempat, mulai dari wilayah Karesidenan Banyumas sampai Cilacap. Bahkan semua dilakukan dengan naik sepeda onthel. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selain itu, Soedirman muda juga aktif dalam dunia pendidikan. Dia menjadi Guru sekaligus Kepala Sekolah SD Muhammadiyah di daerah Purwokerto. Dia berpendapat bahwa untuk memajukan bangsa yang terbelakang dan membebaskan bangsa yang terjajah adalah melalui pendidikan. Lewat pendidikan pula, dia meyakini kesadaran nilai-nilai kebangsaan dapat ditanamkan. Begitu cintanya pada dunia pendidikan, hingga ketika sekolahnya dijadikan markas oleh tentara pendudukan Jepang, dia berani meminta kepada penguasa wilayah pendudukan untuk memulihkan sekolah lagi. Karena ketokohan Soedirmanlah, Jepang mengabulkan permintaan itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aktifitas Soedirman ditambah dengan kegiatan kepanduan Hizbul Wathan di bawah persyarikatan Muhammadiyah. Aktifitas inilah yang mengenalkan Soedirman dengan disiplin ala militer, sehingga ketika saatnya Soedirman masuk dunia militer, dia sudah tidak asing lagi. Sepanjang hidup Soedirman muda diabdikan untuk persyarikatan Muhammadiyah. Tak heran ketika beliau diangkat sebagai perwira PETA oleh Jepang, beliau sempat menitipkan Muhammadiyah agar “dianget-angetne” (terus dihidupkan). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semua kegiatan-kegiatan itulah yang membuat Soedirman menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di wilayah Banyumas. Soedirman, yang masih sangat muda saat itu (sekitar 26 tahun) sudah memiliki wibawa, kharisma, dan pengaruh yang sangat besar di kalangan rakyat. Rakyat begitu menghormati dan segan kepadanya, bahkan bagi orang tua yang memiliki anak gadis rela antri agar anaknya mau disunting oleh Soedirman muda saat itu. Tetapi hanya seorang gadis yang beruntung mendapatkanya, yaitu Alfiah, putra seorang saudagar kaya sekaligus teman sekolah dan rekan seperjuangan di persyarikatan Muhammadiyah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Titik balik kehidupan Soedirman muda berubah saat Jepang menyerbu masuk dan Belanda menyerah tanpa syarat pada 8 Maret 1942 di Kalijati, Cilacap. Karena kebutuhan perang, maka Jepang membentuk PETA dan membutuhkan orang untuk dilatih sebagai anggota PETA. Soedirman muda (yang saat itu berusia 27 tahun), karena dikenal sebagai tokoh masyarakat direkrut untuk dididik sebagai calon daidanco (komandan batalyon). Soedirman muda kemudian menjalani pendidikan kilat selama 6 bulan di Bogor untuk menjadi calon perwira PETA. Setelah lulus, Soedirman muda menyandang pangkat Kolonel dan menjadi komandan batalyon PETA di daerah Purwokerto. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah menyandang pangkat Kolonel, kharisma dan wibawa Soedirman semakin besar. Soedirman pernah diminta oleh Jepang untuk memadamkan pemberontakan batalyon PETA di Kroya, dan Soedirman mampu melakukannya tanpa sedikitpun darah yang tumpah. Bahkan, karena besarnya kharisma Soedirman, ketika Jepang kalah perang dan menyerah, hanya di wilayah tanggung jawab Soedirmanlah pelucutan senjata tentara Jepang tidak mengalami hambatan yang berarti, dan jatuhnya korban sia-sia dapat dicegah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5 Oktober 1945, TKR dibentuk. Panglima Besar pertama adalah Supriyadi. Tapi karena Supriyadi tidak pernah muncul, maka panglima-panglima wilayah mengadakan kongres untuk memilih Panglima Besar yang baru. Lewat pemilihan yang demokratis (pertama kali dalam sejarah militer dunia, Panglima Perang dipilih secara demokratis oleh para panglima wilayah), Kolonel Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar, dan pangkatnya dinaikkan dari Kolonel menjadi Jenderal penuh (bintang 4), dan ini adalah kenaikan pangkat tercepat dalam sejarah militer dunia. Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar dalam usia 29 tahun. Terlihat betapa kuat kharisma dan wibawa Soedirman di mata para panglima wilayah (selain karena faktor persaingan antara perwira PETA vs KNIL). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di waktu yang bersamaan, sekutu (yang diboncengi NICA – Belanda) sudah mendaratkan pasukan di Semarang dan terus mendesak maju hingga ke Ambarawa (di waktu bersamaan pula terjadi pertempuran hebat di Surabaya). Tujuan sekutu adalah menguasai Jogjakarta, sehingga mereka dapat memutus hubungan antara Jawa bagian Barat dan Jawa bagian Timur. Karena kondisi itu, Soedirman belum sempat dilantik dan memilih untuk memimpin pertempuran menahan sekutu di Ambarawa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan mengoordinasikan pasukan yang ada di Kedu dan Banyumas (barat) dan pasukan yang ada di Salatiga (timur), dan dengan formasi Supit Urang, Soedirman mulai menahan gerakan maju pasukan sekutu yang lebih berpengalaman dan dilengkapi dengan peralatan tempur yang canggih dan jauh di atas tentara Republik saat itu. Palagan Ambarawa menjadi medan yang sangat berat bagi tentara sekutu. Dalam satu hari mereka tidak pernah berhasil maju dalam jarak 2 km. Karena perang yang berlarut-larut dan logistik pasukan sekutu juga dipotong oleh pasukan Soedirman, maka perlahan-lahan pasukan sekutu mulai menarik mundur pasukannya kembali ke Semarang. Meski korban yang jatuh di pihak tentara Republik lebih banyak, tapi tentara kita berhasil memukul mundur pasukan pemenang perang dunia. Dan kemenangan ini membawa nama Soedirman semakin terkenal dan dicintai oleh rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Bersambung...)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-84065480258231357?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/84065480258231357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=84065480258231357&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/84065480258231357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/84065480258231357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/11/tentang-pahlawanku-jendral-besar.html' title='Tentang Pahlawanku, Jendral Besar Soedirman'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SSD0ds-JH8I/AAAAAAAAAH0/eTTr9KBtLbw/s72-c/soedirman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-5362776134897810290</id><published>2008-07-06T11:40:00.002+07:00</published><updated>2008-07-06T11:43:07.846+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pustaka'/><title type='text'>Membaca SH Mintardja: Nagasasra dan Sabuk Inten,</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SHBNSOyI7tI/AAAAAAAAAFw/flK2i5cYzrY/s1600-h/SH+Mintardja.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219756943723785938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SHBNSOyI7tI/AAAAAAAAAFw/flK2i5cYzrY/s200/SH+Mintardja.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagi diriku sendiri, mungkin nama SH Mintardja dalam dunia kepengarangan di Indonesia masih kalah moncer daripada nama-nama semacam Pramoedya Ananta Toer, Kho Ping Hoo, sampai generasi Ayu Utami ataupun Jenar Mahesa Ayu. Aku membaca karya SH Mintardja-pun baru-baru ini saja, itupun masih terbatas pada karya Nagasasra dan Sabuk Inten, belum sampai pada Magnum Opus-nya Api Di Bukit Menoreh, sebuah cerita yang konon tidak akan pernah berakhir, karena sang penulis keburu meninggal. Api Di Bukit Menoreh dimuat secara bersambung pada harian Kedaulatan Rakyat.&lt;br /&gt;Membaca SH Mintardja sungguh menyenangkan. Setidaknya, bagi orang yang tidak tahu dan tidak begitu peduli dengan segala macam tetek bengek teori sastra. Apakah sebuah bacaan masuk kategori realisme ataukah surealisme, bagaimana teknik penulisannya. Aku tidak peduli apakah karya tersebut mendobrak pakem dunia kepenulisan, menabrak nilai mainstream, mengungkap tabu, dan tetek bengek lainnya. Aku tidak peduli. Justru menurutku ketidakpedulianku pada hal-hal yang “mengiringi” pembacaan karya sastra itulah yang membebaskan diriku dari beban penilaian, sehingga benar-benar menikmatinya. Seni untuk dinikmati, bukan untuk dibuat pusing J.&lt;br /&gt;Dan menurutku disitulah kekuatan SH Mintardja. Ceritanya mengalir seperti sebuah dongeng sebelum tidur, yang sungguh enak untuk dinikmati. Penggunaan bahasa yang sederhana, mampu membangun komunikasi yang efektif dengan pembacanya (bukankah memang tugas bahasa seperti itu, dan jika bahasa “dimodifikasi” sedemikian rupa sehingga terjadi distorsi pesan, apalah gunanya?). Apalagi cerita yang disampaikan merupakan perpaduan antara patriotisme yang dibumbui oleh percintaan yang romantis tapi tidak cengeng, kombinasi yang menarik bukan?. Dan yang lebih penting, sastra sebagai suara zamannya, yang meneriakkan nilai-nilai kebenaran serta nilai-nilai ideal lain yang harus dimiliki oleh manusia, benar-benar dapat diperankan dengan baik oleh SH Mintardja. Sastra sebagai kritik sosial, sebagai juru dakwah pengingat, benar-benar dapat dimainkan secara apik olehnya. Di pena-nya, nilai-nilai usang menjadi semakin semakin usang. Nilai-nilai luhur mendapatkan kembali posisinya yang mulia. Nilai-nilai lama yang luhur tapi dianggap usang dibangkitkan kembali. Dan itulah menurutku fungsi sastra yang sebenarnya, membangkitkan kesadaran dan nurani yang terlena dan terlelap. Dan SH Mintardja menjadi corong zamannya.&lt;br /&gt;Novel Nagasasra dan Sabuk Inten sendiri, berpusat pada tokoh Mahesa Jenar atau Manahan, seorang prajurit Demak yang meninggalkan kesatrian karena idealisme-nya. Bahwa pengabdian tidak harus melalui keprajuritan (dan birokrasi tentunya), membawanya kepada perjalanan yang luar biasa, sebuah perjalanan untuk menemukan pusaka Demak, Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten. Pusaka yang dianggap sebagai kewahyon (bila memiliki dua pusaka tersebut dianggap berhak menduduki tahta sebagai Raja Jawa), telah menyeret pihak-pihak yang berkepentingan dengan kekuasaan pada pusaran konflik yang rumit di penghujung kekuasaan Sultan Trenggono, yang merupakan masa transisi dari kerajaan Demak menuju kerajaan Pajang yang didirikan oleh Mas Karebet alias Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya. Dan sepertinya memang inilah watak negara/sistem kekuasaan tradisional, dimana proses peralihan kekuasaan bersifat cyclic yang selalu disertai dengan kekerasan. Siapa yang jadi korban? Jawabnya jelas: Rakyat (kalau boleh jujur, sebenarnya pelaku sejarah adalah rakyat, bukan para raja dan ksatria).&lt;br /&gt;Perjalanan panjang Mahesa Jenar benar-benar mengingatkanku pada karya klasik dari negeri Tiongkok, Sin Tiaw Hiap Lie (Pendekar Pemanah Rajawali) karya Chin Yung. Kenapa ? Ada tokoh-tokoh pesilat sakti semacam Pasingsingan, Radit dan Anggara, Ki Ageng Pandan Alas dari Gunung Kidul, Titis Anganten dari Banyuwangi, Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Sora Dipayana, Kebo Kenanga, Lowo Ijo dari Nusa Kambangan, Bugel Kaliki, dengan jurus saktinya masing-masing, yang dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh dalam karya Chin Yung seperti Ong Tiong Yang (Dewa Pusat), Ang Cit Kong (pengemis utara, 18 tapak naga), Bhiksu Yi Teng (Kaisar Selatan, jari It Yang Chi), Oey Yok Su (Sesat Timur, penguasa pulau Persik), Oey Yang Hong (Racun Barat, jurus kodok), Ciu Pe Thong, Kwee Ceng, sampai Yo Ko dan Tio Bu Kie.&lt;br /&gt;Dengan setting yang hampir sama (zaman transisi dan perebutan kekuasaan), ceritanya juga tidak jauh berbeda yaitu seputar kepahlawanan/patriotisme. Bagaimana seorang ksatria harus bersikap dan bertanggung jawab terhadap rakyat dan negaranya, dengan menjunjung tinggi kewajiban dan sumpah (jabatan), dan kerelaan berkorban tanpa pamrih, tanpa mengharap pujian, apalagi mengharap jabatan. Bahwa perjuangan yang dilakukannya akan bermuara pada rakyat dan kesejahteraannya. Tidak ada yang lebih tinggi daripada itu. Dibumbui dengan kisah cinta antara Mahesa Jenar dengan Pudak Wangi cucu Ki Ageng Pandan Alas. Sebuah romantisme yang heroic tapi tidak cengeng.&lt;br /&gt;Bukankah dengan kondisi bangsa saat ini yang tengah dikuasai aku-isme (egosentrisme yang vested interested), lunturnya nilai-nilai patriotisme dan kejuangan di kalangan pejabat negara, atau ketika hak lebih ditonjolkan daripada kewajiban yangharus dijalankan, cerita-cerita kepahlawanan tersebut merupakan oase yang mampu memberikan harapan akan adanya mata air yang menyegarkan di tengah kegersangan nilai? Tinggal bagaimana kita meresapi nilai tersebut dan menjadikannnya sebagai sistem nilai dalam diri kita. Mudah dibicarakan tapi sulit dilaksanakan, bukan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-5362776134897810290?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/5362776134897810290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=5362776134897810290&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5362776134897810290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5362776134897810290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/07/membaca-sh-mintardja-nagasasra-dan.html' title='Membaca SH Mintardja: Nagasasra dan Sabuk Inten,'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SHBNSOyI7tI/AAAAAAAAAFw/flK2i5cYzrY/s72-c/SH+Mintardja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-3739465364304232689</id><published>2008-07-06T11:02:00.005+07:00</published><updated>2008-12-25T04:21:18.367+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Dua hari di Jogja (terakhir)</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SHBLH5FvvSI/AAAAAAAAAFo/H-a9yeO4yb8/s1600-h/DSC00821.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219754567078493474" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 169px; height: 128px;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SHBLH5FvvSI/AAAAAAAAAFo/H-a9yeO4yb8/s200/DSC00821.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;15 Juni 2008, Jam 07.00 pagi…&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Pagi-pagi sekali kami segera meluncur menyusur jalan Solo menuju Klaten. Ya, tujuan selanjutnya adalah Klaten, tepatnya di desa Pucangmiliran Kecamatan Tulung. Disanalah dulu aku KKN, dan disana pula kami melakukan penelitian. Tujuan kesana adalah untuk menyerahkan hasil penelitian kami kepada perangkat desa dan masyarakat disana.&lt;br /&gt;Kalasan, yang ditandai dengan kehadiran candi Kalasan…lewat…Kemegahan candi Prambanan…lewat… disebelah selatan Prambanan, berdiri megah candi Ratu Boko…lewat…hamparan sawah menuju lokasi, dengan udara pagi itu, duh segarnya…Gunung Merapi dan Merbabu berdiri berdampingan seperti sepasang pengantin, duh indahnya…&lt;br /&gt;Sampai disana, langsung menemui perangkat desa dan menyerahkan hasil penelitian tersebut. Harapan kami, semoga penelitian tersebut tidak hanya menjadi tumpukan kertas yang bila disusun/ditumpuk dapat mengantarkan manusia Indonesia ke Bulan. Kami menghubungkan perangkat desa disana dengan Balai Pemberdayaan PU di Jogjakarta, semoga hasil penelitiantersebut dapat ditindaklanjuti.&lt;br /&gt;Bila ada yang kusesali saat ke Klaten, adalah dua hal. Satu, aku tidak bisa mandi di umbul (kolam mata air), tempat favoritku menghabiskan waktu dengan bermain-main disana selama KKN. Dua, ternyata aku tidak punya banyak waktu untuk silaturrahim dan mengunjungi warga disana, untuk sekadar nostalgia mengenang kenangan indah disana, hehe…&lt;br /&gt;Saat pulang menuju Jogja, aku sempatkan untuk mampir menikmati es dawet di daerah Prambanan. Tempat yang selalu kukunjungi saat melakukan perjalanan dari Klaten maupun Solo menuju Jogjakarta. Hanya dengan Rp. 1000 saja, kita dapat menikmati segarnya es dawet, yang dengan segera memuaskan dahaga.&lt;br /&gt;Sampai di Jogja jam 14.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.00…&lt;br /&gt;Saatnya kembali ke Bandung. Ada yang tersisa dari kunjungan ke Jogja kali ini.&lt;br /&gt;Yogya memang sedang berbenah dan tidak mau ketinggalan dari kota-kota besar lainnya. Sayangnya, pola pembangunan yang Jakarta-sentris telah mengabaikan bahkan mengancam identitas Yogyakarta yang telah terpelihara puluhan bahkan ratusan tahun. Ikon sebagai kota budaya dan pendidikan yang disandangnya, dengan kebersahajaan penduduknya dan kohesi sosial yang kuat antarwarga, sedikit demi sedikit terkikis oleh laju pembangunan. Ruang publik sekaligus ruang sosial mulai terasing dari masyarakat akibat gencarnya mall serta bentuk-bentuk kehidupan individualis-materialis, terutama oleh serbuan dari kota besar dengan gaya hidup borjuasinya. Jika dulu orang kaya malu menunjukkan kekayaannya di Yogya (ora ilok, katanya), maka sekarang tidak ada malu lagi. Mahasiswa banyak menyerbu mall daripada menggelar diskusi ilmiah. Kesadaran kaum intelektual (baca: mahasiswa) tercerabut dari akar sosialnya.&lt;br /&gt;Yogya tengah membangun. Jogja sedang gagap. Modernisasi imitasi.&lt;br /&gt;Sedih, lelah yang tak kunjung sirna. Rupanya, kekecewaan dan kesedihan temanku beralasan. Begitu juga aku. Mungkin aku tidak pandai bersajak dan merangkai kata, tetapi Darmanto Jatman mengekspresikannya dengan liris dalam sajak “Yogya tentang modernisasi” (1977).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Daunan menggeliat&lt;br /&gt;Digelitik&lt;br /&gt;Angin yang berbelitan –&lt;br /&gt;San tiga kesangsian itu:&lt;br /&gt;Wah, wah, wah&lt;br /&gt;Tergoyang-goyang antara mimpi dan kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana malaikat yang bernyanyi&lt;br /&gt;Karena dibaptis&lt;br /&gt;Mana kau yang bermasyuk&lt;br /&gt;Karena daging sudah membuat ruh&lt;br /&gt;Berahi&lt;br /&gt;Mana aku yang berbahagia&lt;br /&gt;Karena ruhku menguasai badanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yogya menggigil kedinginan&lt;br /&gt;Menggeliat pelan-pelan serta menggumam:&lt;br /&gt;Sudah tinggikah matahari&lt;br /&gt;pagi ini?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seorang teman mengungkapkannya secara puitik dalam “Kota Berlarik Cahaya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota tumbuh menuju kesamaan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Kematangannya diukur dari serakan pencakar-pencakar langit dan&lt;br /&gt;pemenuhan syahwat belanja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Sepotong kata terlupa: renta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Sungai-sungai kering. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Udara lebam menyesakkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Terlalu banyak mesin di jalanan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Hutan sisa sepotong nama, ditandai ingatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Musim tanpa isyarat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Sebuah jalur yang dinamakan Malioboro, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;yang dulu ditabuh angin beringin, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;kini pusat kerumunan yang mulutnya hingga ke bawaht anah alun-alun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Kota-kota tumbuh saling meniru dan merampas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Maka orkes hujan segerombol kodok di tegalan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;menjadi ketakjuban baru bagi kanak-kanak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Ketika laut surut dihisap tsunami, mereka &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;berkecipak riang menangkap ikan menggelepar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Mereka buta penanda,&lt;br /&gt;sebagaimana orang dewasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Rongga di bawah kota ini kini meruapkan gemuruh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Lindu menyisakan ketakutan, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;rumah baru enggan didirikan, lebih baik tidur dalam angin. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Sesekali Merapi menampakkan diri dalam latar tanpa kabut, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;seperti senja kemarin, ketika pandanganku menelusur badan kokohnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Puncaknya berlapis suspensi merah samar.&lt;br /&gt;Ia mengirim rasa kekesendirian dalam kepungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Lalu selarik cahaya putih kemerahan tiba-tiba hadirdi langit, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;memanjang dari timur laut ke barat daya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Orang-orang mencari makna, berusaha keras &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;membaca alam agar mampu memanggulnya jika berontak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Kukenakan sebuah mantel tebal ketika mau keluar, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;membelah gerimis pertama bulan Juli, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;kiriman badai Bilis Filipina. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Apa yang melesat dari perigi imajinasi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;ketika memikirkan selarik cahaya di atas kota yang bergemuruh?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Gerimis menggamit kelam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Aku bersin dan batuk.&lt;br /&gt;Berasa senyap dalam kepungan,berasa Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Prameswari, Juli 2006)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-3739465364304232689?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/3739465364304232689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=3739465364304232689&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/3739465364304232689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/3739465364304232689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/07/dua-hari-di-jogja-terakhir.html' title='Dua hari di Jogja (terakhir)'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SHBLH5FvvSI/AAAAAAAAAFo/H-a9yeO4yb8/s72-c/DSC00821.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-1415543727523084104</id><published>2008-07-02T11:01:00.003+07:00</published><updated>2008-12-25T04:09:59.909+07:00</updated><title type='text'>Dua hari di Jogja (lanjutan)</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SGr-qkA1FqI/AAAAAAAAAFY/6L6offgjZnY/s1600-h/Yogyakarta.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218263125437257378" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 139px; height: 104px;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SGr-qkA1FqI/AAAAAAAAAFY/6L6offgjZnY/s200/Yogyakarta.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;11.30…&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wisma PU, Yogyakarta. Aku dulu sempat bekerja selama 1,5 bulan disini sebelum akhirnya dibuang ke Cileunyi, Bandung. Banyak yang berubah, dan tentu saja berubah lebih baik. Semua berkat gempa bumi Yogyakarta. Loh? Iya, bangunannya sempat rusak parah akibat gempa tahun 2006 yang lalu. Aku, bersama beberapa kawan saat itu kemudian mendesain ulang untuk diperbaiki. Tidak kusangka, perbaikannya demikian bagus (maklum, saat proses perbaikan aku sudah “terbuang” ke Bandung).&lt;br /&gt;Ibu Boss masih ada rapat staff. Kutunggu sambil istirahat di dalam kamar sambil mengatur rencana menghabiskan malam di Jogja. Capek, lelah, belum istirahat, belum mandi, setelah 10 jam perjalanan Bandung – Jogjakarta. Selesai mandi, kuseret kawanku untuk menikmati makan siang di warung angkringan. Kebetulan dekat wisma ada angkringan yang masih buka di siang hari. Ah,,,betapa nikmatnya. Aku sangat merindukan nasi kucing ini. Maka kulahap setiap butir nasi kucing dengan kepuasan yang tidak dapat diukur dengan satuan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.00 …&lt;br /&gt;Pertemuan dengan bu boss. Agenda ini memang sudah di-arrange sebelumnya. Kuserahkan hasil penelitian tim kami tentang limbah aren di desa Pucangmiliran, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten. Terjadi pembicaraan empat mata di pendopo wisma yang lumayan seru. Pembicaraan mengalir, seputar kondisi kantor, kegiatan kantor, hambatan dan tantangan ke depan, struktur organisasi dan sumberdaya manusia, serta perlunya perubahan paradigma lembaga penelitian sosial ekonomi. Disini dilihat perlunya kajian sosiologis maupun antropologis yang menyeluruh untuk social mapping dan social engineering yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur ke-PU-an. Apabila paradigma ini diubah, maka lembaga litbang sosial ekonomi dapat menjadi avant garde dalam pembangunan infrastruktur PU.&lt;br /&gt;Pembicaraan yang mengalir membuat kami tak sadar bahwa matahari telah mulai tergelincir sepenggalan ke ufuk barat. Ibu Boss mengajak nonton pertunjukan seni budaya di Ambarukmo Plaza malam ini. Bingung, padahal malam itu aku sudah ada janji dengan kawan-kawan mau menikmati kopi Joss di angkringan Toegoe. Kusampaikan kegelisahanku, eee…dia malah bilang mau ikut. Malah aku dikasih kunci mobil untuk jalan-jalan malam ini. Ya sudahlah,,,berarti malam ini ke angkringan Toegoe rame-rame pakai mobil dinas kantor hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;Ambarukmo Plaza (Amplaz), pertunjukan seni budaya dalam rangka Visit Indonesia Year. Aku memutuskan jalan kaki dari wisma PU ke Amplaz, karena aku yakin malam itu pasti jalanan macet total. Ya, sejak ada Amplaz, Jl. Adisucipto yang biasanya lengang pada malam hari sekarang penuh dengan hiruk-pikuk manusia pencari kesenangan. Di tengah perjalanan, sebenarnya ada acara yang lebih menarik perhatianku, yaitu perayaan 100 tahun pelukis Affandi. Aneh, karena selama karierku di Jogja, belum pernah aku masuk ke museum Affandi yang ironisnya letaknya ga jauh dari UGM. Sekarang, Jl. Gejayan sudah diubah namanya menjadi Jl. Affandi.&lt;br /&gt;Sampai disana, tidak habis pikir, kenapa acara seni budaya diadakan di sebuah Mall. Mall, memang penuh sesak dengan manusia, tetapi aku lihat mereka acuh tak acuh dengan pentas seni budaya, dan lebih senang berburu barang-barangg konsumsi yang terkadang tidak dibutuhkannya. “Bagaimana Indonesia dikatakan krisis ya, wong pengunjung mall begitu banyak”, komentar seorang kawan. Iya, krisis memang tidak pernah dirasakan oleh mereka yang di mall, tapi krisis ada bagi mereka yang ada di pinggir jalan mengais-ngais rupiah dari belas kasihan, mereka yang terpukul oleh tingginya harga pupuk dan tak mampu bertahan dari gempuran beras impor, mereka yang tersingkir, mereka yang dimiskinkan secara struktural.&lt;br /&gt;Disana, aku malah melihat pekerja seni disana menjadi terasing dengan lingkungan sekitarnya. Jika biasanya acara seni budaya diadakan di gedung societet, benteng Vredeburg, JEC (pernah dulu aku menikmati Festival Kraton Nusantara disana), atau tempat-tempat lain yang akrab dengan kegiatan seni dan budaya. Disana, kupikir para pekerja seni tersebut bisa lebih dihargai daripada di mall. Festival seni budaya berbeda jauh dengan festival konsumsi, kecuali festival budaya pop/mass culture/budaya MTV. Mereka memiliki tempatnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.00…&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The journey continuous…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kecewa dengan acara seni budaya di Amplas, kami memutuskan untuk pulang lebih awal dan meneruskan perjalanan untuk menikmati sajian yang legendaris, kopi Joss a la angkringan Toegoe. Sebelumnya sempat tersiar kabar kalau angkringan tersebut digusur oleh Pemkot. Beberapa hari sebelum keberangkatan aku dengar kabar dari seorang kawan kalau angkringan itu tidak jadi digusur. Maka kami memutuskan untuk menikmati malam ini di angkringan Toegoe.&lt;br /&gt;Tempat itu masih bersahaja seperti dulu. Bedanya, sekarang tempat untuk nongkrong lebih luas karena bangunan-bangunan semi permanen di sepanjang trotoar sudah tidak ada lagi. Yang mendatangi bukan lagi kalangan menengah ke bawah, tapi menengah ke atas mulai akrab dengan angkringan ini. Berbeda dengan angkringan lain di Jogja yang saat ini marak dengan layanan hot spot, angkringan toegoe masih mempertahankan “tradisi angkringan” lama. Tetapi justru disinilah kekuatan utamanya, sebagai ruang publik, ruang pertemuan manusia untuk saling berkomunikasi, memperkuat kohesi sosial, dan tidak menutup kemungkinan terjadi pembicaraan bisnis kelas atas, pembicaraan budaya, bahkan pembicaraan revolusi (sebagaimana terjadi pada revolusi Perancis medio 60-an).&lt;br /&gt;Bicara, dengan kata-kata verbal, melibatkan emosi, menjadikan komunikasi lebih memiliki makna yang intensif daripada pembicaraan verbal tanpa emosi seperti dalam dunia maya (sebagaimana angkringan yang menyediakan fasilitas hot spot, yang pengunjungnya sibuk dengan laptopnya masing-masing tanpa peduli dengan lingkungan sekitar).&lt;br /&gt;Kopi Joss, masih khas seperti dulu. kopi campur arang membara, memberi aroma dan rasa yang khas. Enak, nikmat, sedap, harum. Ditambah dengan nasi kucing, sate usus, sate kulit, mendoan bakar. Menjadikan malam itu semakin renyah dengan gelak tawa dan pembicaraan ringan tentang kehidupan. Oh,,,malam yang begitu indah dan ingin rasanya tinggal di Jogjakarta untuk seterusnya. Semakin besar rasa cintaku pada Jogjakarta.&lt;br /&gt;Jika ada yang harus kusesali, adalah aku tidak bisa berlama-lama menikmati kopi Joss dan suasana malam itu di angkringan toegoe, karena harus buru-buru balik ke penginapan.&lt;br /&gt;Ternyata tidak ada yang berubah dari sebuah angkringan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-1415543727523084104?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/1415543727523084104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=1415543727523084104&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/1415543727523084104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/1415543727523084104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/07/dua-hari-di-jogja-lanjutan.html' title='Dua hari di Jogja (lanjutan)'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SGr-qkA1FqI/AAAAAAAAAFY/6L6offgjZnY/s72-c/Yogyakarta.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-5352883062596857540</id><published>2008-06-30T09:28:00.001+07:00</published><updated>2008-06-30T09:31:58.474+07:00</updated><title type='text'>Stop Kekerasan !!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SGhFh92HKpI/AAAAAAAAAFQ/cQ-27ZALV3Q/s1600-h/anarkis.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217496618148244114" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SGhFh92HKpI/AAAAAAAAAFQ/cQ-27ZALV3Q/s200/anarkis.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Konon kabarnya selama 4000 tahun peradaban manusia, hanya 250 tahun saja yang berlangsung damai. Itu artinya sejarah manusia adalah sejarah peperangan, sejarah kekerasan. Lantas, apakah kemudian kekerasan dapat dibenarkan. Apakah memang watak dasar manusia adalah kekerasan, dengan kata lain manusia menikmati kekerasan?.&lt;br /&gt;Kekerasan dapat dilakukan untuk berbagai tujuan. Penegakan hukum memerlukan kekerasan (pemaksaan) agar dapat berjalan efektif. Untuk memaksakan kehendak juga sangat efektif dengan cara kekerasan. Kekerasan juga mungkin menjadi katarsis yang ampuh atas himpitan-himpitan yang dihadapi, baik persoalan psikologis, sosial, politik, dan ekonomi. Kekerasan juga merupakan pengelolaan konflik yang paling primitif. Sejak Habil dan Qabil memulai pertumpahan darah pertama dalam sejarah manusia.&lt;br /&gt;Kekerasan juga dapat dilakukan atas berbagai alasan. Alasan agama –ini yang paling sering dan yang paling menyeramkan dalam sejarah manusia-, alasan politik, dominasi kekuasaan, alasan ideologis, bahkan kekerasan juga dilakukan atas nama adat dan tradisi –pernah lihat film Apocalypto garapan Mel Gibson, atau kasus KDRT yang tersembunyi rapat-rapat di balik selimut tradisi dan adat.&lt;br /&gt;Untuk alasan apapun, untuk tujuan apapun, kekerasan tetaplah kekerasan. Dan dalam kekerasan ada hak-hak asasi orang lain yang dirampas. Ada ancaman terhadap keamanan dan keselamatan jiwa manusia. Bulan Juni ini, kita disuguhi pementasan kekerasan yang tidak ada akhirnya. Mulai dari insiden Monas (FPI vis a vis AKKBB), insiden UNAS (polisi vis a vis mahasiswa), Geng Nero di Pati (kekerasan a la peer group), dan yang terakhir adalah demonstrasi anarkis menentang kenaikan BBM di Jakarta baru-baru ini.&lt;br /&gt;Apa arti kekerasan-kekerasan yang terjadi belakangan ini?&lt;br /&gt;Apakah ini hanya sekadar refleksi kekerasan ekonomi semata (ketidakadilan ekonomi)&lt;br /&gt;Atau cerminan dari kekerasan politik dari sebuah sistem yang mampet dan diskriminatif?.&lt;br /&gt;Atau hanya gambaran dari runtuhnya bangunan sosial masyarakat yang semakin rapuh di tengah gemuruh pembangunan dan modernisasi di segala bidang?&lt;br /&gt;Atau gejala dekadensi pemahaman terhadap nilai-nilai moral dan etika yang dimiliki bangsa ini, termasuk nilai-nilai agama?&lt;br /&gt;Atau memang kita sudah tidak cukup dewasa untuk memberikan respon secara positif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar kita?&lt;br /&gt;Mau kemana bangsa dan negara kita (bangsa dan negaraku, bangsa dan negaramu, bangsa dan negara mereka, bangsa dan negara kita, Indonesia)&lt;br /&gt;STOP KEKERASAN !!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-5352883062596857540?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/5352883062596857540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=5352883062596857540&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5352883062596857540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5352883062596857540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/06/stop-kekerasan.html' title='Stop Kekerasan !!!'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SGhFh92HKpI/AAAAAAAAAFQ/cQ-27ZALV3Q/s72-c/anarkis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-433128910666183511</id><published>2008-06-27T13:09:00.001+07:00</published><updated>2008-06-27T13:29:40.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>23 Juni 2008</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Saat itu aku sedang di rumah untuk memulihkan kondisi dan istirahat –aku punya penyakit liver yang kambuhan. Malam itu pula, seorang kawan lama datang ke rumah. Kawan semasa MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah) serta teman sepermainan dan seorganisasi di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Saat ini dia menjadi salah satu aktifis muda persyarikatan Muhammadiyah di tingkat cabang (kecamatan). Niatnya memang hanya untuk silaturrahim dan menengok sahabat lama yang sedang pulang kampong. Tapi, pembicaraan yang mengalir malam itu memunculkan ironi dan terasa sangat menyedihkan.&lt;br /&gt;Cerita itu bermula dari aktifitas di salah satu amal usaha Muhammadiyah, yaitu pendidikan (maklum, kawanku itu berkecimpung di dunia itu sebagai pendidik). Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah, baik secara kultural maupun sosiologis, kawanku tahu benar apa arti ber-Muhammadiyah, paham benar apa yang menjadi ideologi Muhammadiyah. Karena itu, terlihat keprihatinan yang mendalam di mata kawanku saat berbicara tentang Muhammadiyah saat ini.&lt;br /&gt;Menurutnya, gerakan Muhammadiyah di Sumberrejo terutama dan di Bojonegoro, mulai mengalami stagnansi akibat tercurahkannya energi para aktifisnya pada aktifitas politik. Celakanya, mereka semua bertindak tidak professional dengan membawa-bawa Muhammadiyah dalam kancah politik praktis (pertempuran Pilkada). Irasionalitas politik itu semakin menjadi-jadi dengan pengerahan seluruh potensi amal usaha Muhammadiyah yang ada untuk mendukung salah satu calon bupati. Lembaga pendidikan (Perguruan Muhammadiyah) bahkan harus meliburkan siswanya agar siswa tersebut mengikuti kampanye. Begitu juga dengan amal usaha yang lain seperti PKU/Rumah Sakit dan Panti Asuhan serta potensi-potensi yang ada.&lt;br /&gt;Tak pelak, hal ini memunculkan pertentangan-pertentangan serta konflik antaranggota persyarikatan. Distribusi kekuasaan dan wewenang dalam organisasi yang tidak merata (adanya dominasi beberapa orang dalam organisasi), menyebabkan pertentangan ini semakin meruncing. Sayangnya, kekuatan dominan tersebut lebih dekat kepada kepentingan politik praktis tersebut. Akibatnya bias ditebak, beberapa orang yang tidak sepakat dengan sepak terjang kelompok tersebut, harus rela tersingkir. Banyak diantara mereka yang kemudian mengambil jalur politik lain sebagai saluran politiknya, seperti Hizbut Tahrir dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Kawan saya tidak mengatakan apakah mereka yang tersingkir sudah sampai pada tahap mufaraqah terhadap Muhammadiyah atau tidak.&lt;br /&gt;Yang lebih disayangkan lagi, ternyata ada beberapa orang-orang yang menjadikan Muhammadiyah sebagai batu loncatan terhadap karier dan ambisi politik mereka. Hal yang wajar, karena kekuatan Muhammadiyah yang signifikan di Bojonegoro. Orang-orang seperti inilah, yang menurutku berbahaya sekali terhadap persyarikatan dan harus “disingkirkan” dari persyarikatan agar tidak menjadi kangker yang menggerogoti persyarikatan dari dalam.&lt;br /&gt;Tapi tidak hanya cerita sedih yang diceritakan kawan saya itu. Menurutnya, masih banyak orang-orang yang masih istiqamah dengan kemuhammadiyahan mereka. Orang yang memegang teguh pendirian dan ideologi Muhammadiyah. Orang-orang yang juga sedih melihat sepak terjang “elit lokal” Muhammadiyah dalam kancah politk dan menyeret-nyeret persyarikatan. Orang-orang yang dengan sengaja menjaga jarak dengan kekuasaan. Orang-orang yang menginginkan adanya perubahan, tetapi tidak memiliki kekuasaan untuk itu.&lt;br /&gt;Kepada kawan tersebut, aku tantang untuk melakukan gerakan “pembaharuan” dalam tubuh organisasi pembaharu yang mulai stagnan tersebut. Caranya, rangkul semua kekuatan “progressif”, orang-orang yang masih memiliki pikiran jernih dalam satu barisan. Ajak mereka secara persuasif. Aku kasih kepada kawanku salinan SK PP Muhammadiyah No 61/2008 tentang sikap Muhammadiyah terhadap Pilkada serta SK No 149/2006 tentang konsolidasi aset-aset Muhammadiyah agar terhindar dari politisasi. Kuberikan juga buku Muhammadiyah “Digugat”, agar menjadi referensi dalam penyadaran beberapa aktifis yang sudah mulai kehilangan akal sehat karena godaan kekuasaan.&lt;br /&gt;Gerakannya memang tidak perlu radikal. Yang paling penting adalah membangun kesadaran kembali para aktifis akan kewajiban dan tugas mereka dalam persyarikatan. Bila saatnya nanti, maka tiba saatnya untuk mengambil alih organisasi dan mengembalikan organisasi kepada khittah-nya semula, sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, mewujudkan masyarakat utama adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT (sesuai dengan AD/ART Muahammadiyah).&lt;br /&gt;Bila saja Kiai Ahmad Dahlan masih hidup, beliau tentu akan sedih melihat Muhammadiyah yang mulai dijadikan alat menuju kekuasaan, bukan alat untuk Fastabiqul Khairat. Masih relevan wasiat Kiai sebelum wafat: Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Bila mencari hidup di Muhammadiyah saja sudah menjadi pantangan, apalagi bila mencari kekuasaan di Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Tetapi, bukankah dengan demikian kita menjadi lebih kritis dan berpikir, Quo Vadis Muhammadiyah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-433128910666183511?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/433128910666183511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=433128910666183511&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/433128910666183511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/433128910666183511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/06/23-juni-2008.html' title='23 Juni 2008'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-5366487458019759088</id><published>2008-06-20T13:41:00.009+07:00</published><updated>2008-06-26T08:41:11.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Malu</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFtU4ZXxXQI/AAAAAAAAAFI/X8gxTJH8HKA/s1600-h/tan+malaka.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213854321471479042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFtU4ZXxXQI/AAAAAAAAAFI/X8gxTJH8HKA/s200/tan+malaka.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Seorang kawan ngirim email padaku hari ini. Isinya, bercerita tentang majalah Tempo edisi khusus 100 tahun kebangkitan nasional. Isi majalah Tempo tersebut memang secara khusus membahas 100 buku yang mewarnai perjalanan bangsa selama 100 tahun kebangkitan nasional (20 Mei 1908 - 20 Mei 2008), dan kawan tersebut merasa malu sebagai pemuda yang tidak semua karya tersebut dibaca (dan dimiliki). Malu karena ternyata belum semua daerah/wilayah Indonesia belum terjelajahi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Menurutku, ada beberapa fakta yang mungkin terlewatkan dan semestinya membuat kita lebih malu lagi sebagai generasi muda. Fakta-fakta tersebut adalah usia penulis buku tersebut saat buku tersebut terbit dan memengaruhi gerakan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Bayangkan berapa usia Tan Malaka ketika menjadi agen Komintern (Komunis Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara, saat menulis risalah Naar de Republiek Indonesie...26 tahun&lt;br /&gt;Berapa usia Bung Karno saat dipenjara di Sukamiskin dan memberikan pembelaan yang sangat terkenal "Indonesia Menggugat".. .26 tahun&lt;br /&gt;Berapa usia Chairil Anwar ketika meninggal dan meninggalkan karya monumental "Aku Ini Binatang Jalang"...26 tahun..&lt;br /&gt;Berapa usia Semaun ketika mendirikan PKI di Semarang?... 19 tahun&lt;br /&gt;Berapa usia Panglima Besar Sudirman ketika memimpin perang gerilya...28 tahun&lt;br /&gt;Berapa usia Letkol Slamet Riyadi ketika tewas di depan benteng Rotterdam akibat pemberontakan RMS...belum genap 23 tahun&lt;br /&gt;Berapa usia Soe Hok Gie saat menumbangkan Orde Lama...25 tahun&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Sementara kita ,,,di usia kita saat ini, apa yang telah kita lakukan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;untuk rakyat?&lt;br /&gt;untuk bangsa?&lt;br /&gt;untuk negara ?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Selain ikut melestarikan kekuasaan yang despot !!&lt;br /&gt;Selain ikut melumasi mesin kapitalisme yang menghisap !!&lt;br /&gt;Selain menyuburkan sistem yang menindas !!!&lt;br /&gt;Seperti kata Chairil Anwar: Hidup berarti, setelah itu mati&lt;br /&gt;Maka, seperti kata Widji Thukul : Hanya satu kata, Lawan !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-5366487458019759088?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/5366487458019759088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=5366487458019759088&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5366487458019759088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5366487458019759088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/06/malu.html' title='Malu'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFtU4ZXxXQI/AAAAAAAAAFI/X8gxTJH8HKA/s72-c/tan+malaka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-8717750620384156671</id><published>2008-06-20T10:48:00.004+07:00</published><updated>2008-12-25T04:17:04.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Dua hari di Jogjakarta (cerita perjalanan menit ke menit)</title><content type='html'>&lt;a style="font-style: italic;" href="http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFsqEaL1hhI/AAAAAAAAAFA/EZpSxjzqrjc/s1600-h/DSCN0352_resize.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213807248848291346" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 149px; height: 114px;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFsqEaL1hhI/AAAAAAAAAFA/EZpSxjzqrjc/s200/DSCN0352_resize.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pulang ke kotamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Ada setangkup haru dalam rindu&lt;br /&gt;Masih seperti dulu&lt;br /&gt;Tiap sudut menyapaku bersahabat&lt;br /&gt;Penuh selaksa makna&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(KLa Project)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota yang selalu kurindukan dan akan selalu ada dalam hatiku, Yogyakarta. Sejuta kenangan terukir disana dan kepingan itu masih tercecer di sana-sini, menunggu untuk dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah cerita kehidupan. Bahagia – sedih, suka – duka, pahit – manis, susah – senang. Ada tugas yang belum tertunaikan. Rindu pada sebentuk kehidupan yang kini mulai langka. Prasasti budaya dan alam yang senantiasa membisikkan rindu kepadaku.&lt;br /&gt;Perasaan inilah yang kembali membawaku ke Jogjakarta minggu kemarin (14 – 15 Juni 2008), sekadar untuk nostalgia dan tetirah. Tetirah dari lelah jiwa yang luar biasa, yang aku pikir hanya kematianlah yang mampu menghapus lelah ini.&lt;br /&gt;Keberangkatanku ke Jogja diiringi oleh kelelahan yang luar biasa, berharap Jogja mampu menghapusnya. Badan yang semakin sulit diajak kompromi, dengan kesehatan yang semakin menurun. Pagi sebelum berangkat, tubuh menggigil dan demam disertai dengan sedikit muntah-muntah. Tapi ternyata tarikan Jogja terlalu kuat untuk dikalahkan oleh kelemahan tubuh ini. Ya, aku curiga liverku kembali berulah.&lt;br /&gt;Keberangkatanku ke Yogya ditemani oleh bayangan celoteh dan omelan beberapa kawan terhadap kondisi Jogja belakangan ini. Yogya sudah berubah, tidak nyaman dan menyenangkan seperti dulu. Apakah Yogya tidak boleh berubah? Bukankah segala sesuatu pasti berubah. Apakah rasa nyaman harus menghalangi sebuah entitas untuk berubah? Aku akan datang sendiri untuk membuktikan ocehan kawan-kawanku, dengan mata kepala sendiri.&lt;br /&gt;Bus itu membawaku pergi dari Bandung tepat jam 19.00 dari peraduannya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The journey has begun…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;04.30 pagi…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bus itu berhenti di perempatan Kentungan, Ring Road Utara Jl. Kaliurang. Langsung udara dingin menyerang tubuhku yang memang sudah mulai kelihatan kelelahan. Bulan-bulan yang sangat dingin kupikir, karena angin musim kemarau dari gunung Merapi turun dengan ganas menyergap siapa saja yang masih terjaga pagi itu. Jalanan masih sunyi, hanya satu dua mobil yang melewati jalanan yang bila siang hari biasanya sangat padat itu. Pria paruh baya mengayuh becaknya ke arah utara sambil menawarkan jasanya padaku. Mungkin pria tersebut sudah tidak tahan dengan dinginnya udara pagi itu, dan memutuskan untuk pergi saja.&lt;br /&gt;Kupencet-pencet HP, mengabarkan kalau aku sudah tiba kepada seorang kawan. “Baik bung, 10 menit lagi”, begitu jawabnya. 10 menit, waktu yang tidak lama. Tapi di tengah udara dingin ini? Maka kuputuskan untuk menunggu sambil nongkrong di depan ATM Mandiri. 30 menit kemudian, datang juga kawanku itu. Aduh bung, 30 menit lagi kaubiarkan aku menunggu, bisa membeku aku. Ayo kita shalat…(motor itu membawaku ke masjid Blimbingsari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;06.30…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Time to breakfast&lt;/span&gt;…maka kuputuskan untuk makan gudeg di pinggir Jakal. Tempat makan yang kusukai, sambil lesehan di pinggir jalan menikmati matahari pagi di jalanan Jogja. Gudeg yang masih diolah dengan tangan-tangan tradisional mbok-mbok Jogja menawarkan kelezatan yang tidak biasa. Kali ini aku sengaja datang lebih pagi, karena pernah agak siangan dikit sudah tidak kebagian gudeg yang menurutku emang tidak kalah ma gudeg wijilan ataupun gudeg Permata yang legendaris itu.&lt;br /&gt;Ah, terasa nikmat setelah sarapan pagi, tubuh terasa lebih segar. Ah, tubuh ini masih saja menggigil. “Aku dah di kos, bro. Tak tunggu”. SMS berbunyi yang memaksaku segera beranjak dan menuju kos seorang kawan yang baru datang dari Jakarta, untuk “konsolidasi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;08.00…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kita meluncur ke plaza KPTU fakultas teknik UGM untuk bertemu kawan-kawan dari Kamase. Tanpa mandi, tanpa gosok gigi, tanpa parfum, cukup dengan cuci muka pakai air minus sabun. Wajah kelelahan masih terlihat, tapi antusiasme dan semangat tinggi menyamarkannya. Sampai disana beluma da orang. Ah, dasar orang Indonesia.&lt;br /&gt;Banyak yang berubah pada wajah KPTU Fakultas Teknik. Lantai sudah menjadi keramik, sehingga sebuah prasasti bertuliskan “Ariel Maniez, Fisika Teknik ‘00” di lantai sebelumnya telah sirna hehehe... Di sana-sini mahasiswa menenteng laptop dan browsing ke dunia maya. Sangat jauh berbeda dengan saat aku kuliah dulu. Tapi aku senang, itu artinya terjadi perubahan ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;Pertemuan dimulai. Pertemuan itu sendiri merupakan respon atas isu yang berkembang dalam organisasi Kamase tentang Kamase Care dengan Kamase di kampus. Isu lama sebenarnya, dan kita selalu mengulang dan mengulang terus permasalahan ini. Menurut saya, persoalan utamanya adalah pada masalah komunikasi antargenerasi, serta belum adanya mekanisme baku dalam organisasi (aku lebih suka menyebutnya sebagai paguyuban, karena memang sifat kekeluargaan lebih kental daripada struktur yang hierarkis dan kaku di dalamnya). Tapi tidak apa, ini kuanggap sebagai dinamika organisasi yang memang meniscayakan perubahan sebagaimana bentuk-bentuk eksistensi yang lain di ala mini. Justru bila tidak ada dinamika seperti ini malah membuat aku khawatir.&lt;br /&gt;Aku juga sangat bangga, saat organisasi yang kami rintis 7 tahun yang lalu ternyata masih tetap eksis dengan berbagai prestasi yang gemilang (salah satunya meraih penghargaan internasional Mondialogo Engineering Award). Bertahan sampai 4 generasi, suatu hal yang tidak pernah kami sangka-sangka sebelumnya, mengingat organisasi ini merupakan “organisasi tanpa bentuk”, dalam arti tanpa struktur organisasi yang baku dan sumber daya (ekonomi) yang tetap. Tetapi kami punya visi dan misi yang melampaui zamannya, setidaknya untuk ukuran mahasiswa.&lt;br /&gt;Maka dalam forum tersebut, kita sepakati beberapa hal, yaitu :&lt;br /&gt;1. Komunikasi akan semakin dibuat intensif. Kawan-kawan mahasiswa selalu memberikan laporan kegiatan kepada alumni, agar para alumni dapat mengetahui sejauhmana gerakan mahasiswa di kampus. Demikian juga alumni akan melaporkan aktifitasnya pada kawan-kawan di kampus agar kawan-kawan di kampus juga mengetahui aktifitas para alumni.&lt;br /&gt;2. Pembagian peran yang jelas antara kawan-kawan di kampus dalam organisasi alumni, sehingga ke depan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya syak wasangka tidak muncul ke permukaan. Dan alumni tidak sering-sering turun gunung menyelesaikan permasalahan (it’s okay,,,I love JogjaJ)&lt;br /&gt;3. Dalam waktu dua minggu ke depan, akan diadakan outbound untuk semakin mempererat ukhuwah antara alumni dan kawan-kawan di kampus yang terbentang jarak generasi yang lebar. Selain sebagai jembatan antargenerasi, juga untuk transfer pengetahuan, cita-cita, visi dan misi organisasi kepada generasi baru agar memiliki militansi dalam perjuangan.&lt;br /&gt;4. Akan dibuat beberapa program yang sifatnya pemberdayaan mahasiswa, untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa. Diantaranya adalah perpustakaan dan pelatihan bagi anggota Kamase. Perpustakaan ini nantinya akan berisi literatur-literatur yang tidak terdapat di kampus, tetapi benar-benar dibutuhkan dalam dunia nyata sehari-hari. Pelatihan ini lebih pada sharing pengalaman alumni dalam dunia kerja, terutama yang berkaitan dengan energy terbarukan.&lt;br /&gt;Sudah jam 11.00, saatnya pertemuan diakhiri, karena sobatku harus pulang ke Solo. Urusan keluarga (Selamat bro, aku ikut bahagia untukmu). So, perjalanan dilanjutkan menuju tempat penginapan Wisma PU di depan IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Sudah ada yang menungguku disana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Bersambung....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-8717750620384156671?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/8717750620384156671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=8717750620384156671&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/8717750620384156671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/8717750620384156671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/06/dua-hari-di-jogjakarta-cerita.html' title='Dua hari di Jogjakarta (cerita perjalanan menit ke menit)'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFsqEaL1hhI/AAAAAAAAAFA/EZpSxjzqrjc/s72-c/DSCN0352_resize.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-2098780863560395089</id><published>2008-06-18T13:21:00.006+07:00</published><updated>2008-06-18T14:37:35.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pustaka'/><title type='text'>Suluk Jalan Terabas Gus Miek</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFirCO0XELI/AAAAAAAAAE0/nXxAiQqIPB8/s1600-h/gus+miek.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213104623507148978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFirCO0XELI/AAAAAAAAAE0/nXxAiQqIPB8/s200/gus+miek.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;KH. Hamim Jazuli atau biasa dipanggil Gus Miek, adalah ulama besar dari Ploso, Kediri yang terkenal karena kenylenehannya dan "daya linuweh" yang dimilikinya. Sebagian orang mengategorikan putra ketiga KH. Ahmad Jazuli Usman ini sebagai wali Allah. Beliau terkenal dengan majlis semaan al-Quran&lt;em&gt; Dzikrul Ghafilin&lt;/em&gt; dan saat bersamaan suka keluar masuk tempat pelacuran dan diskotik. Minumannya bir hitam (kata Gus Dur), rokoknya aja Wismilak yang berat. "Mereka juga butuh untuk mengenal Tuhannya, mendapatkan kasih sayangNya, bukan hanya orang-orang yang ke Masjid saja", demikian prinsip Gus Miek ketika ditanya kenapa sering keluar masuk cafe, diskotik, dan tempat pelacuran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Ajaran-ajarannya dirumuskan dalam "dalan terabas" alias jalan singkat (&lt;em&gt;shortcut&lt;/em&gt;) menuju Tuhan. Prinsipnya yang terkenal : Jika ingin dekat dengan Allah, maka dekatilah orang-orang yang dekat denganNya. Hal ini tentu saja memunculkan polemik tentang prinsip &lt;em&gt;tawassul&lt;/em&gt; dalam ajaran agama Islam, tetapi Gus Miek sebagai orang yang menguasai ilmu agama, juga memiliki alasan yang tetap dilandaskan pada al-Quran dan Hadits. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Gus Miek, ditengah kontroversi yang melingkupi kehidupannya, tetaplah sosok yang selalu dirindukan oleh umat, tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga nonmuslim karena memang pendekatan dakwah beliau yang "tidak biasa", pendekatan kemanusiaan yang dilakukannya, dan memang demikianlah seharusnya, ulama adalah pencerah kemanusiaan (secara umum, bukan hanya untuk umat Islam). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Buku ini memuat prinsip-prinsip untuk mencapai Tuhan dengan lebih cepat, tetapi tetap dilandasi oleh Al-Quran dan Hadits, yaitu jalan &lt;em&gt;thariqat&lt;/em&gt; tanpa melupakan aspek Syari'ah dan Fiqh, serta dhawuh-dawuh (petuah) yang disampaikan Gus Miek kepada para muridnya. Dhawuh yang dalam tradisi pesantren (&lt;em&gt;ta'lim muta'alimat&lt;/em&gt;) sangat dipegang teguh oleh santri sebagai bentuk &lt;em&gt;ta'zhim&lt;/em&gt; mereka pada Kiai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-2098780863560395089?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/2098780863560395089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=2098780863560395089&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/2098780863560395089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/2098780863560395089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/06/suluk-jalan-terabas-gus-miek.html' title='Suluk Jalan Terabas Gus Miek'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFirCO0XELI/AAAAAAAAAE0/nXxAiQqIPB8/s72-c/gus+miek.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-2276342118934795705</id><published>2008-06-17T12:05:00.002+07:00</published><updated>2008-06-17T12:15:08.748+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Tidak Harus Demo Untuk Menjadi Peka</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFdHlhpCgsI/AAAAAAAAAD8/8-uvcjHXayc/s1600-h/demo.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212713803715871426" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFdHlhpCgsI/AAAAAAAAAD8/8-uvcjHXayc/s200/demo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Rakyat yang melihat para mahasiswa mungkin dalam hatinya berkata “ Biarlah kita yang bekerja dan membayar pajak untuk membiayai pendidikan mereka, para mahasiswa, karena saya yakin kelak mereka, para mahasiswa akan bekerja untuk kita, rakyat kecil”.&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Soe Hok Gie&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini, banyak sekali demonstrasi dilakukan oleh sekelompok massa terutama menyangkut isu kenaikan BBM dan harga barang. Sebagian besar dilakukan oleh kelmpok mahasiswa. Berbicara tentang aksi, entah itu aksi massa yang melibatkan demonstrasi massa besar-besaran, ataupun aksi-aksi yang lainnya, seperti aksi mogok makan, sejuta tanda tangan, dan lain-lainnya, tidak pernah bisa dilepaskan dari konteks munculnya aksi tersebut. Aksi massa (baca:demonstrasi), seringkali muncul karena adanya kebijakan penguasa yang merugikan, kebijakan yang mencoba mengintervensi ruang-ruang publik dalam rangka menancapkan hegemoni mereka atas rakyat dan memantapkan posisi mereka. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa pada akhirnya demonstrasi menjadi pilihan yang rasional karena efektifitasnya dalam menciptakan kekuatan tandingan pada kekuasaan tersebut. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kekuatan massa mahasiswa dalam gerakan ‘98 mampu menumbangkan rezim yang saat itu mustahil dijatuhkan. Dan dalam konteks sosio politik seperti itu, dimana kekuatan sipil harus berhadapan dengan kekuasaan yang korup dan lalim, demonstrasi masih menjadi modus yang relevan, bahkan efektif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Dalam konteks yang berbeda, demonstrasi harus berkompromi dengan keadaan. Seperti saat ini misalnya, dimana rakyat semakin bosan dengan aksi massa yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak membawa perubahan yang signifikan terhadap nasib mereka, bahkan mungkin pikiran lugu rakyat telah menganggap bahwa aksi yang dilakukan menyebabkan kenaikan harga, menciptakan instabilitas keamanan, yang pada akhirnya juga hilangnya rasa aman pada rakyat. Diperparah lagi dengan fobia penguasa terhadap aksi massa yang menjadikan mereka semakin represif terhadap berbagai aksi massa, perlu sebuah kreativitas dalam melakukan perlawanan, agar perlawanan tidak berhenti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Demonstrasi sebagai wujud kepekaan sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai bagian kecil dari masyarakat yang berkesadaran, yang oleh Soe Hok Gie disebut dengan happy few selected, mahasiswa dituntut untuk lebih proaktif dalam menyikapi perubahan-perubahan sosial yang terjadi disekitarnya. Perubahan sosial yang terjadi tidaklah selalu mulus dan berjalan sesuai dengan apa yang diidealisasikan, tapi terkadang mengalami deviasi yang sangat besar. Dan adalah tugas mahasiswa, sebagai elan vital bangsa ini untuk kembali meluruskan kembali hal tersebut. Dan untuk melakukan hal tersebut, diperlukan sebuah kesadaran kritis sosial, bukan sekadar kesadaran kognitif, tapi juga menyentuh pada level kesadaran afektif maupun psikomotorik. Dan inilah yang kita sebut dengan kepekaan sosial, sense of crisis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ada berbagai macam cara yang dapat digunakan untuk menyatakan keprihatinan terhadap kondisi sosial yang ada disekitar kita yang tidak sesuai dengan idealitas, tapi sekali lagi hal tersebut perlu ditempatkan pada tempatnya yang sesuai dengan konteks secara proporsional. Tidak harus dengan demo untuk merubah sebuah kebijakan publik, tapi bisa juga dengan cara lain. Untuk sebuah kebijakan yang jelas-jelas telah merugikan rakyat, seperti misalnya kenaikan harga BBM, TDL, maupun rekening telepon, aksi massa besar-besaran masih menjadi salah satu cara yang efektif untuk merubah kebijakan tersebut. Kenapa? karena kebijakan menaikkan harga BBM sangat terkait dengan kebutuhan riil rakyat yang mustahil berubah jika hanya dilakukan seminar, debat publik, atau apapun bentuk aksi yang tidak disertai dengan tekanan. Dan demonstrasi adalah pilihan yang sangat realistis dan efektif untuk tujuan jangka pendek dalam merubah kebijakan publik yang merugikan. Jelas bahwa demonstrasi adalah salah satu wujud kepekaan dan kepedulian kita terhadap realitas sosial yang timpang yang terjadi di sekitar kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Dalam konteks yang berbeda, diperlukan sebuah kreatifitas dalam melakukan aksi dan perlawanan. Seperti misalnya pada kasus penggusuran yang beberapa waktu lalu marak. Demonstrasi tidak lagi menjadi mutlak sebagai wujud kepekaan sosial, tapi mahasiswa bisa mengambil langkah lain dalam perlawanan. Misalnya terlibat aktif bersama-sama dengan LSM / NGO dalam kegiatan advokasi, bisa juga mengumpulkan bahan kebutuhan sehari-hari untuk membantu mereka yang tergusur. Justru dengan terlibat secara aktif melalui kegiatan advokasi, gerakan perlawanan bisa lebih efektif dan masyarakat tergusur lebih terbantu daripada dengan menggunakan cara demonstrasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Reformulasi Gerakan Mahasiswa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan perubahan jangka panjang yang fundamental, para aktivis tidak cukup hanya dengan mengandalkan aksi massa. Perlu dicari sebuah pola-pola gerakan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat (civic empowerment). Mahasiswa nantinya tidak hanya melakukan gerakan-gerakan yang bersifat reaktif sporadis yang hanya akan menimbulkan resistensi dari rakyat, tapi sebuah gerakan yang sistematis, terarah, kontinu dan simultan menuju perubahan. Proses penyadaran tidak harus melalui demonstrasi, tapi bisa juga dengan cara lain. Demonstrasi sebagai sebuah media untuk mencapai tujuan jangka pendek sangat efektif, tapi tidak untuk jangka panjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sebuah perubahan meniscayakan proses penyadaran yang berlangsung terus-menerus dan berlangsung dalam waktu yang tidak singkat. Proses itu tidak hanya lewat demonstrasi-demonstrasi, tapi juga melalui penguatan masyarakat sipil (civil society) dan proses demokratisasi disegala bidang, baik itu sosial, politik, ekonomi, pendidikan, maupun budaya. Media tersebut dapat berupa kelompok-kelompok kreatif mahasiswa, NGO/LSM, serta bentuk-bentuk aktifitas lain yang langsung menyentuh pada persoalan kemasyarakatan sehari-hari. Kelompok kreatif mahasiswa perlu banyak didukung dan dikembangkan. Kamase (Komunitas Mahasiswa Sentra Energy) dari Teknik Fisika UGM misalnya, setelah berhasil menjadi 10 besar dunia (major winner) dalam ajang Mondialogo Engineering Award yang diadakan UNESCO dan Daimler Chrysler (www.kamase.org), mendapatkan dana hibah untuk melaksanakan proyek pengadaan air bersih untuk masyarakat di daerah kekurangan air. Saya melihat, kelompok-kelompok sejenis tumbuh subur di UGM, tinggal bagaimana kita mengorientasikan aktiftas mereka untuk rakyat. Bukan sekadar masturbasi intelektual belaka, dan hanya menjadikan mereka sosok di menara gading kehidupan. Tapi juga sebagai intelektual organik (meminjam istilah Mansour Fakih) dan terlibat langsung dalam persoalan riil masyarakat.Di lapangan inilah para mahasiswa bisa memainkan peranan lebih banyak dari sekadar demo di jalanan. Setidaknya, melalui usaha penguatan dan pemberdayaan masyarakat, peran mahasiswa lebih terasa manfaatnya bagi rakyat tertindas. Dan mungkin ini sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Soe Hok Gie dari para mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-2276342118934795705?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/2276342118934795705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=2276342118934795705&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/2276342118934795705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/2276342118934795705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/06/tidak-harus-demo-untuk-menjadi-peka.html' title='Tidak Harus Demo Untuk Menjadi Peka'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SFdHlhpCgsI/AAAAAAAAAD8/8-uvcjHXayc/s72-c/demo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-6128733832699113857</id><published>2008-06-12T08:41:00.002+07:00</published><updated>2008-12-16T09:25:41.431+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Siapa yang merusak citra Islam?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Kalau kita padankan kata citra dengan &lt;em&gt;image&lt;/em&gt;, dalam kamus Inggris &lt;em&gt;image&lt;/em&gt; berarti &lt;em&gt;the way that people consider someone or something to be&lt;/em&gt;. Atau dengan kata lain citra adalah cara orang untuk melihat sesorang atau sesuatu itu seperti apa. Dan cara pandang itulah yang akhirnya mendefinisikan seseorang atau sesuatu itu seperti apa (&lt;em&gt;to be&lt;/em&gt;). Pada akhirnya, pencitraan itu sangat dipengaruhi oleh cara seseorang atau sesuatu tersebut menampilkan dirinya. Disini, ada dua moda bagaimana sebuah bentuk eksistensi itu dipahami. Yang pertama adalah bagaimana sebuah eksistensi menampilkan dirinya. Dan yang kedua adalah bagaimana yang lain (&lt;em&gt;the other&lt;/em&gt;/liyan) melihat dan memahami eksistensi tersebut. Dengan demikian, citra belum tentu sama dengan bentuk yang sebenarnya (&lt;em&gt;das ding an sich&lt;/em&gt;). Terlihat bahwa ada kesenjangan antara pengetahuan sejati dengan presepsi indrawi (yang kadang-kadang dicitrakan sebagai kebenaran sejati)&lt;br /&gt;Islam, sebagai salah satu bentuk eksistensi (atau bagian dari sistem tanda dalam strukturalisme de Saussure), juga terikat dalam ruang dan waktu, yang pada akhirnya menyediakan dirinya sebagai medan perebutan makna. Disinilah kemudian muncul konflik dalam menafsirkan sistem tanda (simbol) untuk melahirkan apa yang dinamakan hegemoni pengetahuan (meminjam istilah Antonio Gramschi). Islam, yang diklaim bersumber dari kebenaran wahyu, dalam penafsirannya tidak pernah tunggal. Tafsir tunggal hanya terjadi pada zaman Rasulullah Muhammad SAW. Kembali, teks-teks suci menjadi medan perebutan makna. Apakah kemudian mau ditafsirkan secara politis, sosiologis, antropologis, filosofis-hermeneutis, tentu saja sangat bergantung kepada penafsir dan kepentingan serta latar belakangnya (sosial budaya dan politik/lokalitas). Dalam prosesnya tidak jarang muncul ketegangan-ketegangan. Pencatutan ayat suci Al-Quran dalamkampanye serta kecenderungan-kecenderungan penggunaan ayat suci untuk legitimasi perbuatan adalah salah satu kecenderungan itu.&lt;br /&gt;Kalau kita yakini, Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh semesta alam. Tuhan (Tauhid), sebagai pusat dari sistem keyakinan ini digambarkan Maha Segala-galanya, tetapi yang sangat dominan adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Kasih Sayang-Nya melampaui kemurkaan-Nya. Sifat yang sangat feminin tentunya. Sifat Tuhan yang demikian agung dan transenden tersebut beremanasi dalam ajaran-ajaranNya yang antroposentris (untuk siapa Al-Qur’an diturunkan? Untuk Tuhan?). Bahwa kemudian perbuatan manusia akan selalu kembali kepada manusia sendiri, itulah dictum pokoknya. Untung rugi yang digambarkan dalam terminologi pahala-dosa sebenarnya juga akan kembali kepada manusia, bukan untuk Tuhan. Tanpa disembah-pun, Tuhan tidak kehilangan ke-Maha Besar-anNya. Manusia berbuat dosa dan kerusakan-pun Tuhan tidak kehilangan Kekuasaan-Nya. Dan bukankah Al-Qur’an hanya sebagai Al-Furqan (pembeda) dan Adz-Dzikr/pengingat (ingat,,pengingat,,itu berarti bahwa manusia sudah memiliki pengetahuan a priori tentang baik dan buruk). Dan tidak ada paksaan dalam beragama (&lt;em&gt;Laa Ikraha fi ad-dien&lt;/em&gt;). Dan tidaklah diutus Rasul Muhammad kecuali hanya sekadar menyampaikan dan mengingatkan. Maka tindakan kekerasan atas nama agama, apalagi atas nama Tuhan, tidak pernah dibenarkan. Tuhan tidak perlu dibela, demikian kata Gus Dur&lt;br /&gt;Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Maka Islam memerintahkan ‘amar ma’ruf nahi munkar. Maka Islam memerintahkan beramal sholeh (setiap kata dalam al-Quran setelah beriman selalu diikuti amal sholeh/’amanu billahi wa ‘amalan shalihan). Apakah amal sholeh itu, yaitu semua perbuatan yang menurut Al-Quran dan nurani adalah baik, seperti birrul walidain (berbakti pada orang tua), menyantuni anak yatim, zakat untuk mustahiq, bekerja dan berjihad, berkurban, serta masih banyak jenis perbuatan lain yang tidak dijelaskan eksplisit asalkan diniatkan karena Allah semata maka menjadi amal sholeh.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana bila seseorang berbuat dosa/maksiat? Yang pertama, biarlah itu menjadi urusan Tuhan dengan si pembuat dosa, Biar Tuhan yang memperhitungkan kelak di yaumul hisab. Yang kedua, dalam konteks hidup bermasyarakat dan bernegara, biarlah negara (yang diwakili pemerintah) mengambil tindakan terhadap pembuat dosa tersebut. Apa kategori dosa dalam konteks ini? Yaitu perbuatan yang memiliki potensi merusak keutuhan dan keharmonisan masyarakat, yang diatur dalam Undang-undang. Jadi sudah ada aturannya, termasuk siapa yang berwenang menindak pelanggaran UU tersebut. Persoalan apakah kemudian aparat yang berwenang berat sebalah atau tidak tegas harus dipisahkan dari kaidah/prinsip kita bernegara dan berbangsa.&lt;br /&gt;Dalam ber- ‘amar ma’ruf nahi munkar juga ada prinsipnya. Bila kita punya kekuasaan (yang diatur dan didelegasikan oleh UU), maka kita berkewajiban. Bila tidak mampu, dengan lisan. Dan bila masih tidak mampu, maka dengan doa dalam hati (selemah-lemah iman). Dan bermusyawarahlah kalian dalam segala urusan, demikian sabda Nabi. Jadi, menurutku, kekerasan bukanlah watak asli Islam. Kekerasan hanya diijinkan apabila rumah/tanah air/wilayah kita diserang oleh musuh dan kita terusir. Wala taqtulun nafsa al-lati harrama Allahu illa bi al-haq, jangan membunuh manusia tanpa hak (hak mematikan hanya milik Allah). Kekerasan/perang, kata Gus Dur lagi, hanya diijinkan apabila umat Islam dalam kondisi terusir (dari wilayahnya/&lt;em&gt;baldat&lt;/em&gt; bukan &lt;em&gt;daulat&lt;/em&gt;) dan tidak dapat melaksanakan kewajiban agamanya. Kekerasan/perang hanya diwajibkan untuk membela diri dan kemanusiaan. Jadi Islam memang mengenal kekerasan, tapi tidak sama dan identik dengan kekerasan. Demikianlah Islam yang kupahami (kucitrakan) sebagai Islam rahmatan lil ’alamin.&lt;br /&gt;FPI sebagai bagian dari kelompok (ummah) Islam menggunakan pendekatan kekerasan dalam gerakan ‘amar ma’ruf nahi munkar. Pendekatan inilah yang saya kira merusak ajaran Islam sebagai &lt;em&gt;rahamatan lil ‘alamin&lt;/em&gt;. Ajaran luhur Islam ditampilkan dengan wajah yang sangar, sadis, dan kejam, tanpa mengindahkan tata aturan yang berlaku di negara. Maka yang tampak oleh orang awam, atau katakanlah yang belum mengetahui ajaran Islam sebenarnya, melihat dan menyimpulkan ajaran Islam adalah ajaran yang sarat dengan kekerasan, dan melakukan pendekatan kekerasan dalam penyelesaian masalah. Bagi orang yang sudah memahami ajaran Islam, tentu akan kecewa karena citra agamanya dirusak sedemikian rupa.&lt;br /&gt;Ahamdiyah, yang saya tahu juga tidak tunggal. Dua kelompok besar yang saya ketahui, yaitu Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore memiliki pendapat berbeda tentang kenabian. Bila kemudian benar bahwa sesudah Nabi Muhammad ada Nabi lagi (yaitu Mirza Ghulam Ahmad), maka jelas bahwa dalam dirinya sendiri Ahmadiyah sudah keluar dari kelompok Islam yang bertauhid La Ilaha illa Allah, Muhammad ar Rasulullah. Bagaimana penyelesaiannya? Yang pertama, biarkan umat Islam sendiri yang menyelesaikan melalui “institusi” yang ada (perlu dicatat bahwa umat Islam tidak mengenal lembaga/institusi keagamaan otoritatif semisal ke-Paus-an seperti dalam Katholik Roma). “Institusi” tersebut, yaitu menurut saya adalah edukasi/pendidikan pada masyarakat melalui pemahaman yang benar tentang Islam. Disini, peran ulama/kyai sangat penting. Yang kedua adalah melalui proses hukum dengan delik penodaan agama. Dengan penempelan embel-embel Islam pada Ahmadiyah, kelompok (ummat) Islam yang merasa tersakiti dengan hal tersebut, dapat mengajukan gugatan atau tuntutan kepada pengadilan, apabila mau persoalan ini dibawa ke ranah pidana penistaan agama. Disini, pemerintah dan kepolisian harus bertindak cepat dengan merespon tuntutan tersebut agar tidak mengarah kepada tindakan anarkis. Menurut seorang kawan yang kebetulan sarjana hukum, peristiwa kekerasan ini terjadi karena pemerintah dan kepolisian lambat dalam merespon kegelisahan masyarakat. Katanya lagi, tidak diperlukan prosedur tertentu untuk delik penodaan/penistaan agama sebagaimana kita mau mendaftarkan gugatan perkara ke pengadilan.&lt;br /&gt;Tetapi di sisi lain, dalam gerakannya Ahmadiyah justru menggunakan pendekatan nonkekerasan. Mereka banyak terlibat dalam gerakan sosial, ekonomi, dan pendidikan. PIRI (Persatuan Islam Republik Indonesia) telah memiliki banyak sekolah mulai dari SD sampai SMA, bahkan memiliki beberapa pendidikan tinggi untuk ikut dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka juga terlibat aktif dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di Bogor, aktifitas bersama warga setempat dengan aktifis Ahmadiyah justru menunjukkan sebuah hubungan yang harmonis, yang membuktikan bahwa perbedaan “ideologi” bukan penghalang dalam hidup bersosial. Meskipun, menurut saya pribadi, mereka telah keluar dari Islam, tetapi justru dalam aktifitas sehari-hari mampu menampilkan citra diri sebagai rahmatan lil ‘alamin.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam bi ash-shawab&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-6128733832699113857?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/6128733832699113857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=6128733832699113857&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/6128733832699113857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/6128733832699113857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/06/siapa-yang-merusak-citra-islam.html' title='Siapa yang merusak citra Islam?'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-6524160910046271975</id><published>2008-06-09T19:24:00.001+07:00</published><updated>2008-06-09T19:41:28.929+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Arsitektur Nusantara dan Penemuan kembali kebudayaan kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SE0kwf7XIxI/AAAAAAAAAC8/UR1-hQlFLis/s1600-h/me+n+Prof.+Yosef.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SE0kwf7XIxI/AAAAAAAAAC8/UR1-hQlFLis/s200/me+n+Prof.+Yosef.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209860759560332050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pertama kali mengenal Prof. Eko Budihardjo justru bukan sebagai seorang arsitek, tapi sebagai seorang sastrawan, terutama melalui puisi-puisi karyanya, bersama-sama Sapardi Joko Damono, Abdul Hadi WM, Taufik Ismail, dan Sutardji Cholzum Bachri. Belakangan, saya mengenal Eko Budihardjo juga sebagai ahli tata ruang dan perencanaan kota serta seorang arsitek yang juga rektor Undip. Beberapa bukunya tentang kota di Indonesia belakangan turut menghiasi lemari buku dan menambah khasanah pemikiranku, bagaimana seharusnya sebuah kota berkembang dan hidup. Sosok yang sangat idealis, dan pemikirannya yang menempatkan manusia sebagai episentrum perencanaan dan pembangunan mengingatkanku pada Soedjatmoko, intelektual merdeka Indonesia yang berkaliber dunia serta rektor pertama Universitas PBB di Tokyo.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sementara Prof. Josef Prijotomo (foto kanan), pertama kali mengenalnya dari media (Kompas), yang saat itu mengupas tentang bukunya tentang arsitektur rumah Joglo (rumah Jawa). Guru besar arsitektur ITS ini mengampanyekan tentang perlunya pemahaman yang komprehensif serta kearifan rumah Joglo, serta bagaimana hitungan-hitungan Jawa (petungan) memiliki makna kosmologis dalam masyarakat Jawa sekaligus sebagai simbolisasi dari harmonisasi dengan makrokosmos. Bukunya saat itu (kalau tidak salah, saat aku semester akhir kuliah) benar-benar menarik perhatianku. Meskipun aku sudah berusaha mencarinya (saat itu) tetapi aku belum bisa menemukannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Itulah pertemuan intelektual singkatku dengan dua &lt;i style=""&gt;maestro&lt;/i&gt; tersebut. Puji Tuhan, akhirnya kesempatan untuk bertatap muka dan bicara secara langsung dengan dua &lt;i style=""&gt;maestro&lt;/i&gt; tersebut kesampaian. Kembali, dalam seminar nasional tentang Arsitektur Tradisional. Selain mereka berdua, hadir pula DR. Djauhari (Pusat Dokumentasi Arsitektur), Prof. Yuswadi Salya (ITB), Prof Ananto Yudono (Unhas Makasar), Prof. Yulianto Sumalyo (UI-Jakarta). Tanpa mengesampingkan profesor yang lain, bagiku ide segar dan menarik datang dari Eko Budiharjo dan Josef Prijotomo, karena memberikan tantangan dan pertanyaan yang sifatnya sangat mendasar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Eko Budihardjo, dalam ceramahnya menggugat peran arsitektur yang memiliki peran dalam “menghancurkan” arsitektur di Indonesia yang cenderung men-&lt;i style=""&gt;dehumanize&lt;/i&gt; masyarakat Indonesia dan meng-alienasi masyarakat dari akar budaya. Menurutnya, dalam merancang, para arsitek tidak punya “idealisme” dalam membangun, dan merancang hanya untuk duit dan sesuai pesanan. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Form follows fulus&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, katanya. Hal ini pula yang banyak disampaikan dalam buku-bukunya, dimana arsitek hanya cenderung merancang memenuhi kepentingan kaum kapitalis birokrat yang menekankan pada aspek pertumbuhan ekonomi (baca: akumulasi kapital). Manusia hanya menjadi aspek sekunder atau bahkan tidak masuk variabel dalam perancangan. Alienasi, kriminalitas, kesenjangan, adalah buah perencanaan yang tidak mengindahkan faktor manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Hal inilah, menurutnya penyebab arsitektur tradisional dipandang sebelah mata. Semuanya dilihat dari kacamata untung-rugi, dan bukan fungsionalitas sebagai produk budaya masyarakat. Akhirnya, ruang tidak lagi dipahami dalam konteks budaya tetapi sebagai satuan fungsi ekonomi (ah, di zaman kapitalis seperti ini apa sih yang tidak di komersialkan. Ruang yang sangat privat-pun/seks di kapitalisasi, apalagi hanya rumah). Nilai-nilai budaya dalam arsitektur tradisional-pun lenyap bak di telan bumi terhisap dalam gelombang keserakahan kapitalisme. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bagaimana memulainya, itulah pertanyaan yang perlu diajukan pada Prof. Eko Budihardjo. Jawaban atas pertanyaan ini tidak mudah, mengingat struktur ekonomi dan budaya kita yang memang sudah ter-hegemoni oleh pandangan kapitalis yang serba massif. Apakah harus dimulai dari para arsitek? Memang, menurut saya arsitek perlu memiliki idealisme tentang bentuk-bentuk yang menempatkan manusia sebagai pusat kosmologis perancangan. Tetapi hal itu tidak mudah, karena asitektur bekerja sesuai dengan kebutuhan. Lantas, apakah kebutuhan hanya dibatasi pada kebutuhan ekonomi saja? Apakah kebutuhan budaya tidak merupakan kebutuhan. Ini tentu saja akan berbenturan dengan pemahaman terhadap ruang itu sendiri. Selama ruang dipahami sebagai satuan fungsi ekonomi, maka selama itu pula arsitek akan bekerja untuk kepentingan ekonomi. Maka, yang paling masuk akal adalah pengembangan arsitektur tradisional di wilayah rural, dimana ruang masih dipahami secara tradisional. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Maka Prof. Josef Prijotomo memberikan pandangan yang menarik, bagaimana seorang arsitek seharusnya bekerja. Menurutnya, perlu perubahan paradigma (&lt;i style=""&gt;weltanschauung&lt;/i&gt;) atau sudut pandang yang radikal, yaitu menempatkan arsitektur tradisional (Josef lebih suka menggunakan istilah arsitektur nusantara) sebagai “&lt;i style=""&gt;the other&lt;/i&gt;/liyan” (meminjam istilah Jean P. Sartre) dari arsitektur Barat. Menurutnya, corak dan karakter arsitektur tradisonal sangat berbeda jauh dengan arsitektur Barat, akibat perbedaan iklim dan musim. Arsitektur tradisional sebagai pernaungan, sedangkan asitektur Barat sebagai lindungan. Dua hal yang berbeda, ibarat pohon kelapa dan pohon cemara,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak bisa dibandingkan, hanya bisa disandingkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Satu hal yang menjadi keprihatinan Josef adalah sudah 50 tahun lebih sekolah arsitektur, tapi hanya sedikit yang membahas tentang arsitektur tradisional. Itupun hanya mata kuliah arsitektur tradisional dengan literature yang sangat minim. Hanya ada satu buku yang dijadikan acuan, yaitu Sejarah Arsitektur Tradisional karangan DR. Djauhari. Tentu saja ini hal yang ironis, ketika arsitektur tradisional masih belum dianggap sebagai karya arsitektur dalam kacamata arsitektur Barat. Yang harus diingat, Barat bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan arsitetur di dunia. Karena itu, perlu perubahan yang radikal terhadap pandangan arsitektur di Indonesia, terutama berkaitan dengan arsitektur tradisional. Bahkan, mengutip Romo Mangun, semestinya kita tidak perlu memakai istilah arsitektur (yang bikinan Barat itu), tetapi istilah yang benar-benar khas nusantara, yaitu Wastu Citra. Itulah, ketika kekuasaan pengetahuan menjadi hegemoni Barat, dan kita benar-benar belum bisa lepas dari pandangan Barat sepenuhnya. (Kita masih terjajah dalam pengetahuan).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Yang menarik lagi adalah perlunya pengetahuan antropologis dalam disiplin ilmu arsitektur. Ini sejalan dengan apa yang digaungkan oleh Eko Budihardjo, bahwa manusia dan seluruh aktifitasnya adalah sumber perencanaan. Objek kajian antropologi, yaitu manusia dan kebudayaannya, semestinya menjadi bahan pertimbangan utama dalam perencanaan arsitektur (atau &lt;i style=""&gt;wastu citra&lt;/i&gt;) agar kebudayaan manusia tetap mengambil jalan yang kontinu, tidak terpotong. Sehingga proses dehumanisasi dan alienasi dapat direduksi atau dicegah. Dan inilah yang seharusnya membedakannya dengan arsitektur Barat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Maka pertanyaannya adalah, manusia dan kebutuhannya senantiasa berubah. Apakah dengan perubahan manusia dan kebutuhannya tersebut, tidak memengaruhi pola hunian yang berarti akan memengaruhi pola arsitektural hunian. Apakah dengan konsep dasar arsitektur tradisional mampu mengakomodasi kebutuhan manusia yang tiap waktu bertambah dan kompleks?. Atau kita perlu mendefinisikan ulang (&lt;i style=""&gt;redefinition&lt;/i&gt;) apa itu wastu citra? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Persoalan kedua, apabila memang perlu adanya kuliah arsitektur tradisonal dalam sekolah arsitektur, sejauh mana persiapan tersebut. Sepengetahuanku, sebelum (Alm) Prof. Koesnadi mengawali kuliah hukum lingkungan, beliau perlu mennyiapkan bahan ajar kuliah hukum lingkungan, dan menyiapkannya butuh waktu bertahun-tahun. Memang akhirnya berhasil, dan salah satu faktor akselerasinya adalah jabatan Prof., Koesnadi di Dirjen Dikti saat itu. Tetapi untuk Arsitektur Tradisional? Dalam pembicaraan dengan Prof. Yuswadi Salya di bandara, saya menangkap nada pesimis dari beliau tentang proyek ini. Untuk buku ajar sendiri, sebenarnya sedang disusun tapi terhenti di tengah jalan. Salah satunya adalah kendala dana, kebijakan buku yang tidak kondusif, serta dukungan yang kurang. Para penulis sendiri, seperti Prof. Yosef P, Prof. Eko Budihardjo, dkk sudah menyiapkan dan mengumpulkan bahan tersebut. Sangat disayangkan bila proyek tersebut gagal, mengingat para penulis dan orang-orang yang konsen dengan arsitektur tradisional mulai uzur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Persoalan selanjutnya adalah konservasi arsitektur tradisional. Selama ini, upaya konservasi hanya pada dokumentasi dan program konservasi lain seperti museum, kawasan konservasi, dsb. Belum ada upaya yang lebih menyentuh substansi konservasi. Hanya beberapa bagian di Indonesia saja yang memertahankan tradisi dengan arsitektur tradisional, seperti Tana Toraja misalnya. Rumah Joglo di Kota Gede Jogja banyak yang berpindah tangan ke pemilik asing. Bahka, dalam kunjungan saya ke benteng Somba Opu kemarin terdapat salah satu rumah tradisional yang dimiliki oleh orang Jerman. Bagaimana rumah tradisional dapat membuat penghuninya memiliki ikatan batin, emosional, dan budaya dengan ruang yang ditempatinya, disitulah menurutku konservasi seharusnya dilakukan. Jadi, bukan sekadar benda museum. Mekipun demikian, langkah DR. Djauhari dengan Pusat Dokuentasi Arsitekturnya perlu mendapat apresiasi dan harus terus dikembangkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Jika dulu Bung Karno pernah berpidato “Penemuan kembali revolusi kita” yang akhirnya jadi Manifesto Politik yang juga akhirnya menjadi Garis Besar Haluan Negara (GBHN), maka terbersit ide dalam pikiran : “Penemuan kembali kebudayaan kita”. Mumpung masih dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Lihatlah berapa banyak obat tradisional kita menjadi darah dan daging dalam tubuh kita. Dokter lebih percaya dengan obat kimia dari Barat serta metode dari Barat daripada kearifan bangsa dalam memandang tubuh sebagai satu kesatuan dengan prinsip keseimbangan yang paripurna. Atau berapa banyak diantara kita yang bangga dengan kebudayaan kita. Saya percaya, kebudayaan kita adalah kebudayaan adiluhung, pengetahuan kita adalah pengetahuan yang tidak kalah dari bangsa Barat, yang mampu mengantarkan bangsa kita menjadi bangsa yang unggul (&lt;i style=""&gt;khaira ummah&lt;/i&gt;). Kritik Mochtar Lubis dalam orasi kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki 3 (tiga) dekade yang lalu masih tetap relevan dan perlu sebagai cermin diri. Melepaskan diri dari paradigma deterministik Newtonian menuju paradigma holistik, sebagaimana dimiliki oleh kebudayaan dan pengetahuan (&lt;i style=""&gt;local indigenous&lt;/i&gt;) kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dominasi Belanda dan kebudayaannya selama 3 (tiga) abad lebih telah membangun watak inlander dalam diri kita. Sebuah kesadaran yang tertanam jauh dalam alam bawah sadar kita. Maka saatnya bangkit dengan Penemuan Kembali Kebudayaan Kita. Jika Eropa mampu bangkit dari kegelapannya dengan semangat penemuan kembali kebudayaan dan pengetahuan Yunani kuno (&lt;i style=""&gt;renaissance&lt;/i&gt;), saya percaya kita mampu melakukan hal serupa. Jika Eropa mampu menyingkirkan mitos dan menciptakan masyarakat ilmu, kita bisa juga melakukannya (menurut Kuntowijoyo, kita masih ada di tahapan masyarakat ideologi, belum masyarakat ilmu). Penemuan Kembali Kebudayaan Kita akan menjadi lentera dan panduan dalam kebangkitan nasional menuju bangsa yang jaya. Sekarang tinggal kemauan kita. Bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-6524160910046271975?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/6524160910046271975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=6524160910046271975&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/6524160910046271975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/6524160910046271975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/06/arsitektur-nusantara-dan-penemuan.html' title='Arsitektur Nusantara dan Penemuan kembali kebudayaan kita'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SE0kwf7XIxI/AAAAAAAAAC8/UR1-hQlFLis/s72-c/me+n+Prof.+Yosef.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-8418431438247548671</id><published>2008-05-31T12:38:00.004+07:00</published><updated>2008-12-16T12:00:09.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Tentang Kematian</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SED_F5J8WLI/AAAAAAAAACE/HygRtrzquks/s1600-h/semeru.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SED-6pJ8WKI/AAAAAAAAAB8/YsZWsQ8EdDY/s1600-h/death.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206441452673718434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SED-6pJ8WKI/AAAAAAAAAB8/YsZWsQ8EdDY/s200/death.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Belakangan ini aku selalu berpikir tentang kematian. Apakah karena kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita tetapi kita hanya tidak pernah menyadari kehadirannya. Dan saatnya sekarang aku manyadarinyaSetiap detik dan waktu aku merasa kematian begitu dekat denganku. Saat naik angkot, terlintas dalam pikiran angkot yang kunaiki mengalami kecelakaan. Saat naik motor, terbayang menabrak sesuatu yang merenggut nyawaku.&lt;br /&gt;Aku bukan orang yang beriman yang selalu merindukan kematian. Tetapi terkadang aku ingin kematian segera datang menghampiriku dan membawaku pergi dari kesia-siaan hidup. Mungkin ini karena ketidakstabilan jiwaku. Atau jangan-jangan kematian memang sudah menantiku, dan berharap aku menyapa dan menerima ajakannya (Siapa aku?, hehehe). Tapi mungkin saat dia menyapa dan memaksaku ikut dengannya, aku mungkin takkan siap. ”Apakah kamu tidak merindukan-Nya”, tanya sang kematian. ”Apakah Dia merindukanku?”....&lt;br /&gt;Kematian menghapuskan semuanya, termasuk penderitaan. Kematian membawa pertemuan, bahkan yang dulu bermusuhan, meskipun pertemuan itu terjadi di pekuburan. Kematian pula yang akan mengantarkan air mata terkasih ke tanah yang masih basah oleh bau wewangian. Kematian pula yang mengkahiri kehidupan sekaligus mengawali kehidupan yang baru. Yang senantiasa menderita (di dunia), berharaplah pada kehidupan baru yang lebih indah dan bahagia.&lt;br /&gt;Sebagaimana kehidupan, kita tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan. Memilih menjadi anak siapa, bangsa apa, dan menjadi apa. Begitu juga kematian. Kita tidak bisa memilih cara kita mati. Tapi seandainya aku diijinkan oleh Tuhan untuk memilih bagaimana aku harus mati, maka Tuhan ijinkanlah aku mati dengan cara-cara seperti ini:&lt;br /&gt;1. Aku ingin mati dalam pelukan sang alam. Aku ingin mengulangi sejarah yang dialami oleh Soe Hok Gie ketika harus menerima kematian di puncak Semeru. Alam, begitu agung. Dalam pelukan keagungan sang alam, mungkin kematianku akan menjadi sangat agung dan sangat indah, lebih indah dari larik puisi sang kala. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SED_SpJ8WMI/AAAAAAAAACM/VnUAZ8S86cs/s1600-h/semeru.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206441864990578882" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SED_SpJ8WMI/AAAAAAAAACM/VnUAZ8S86cs/s200/semeru.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. Aku ingin mati sebagai martir yang membela kepentingan rakyat tertindas. Aku kembali ingin mengulang sejarah Arif Rahman Hakim atau Elang yang tewas tertembus peluru aparat komprador penindas. Lihatlah, darah suci telah membasahi tanah pertiwi, dan mati dalam pelukan Sang Ibu terasa sangat khidmat kudus, dan sahdu.&lt;br /&gt;3. Aku ingin mati saat aku sedang bersujud kepadaMu wahai Kekasih, bersujud mencium Kaki-Mu yang Maha Suci. Bersujud alam keheningan malam. Bersujud di tempat yang Kau sucikan.&lt;br /&gt;Tetapi aku tahu bahwa aku tidak diberi hak untuk memilih bagaimana aku harus mati. Karena itu sebelum waktuku tiba, kadang aku berpikir banyak hal yang harus kulakukan. Hal-hal yang belum pernah kulakukan atau sudah lama sekali tidak kulakukan. Sebelum tiba sesal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-8418431438247548671?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/8418431438247548671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=8418431438247548671&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/8418431438247548671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/8418431438247548671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/05/tentang-kematian.html' title='Tentang Kematian'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SED-6pJ8WKI/AAAAAAAAAB8/YsZWsQ8EdDY/s72-c/death.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-2114250565264960882</id><published>2008-05-29T11:56:00.003+07:00</published><updated>2008-05-29T13:34:36.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik dan Lirik'/><title type='text'>Tombo Ati</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD4_6pJ8WFI/AAAAAAAAABU/nHntTPWtv-M/s1600-h/kyai.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205668495999391826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD4_6pJ8WFI/AAAAAAAAABU/nHntTPWtv-M/s200/kyai.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD4_lJJ8WEI/AAAAAAAAABM/QAMb3ncDu5E/s1600-h/kyai.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;100 tahun kebangkitan nasional, bangsa ini tak pernah berhenti menjadi.&lt;br /&gt;Riak-riak kecil dan besar mengiringi langkah bangsa menuju kemerdekaan dan kebebasan sejati. Kebebasan dari penderitaan, penjajahan, penindasan, penjarahan, pemerkosaan, penghisapan, baik oleh bangsa sendiri maupun bangsa asing, baik lewat intervensi langsung maupun cengkeraman VOC-VOC baru.&lt;br /&gt;Kemiskinan, kemelaratan, kebodohan, masih akrab ditengah-tengah masyarakat kita. Kriminalitas, kerusuhan, katarsis sosial dan psikologis yang berujung pada anarkisme, seperti menyembunyikan wajah asli bangsa yang santun dan lemah lembut.&lt;br /&gt;Yang lain lebih memilih menekuri nasibnya yang dari hari ke hari semakin sengsara, dan pasrah. Sebagian lebih memilih kematian sebagai cara mengakhiri penderitaan.&lt;br /&gt;10 tahun reformasi, bangsa ini tak pernah berhenti menjadi&lt;br /&gt;Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.&lt;br /&gt;Di pojok kampung antri sembako dan minyak tanah, di lantai mall ada antrian ayat-ayat cinta.&lt;br /&gt;Di pinggir jalan dan jembatan orang beringsut memohon belas kasihan untuk seribu rupiah, bahkan lima ratus rupiah, di sana, di atas lantai dansa orang-orang sibuk berdansa-dansi memuaskan hasrat.&lt;br /&gt;Di sana, satu kampung makan nasi aking. Disini, uang dibuang-buang untuk McDonald dan kawan-kawannya.&lt;br /&gt;Inikah wajah kemajuan kita? Inikah wajah bangsa kita? Yah,,bangsa kita tidak pernah menjadi, tapi memang benar-benar masyarakat imagi.&lt;br /&gt;Mari, kawan-kawan, kita rileks sesaat dan merenungkannya sambil mendengarkan apa yang disampaikan Kyai Kanjeng dalam Tombo Ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan&lt;br /&gt;kepada engkau yang menangis dalam batin karena dikalahkan,&lt;br /&gt;karena disingkirkan diusir ditinggalkan&lt;br /&gt;atau karena sangat sangat susah untuk bertemu yang namanya keadilan&lt;br /&gt;aku ingin bertamu ke lubuk hatimu saudara-saudaraku&lt;br /&gt;untuk mengajakmu istirah sejenak&lt;br /&gt;mengendapkan hati dan bernyanyi&lt;br /&gt;mengendapkan hati dan bernyanyi&lt;br /&gt;saudara-saudaraku sesama orang kecil di pinggir jalan&lt;br /&gt;sedulur-sedulurku di dusun-dusun,&lt;br /&gt;di kampung-kampung perkotaan,&lt;br /&gt;karib-karibku di gang-gang kotor,&lt;br /&gt;di gubuk-gubuk tepi sungai yang darurat&lt;br /&gt;atau mungkin saudara-saudaraku di rumah-rumah besar&lt;br /&gt;atau di kantor-kantor mewah namun memendam semacam keperihan diam-diam&lt;br /&gt;aku ajak engkau semua sahabat-sahabatku,&lt;br /&gt;saudara-saudaraku untuk menarik nafas sejenak&lt;br /&gt;untuk bersandar&lt;br /&gt;atau membaringkan badan&lt;br /&gt;kuajak engkau menjernihkan pikiran&lt;br /&gt;untuk menata hati, menemukan kesalahan-kesalahan kita&lt;br /&gt;untuk tidak kita ulangi lagi&lt;br /&gt;atau meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali&lt;br /&gt;ayolah saudara-saudaraku...&lt;br /&gt;Rileks....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;Tombo ati iku ono lima perkoro&lt;br /&gt;kaping pisan...&lt;br /&gt;moco qur'an sak maknane&lt;br /&gt;kaping pindo...&lt;br /&gt;shalat wengi lakonono&lt;br /&gt;kaping telu...&lt;br /&gt;wong kang sholeh kumpulono&lt;br /&gt;kaping papat...&lt;br /&gt;weteng siro ingkang luwe&lt;br /&gt;kaping limo...&lt;br /&gt;dzikir wengi ingkang suwe&lt;br /&gt;salah sawijine sopo biso ngelakoni&lt;br /&gt;insya Allah Gusti Pengeran Ngijabahi....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-2114250565264960882?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/2114250565264960882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=2114250565264960882&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/2114250565264960882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/2114250565264960882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/05/tombo-ati.html' title='Tombo Ati'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD4_6pJ8WFI/AAAAAAAAABU/nHntTPWtv-M/s72-c/kyai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-3032477670928625152</id><published>2008-05-27T10:54:00.005+07:00</published><updated>2008-06-09T20:08:18.589+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Jakarta, Mei 2008</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5GIJJ8WII/AAAAAAAAABs/p6iJgBx8qEg/s1600-h/staadhuisBatavia1750.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205675324997392514" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5GIJJ8WII/AAAAAAAAABs/p6iJgBx8qEg/s320/staadhuisBatavia1750.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekian lama tidak ke Jakarta di akhir pekan, membuatku merasa ingin sedikit bernostalgia dengan Jakarta (huek…). Dan masih sama, selalu panas, penuh sesak dengan jejalan manusia dengan urusannya masing-masing. Ga peduli kiri kanan, “This is my world”, mungkin kayak gitu kira-kira apa yang mereka pikirkan. Larut dan tenggelam dalam alam pikiran masing-masing sambil bergegas mempercepat langkah.&lt;br /&gt;Jakarta, masih menampakkan wajah angkuh dan sangarnya, siap menerkam pendatang yang tidak berbekal apa-apa. Banyak gedung baru akan, sedang, dan baru selesai dibangun. Di Cawang, di MT Haryono (maaf..hanya rute itu yang selalu kulewati saat ke Jakarta) ada gedung megah baru berdiri. Jakarta, masih menjadi tujuan manusia kurang beruntung merajut mimpi, yang pada akhirnya ditelan mimpi buruk tanpa bisa bangun lagi. Hirup pikuk masih, seolah lupa (ah, bangsa ini memang mudah terkena amnesia) dan seolah-olah luka yang terjadi persis 10 tahun lalu itu tidak memengaruhi kesombongan Jakarta. Mungkin memang Jakarta terlalu besar hanya untuk digores puluhan bahkan ratusan nyawa yang melayang. “Setiap revolusi selalu memakan anak kandungnya sendiri”, mungkin itu pembelaan pemilik nama lama Batavia ini.&lt;br /&gt;Diatas bus, seorang kakek dengan baju compang-camping masuk sambil membawa gendang. Matanya sudah rusak sebelah, lengan kanannya bengkok (mungkin pernah patah dan tidak punya biaya untuk berobat, akhirnya cacat seumur hidup), kulit hitam legam terbakar panasnya Jakarta, dan tubuh kotor penuh debu asap kendaraan Jakarta yang tiap hari bikin semrawut Jakarta. Hanya suara terbata-bata ah…ah…ah… saja yang keluar dari mulutnya (sepertinya memang gagu), tangan mulai memainkan gendang. Suara dan gerakannya menimbulkan rasa iba dan memunculkan kegelisahan, alangkah banyaknya orang kurang beruntung di Jakarta ini. Dan sepertinya tiap orang sibuk dengan urusan masing-masing, dan lupa (ah,,,amnesia lagi) bahwa sang kakek juga manusia (bukankah esensi manusia itu tunggal?). Kukeluarkan uang seribu (maaf kek, saat itu aku cuman memberi segitu) untuk rasa iba itu.&lt;br /&gt;Ya,,,itulah tiap ke Jakarta ada perasaan keterasingan di tengah jutaan manusia yang membanjiri Jakarta tiap hari. Gambaran yang sangat melodramatic tentang Jakarta digambarkan dengan sangat baik oleh Korrie LAyun Rampan dalam puisinya yang berjudul “Jakarta” (Nyanyian Kekasih, 1981)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari keasingan&lt;br /&gt;Memintas diri&lt;br /&gt;Angin kota berdesingan&lt;br /&gt;Menimpuk mati&lt;br /&gt;Gedung-gedung menjulang&lt;br /&gt;Rimba ramai yang sepi&lt;br /&gt;Orang-orang berebut matahari&lt;br /&gt;Mengusung bulan&lt;br /&gt;Membawa uang mimpi pulang&lt;br /&gt;Di bawah langit yang sepi&lt;br /&gt;Kuinjak bumi, kutatap wajah diri&lt;br /&gt;Asing dan sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dengarlah "Jakarta menunggu diusir nasib" dari Darmanto Jatman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dari Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bisa kucium bau sunyi London&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mengapung di bak mandi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mengguyurku dengan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Rasa sunyi yang dingin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dan tak kenal belas kasihan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Diantara nyanyi butung-burung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Matahari pagi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dan bulan bundar sekeping&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Erangan kucing pacaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dingin kabut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dan es yang keras lengket di kudukku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;        -&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Aku amat sendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;            Tuhanku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;            Biarkanlah cawan itu lewat dar mulutku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;            (garuda Indonesia memang biasa terbang sendirian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;            -&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tak usah heran kenapa)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;            Tapi bebek yogya mana bisa jalan tidak iring-iringan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;            -&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Silakan bertanya kenapa)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;            -&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Gusti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Hamba merasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Amat sendiri !!&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Kapan kota kita bisa menjadi lebih manusiawi???&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-3032477670928625152?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/3032477670928625152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=3032477670928625152&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/3032477670928625152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/3032477670928625152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/05/jakarta-mei-2008.html' title='Jakarta, Mei 2008'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5GIJJ8WII/AAAAAAAAABs/p6iJgBx8qEg/s72-c/staadhuisBatavia1750.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-7038198109083769794</id><published>2008-05-26T13:10:00.002+07:00</published><updated>2008-05-29T13:57:33.460+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Akhirnya naik juga</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5BbZJ8WGI/AAAAAAAAABc/oE9oQBA0dg0/s1600-h/antri.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205670158151735394" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5BbZJ8WGI/AAAAAAAAABc/oE9oQBA0dg0/s200/antri.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya harga BBM naik juga, setelah isu tersebut ditiupkan pemerintah sejak beberapa hari yang lalu. Isu yang sangat sensitif dan memicu berbagai keresahan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia. Belum harga BBM dinaikkan, harga-harga sudah melambung tinggi, BBM terutama minyak tanah, bahkan elpiji menghilang dari pasar. Sementara, pendapatan masyarakat tak kunjung meningkat, bahkan cenderung menurun ditengah ketidakpastian ekonomi ini. Demonstrasi terjadi dimana-mana, baik pada skala kecil maupun besar, ditunggangi kepentingan politik atau tidak, bahkan disertai tindakan represif aparat terhadap para demonstran yang sebagian besar adalah para mahasiswa dan ibu rumah tangga. Seorang buruh di Jakarta dengan hanya penghasilan Rp. 972.000/bulan (UMP DKI Jakarta) dengan harga minyak saat ini saja sudah tidak bias memenuhi kebutuhan konsumsi dasar, apalagi jika harga BBM sudah dinaikkan. Entah darimana lagi sang buruh harus memenuhikebutuhan hidupnya yang kian hari kian membengkak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya harga BBM naik juga. Dengan dibacakan oleh anggota kabinet yang dikomandoi oleh Sri Mulyani (Menkeu), pemerintah menaikkan harga Premium Rp. 6000,-, solar Rp. 5500,- dan minyak tanah Rp. 2500,-. Maka lengkaplah penderitaan rakyat Indonesia di bawah pemerintahan bangsanya sendiri, dan tidak lebih baik daripada pemerintahan bangsa asing (VOC/Hindia Belanda). Maka sia-sialah tujuan proklamasi bangsa, melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa. Kemiskinan akan semakin bertambah, beban hidup semakin berat, harga-harga melambung tinggi, pendapatan tetap, bahkan berkurang karena nilai uang yang semakin rendah. Tragedi busung lapar akan kembali terulang, nasi aking akan menjadi santapan pokok sebagian besar rakyat miskin. Biaya produksi, biaya distribusi/ transport akan meningkat (belum termasuk pungli aparat kepolisian ataupun dinas perhubungan setempat), angkot naek, nasi padang dan warung tegal juga ikut naek, bahkan mungkin harga jarum per batang juga naik kayaknya. Perusahaan gulung tikar, pengangguran merajalela. Bila sudah demikian, ikatan sosial masyarakat melemah. Potensi konflik sangat besar, perut yang lapar sangat mudah terprovokasi. Kerawanan sosial meningkat. Siapa yang paling menderita?. Rakyat. Apakah pemerintah tidak pernah berpikir dengan efek domino (multiplying effect) yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM dengan berakibat pada penderitaan rakyat, dan lebih memilih mengatakan :”bahwa yang melakukan demo mendukung subsidi untuk orang kaya”. Mulutmu harimaumu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tidak adakah jalan yang lebih bijaksana selain menaikkan harga BBM?. Entahlah, aku bukan ahli ekonomi yang mengetahui seluk-beluk ekonomi makro atau mikro, APBN, tingkat inflasi, dan tetek bengek lainnya. Yang aku ketahui bahwa adalah bahwa APBN bocor beratus-ratus triliun kepada para konglomerat untuk likuiditas Bank Indonesia (wow…bukankah mestinya dana tersebut bisa digunakan menambal deficit APBN akibat harga minyak dunia yang melambung?, entahlah…). Yang aku tahu hutan kita tiap jam habis seluas 6 kali lapangan bola dan kerugian Negara pertahun mencapai 200 Triliun rupiah. Atau ikan kita diperairan nasional yang dibiarkan dijarah nelayan asing dan merugikan Negara puluhan triliun tiap tahun. Dan yang aku tahu, rakyat kita sudah sangat menderita, danjangan ditambah lagi penderitaan tersebut.&lt;br /&gt;Entahlah, rupanya pemerintah lebih suka mengorbankan kaum buruh tani dan rakyat miskin untuk menjadi tumbal salah urus negara daripada harus repot-repot ngurus pengemplang BLBI dan penjarah hutan dan laut kita (maklumlah, pembantu presiden kan kebanyakan pengusaha/kapitalis). Sejarah juga mengajarkan pada kita, betapa kaum buruh tani dan rakyat kecil selalu menjadi korban kelas diatasnya, sejak jaman feodalisme sampai aristokrasi borjuasi VOC dan Hindia-Belanda. Semua karena posisi politik kaum buruh tani yang lemah (Ong Hok Ham). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya harga BBM naik juga. Dan pemerintah kembali menggunakan pola lama yang terbukti gagal, Bantuan Langsung Tunai (BLT). Apakah pemerintah sudah benar-benar bebal dan tidak mau menarik pelajaran dari kegagalan BLT sebelumnya? Atau memang sengaja lebih memilih menjadi keledai yang terantuk pada lubang yang sama dua kali? (siapa pemimpin keledainya?). Yah, meskipun jumlahnya tidak sama, hanya sedikit ditambah beras dan minyak goreng, tetapi apalah artinya jumlah uang Rp. 100.000/bulan di kala semua kebutuhan hidup meningkat. Nilai uang Rp. 100.000 di tahun 2005 tentu saja berbeda dengan tahun 2008. Untuk makan saja dalam seminggu sudah habis (di Jakarta), apalagi untuk sewa rumah, bayar listrik, kesehatan anak, pendidikan, dan entah kebutuhan apalagi. Apa yang diharapkan dari itu kecuali pembodohan, peninaboboan, dan kalau istilah teman-temanku di kampus: penjontrongan sistematis (sampai sekarang aku tidak tahu apa arti penjontrongan itu, tapi sepertinya berarti penelantaran atau melemparkan seseorang kepada masalah baru) terhadap masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bandingkan dengan dampak yang ditimbulkan oleh BLT, selain ketidakmampuan BLT menyelesaikan permasalahan mendasar masyarakat, adalah gesekan-gesekan yang muncul di kalangan rakyat. Ada yang mendapat dan ada yang tidak mendapatkan BLT. Apa yangterjadi, sungguh dapat diduga. Ribut, kisruh, saling curiga, kecemburuan, pertengkaran, dan retaknya hubungan sosial antarmasyarakat. Siapa yang menjadi korban?. Rakyat. Bukankah persatuan dan kesatuan serta nilai-nilai budaya dan kehidupan sosial yang sehat merupakan salah satu modal dasar pembangunan Indonesia. Sangat disayangkan kalau kita kehilangan itu semua karena jumlah materi yang tidak seberapa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kapan Indonesia bangkit? Itu mungkin bisa terjadi kalau SBY-JK turun tahta dan diganti pemerintahan yang progresif. Apakah kita membutuhkan sosok-sosk seperti Hugo Chavez, Evo Morales, Fidel Castro, atau Mahmoud Ahmadinejad? Entahlah, mereka belum teruji dimasyarakatnya (tapi setidaknya mereka berani berdiri bersama rakyat).&lt;br /&gt;Apakah kondisi saat ini mengharuskan adanya revolusi sosial (revolusi proletarian ala bolshevisme atau maoisme)? Kesan kita akan revolusi selalu mengerikan dengan jatuhnya banyak korban. Bila perubahan dapat tercapai tanpa revolusi, kenapa tidak?. Tapi bila revolusi adalah keniscayaan, untuk mencapai sana kita membutuhkan sang pemimpin yang menguasai teori revolusi dan mempraksiskannya pada kondisi Indonesia. Kita butuh sang pemimpin semacam founding father Tan Malaka, selain organisasi proletarian yang kuat yang akan memandu revolusi, organisasi yang dapat meningkatkan posisi politik kaum buruh tani dan murba sehingga menjadi the ruling class. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Maafkan kami para pahlawan, kami gagal mengemban amanatmu untuk memajukan bangsa ini di bawah pemerintahan bangsa sendiri. Pengorbananmu seolah sia-sia belaka. Darah yang mengalir, keringat yang tumpah, harta benda yang hilang, menjadi tidak bermakna. Sempat terbersit pikiran: “Kembalikan saja negara ini pada Belanda, mungkin bisa lebih baik kondisinya” Tetapi aku yakin kalian pasti akan marah mendengarnya. Aku tidak mau menambah kekecewaan kalian, wahai para pahlawanku…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-7038198109083769794?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/7038198109083769794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=7038198109083769794&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/7038198109083769794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/7038198109083769794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/05/akhirnya-naik-juga.html' title='Akhirnya naik juga'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5BbZJ8WGI/AAAAAAAAABc/oE9oQBA0dg0/s72-c/antri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-4029283649784661968</id><published>2008-05-23T14:51:00.002+07:00</published><updated>2008-05-29T14:04:53.525+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Tentang Peneliti</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5EuJJ8WHI/AAAAAAAAABk/nbBhRA0GgMg/s1600-h/einstein.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205673778809165938" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5EuJJ8WHI/AAAAAAAAABk/nbBhRA0GgMg/s320/einstein.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To be or not to be, ungkapan yang sangat terkenal dari William Shakespeare beberapa abad lampau dalam sebuah dramanya Hamlet. Sebuah ungkapan yang sangat sederhana tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Menurutku, menjadi peneliti adalah persoalan to be or not to be, bukan to have or have not.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertemuan (atau lebih tepatnya “pengarahan”) dengan Pusbindiklat (Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan) LIPI beberapa waktu yang lalu, ada beberapa persoalan yang mendasar yang harus diperhatikan dalam kepenelitian. Persoalan mendasar tersebut adalah orientasi penelitian. Orientasi ini berkaitan erat dengan motivasi, dan motivasi merupakan landasan penting untu menjadi (to be) seorang peneliti. Orientasi ini penting, karena semua yang akan dilakukan oleh seorang peneliti dalam meniti jenjang karier kepenelitiannya sangat bergantung kepada motivasi dan orientasi tersebut. Dan tentu saja berpengaruh secara langsung terhadap kualitas kepenelitian tersebut.&lt;br /&gt;Sekarang bayangkan saja, dalam pertemuan tersebut, yang dibahas adalah keuntungan menjadi peneliti yang dapat merangkap jabatan ganda, tunjangan yang besar, usia pensiun yang lebih lama, karier di tangan sendiri, pencapaian angka kredit, kemudahan mencari angka kredit, kenaikan pangkat yang cepat (bahkan mampu sampai IV-e/setara jabatan menteri) dan melulu semua-mua yang berbau keuntungan materialistis. Apakah kemudian tidak ada orientasi yang lebih agung seperti kebahagiaan, atau sesuatu yang lain yang abstraks yang tidak dapat dinilai dengan materi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut, sejauh kemudian hal tersebut mampu menjadi motivator yang besar untuk seorang peneliti. Memang, harus diakui, dunia kepenelitian di Indonesia masih belum mendapatkan tempat dan penghargaan yang selayaknya, baik dari pemerintah maupun masyarakat (kelompok lain). Dan persoalan tunjangan, jabatan rangkap, dan sebagainya mungkin dapat menjadi stimulan untuk menjadi peneliti. Tetapi, apabila kemudian stimulan itu justru yang menjadi faktor fundamental seseorang menjadi peneliti, akan membawa kepada beberapa konsekuensi, diantaranya:&lt;br /&gt;1. Kualitas kepenelitian yang rendah&lt;br /&gt;Karena motivasi dasar adalah kemilau materi (tunjangan, kedudukan), bukan tidak mungkin karya tulis yang dihasilkan asal-asalan. Asal aku dapat kredit (poin), dan status kepenelitianku ga dicabut, masa bodoh dengan kualitas tulisan. Kan dah dapet tunjangan, kreditku meningkat, naik pangkatku cepat, masa bodo dengan kualitas tulisan/peneliti. Apalagi kalau penelitian tersebut orientasinya adalah orientasi proyek. (waduh...jadi berabe neh...). Lalu, apa manfaatnya untuk rakyat? Kayaknya laporan penelitian yang kayak gini bila ditumpuk dapat nganter kita ke bulan, tanpa harus merancang pesawat ulang-alik hehehe...&lt;br /&gt;2. Peneliti hanya menjadi ”jago kandang”&lt;br /&gt;Karena kemudahan dalam mengumpulkan kredit, maka peneliti hanya akan menjadi ”jago kandang” dan ibaratnya katak dalam tempurung. Gimana tidak? Tiap lembaga riset pasti menerbitkan jurnal. Dan tulisan peneliti di jurnal tersebut kemungkinan besar dimuat dalam jurnal tersebut. Dapat kredit, dan kembali ke motivasi awal tadi, akhirnya masa bodo dengan kualitas. Akhirnya peneliti tersebut pekerjaannya ya hanya menulis, diterbitkan sendiri, dibaca sendiri, terus ketawa sendiri, hahahaha..... Apakah peneliti seperti ini yang kita harapkan?&lt;br /&gt;3. Pemborosan&lt;br /&gt;Ya karena uang yang dikeluarkan ga sebanding dengan hasilnya, itu kan dinamakan pemborosan uang negara to...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang belum ada penelitian yang menjelaskan adanya korelasi antara stimulan yang materialistik dengan motivasi yang spiritualistik, apakah sejalan atau berlawanan arus. Tapi mudah-mudahan, dengan stimulan yang murni materiaistik tersebut dapat muncul gairah dan semangat spiritualistik dari kalangan peneliti. Dan etika peneliti tidak hanya menjadi onggokan prasasti yang tidak bermakna.&lt;br /&gt;Apapun itu, yang pasti, ketika seseorang sudah terjun dalam lembaga riset, maka ”Cintailah apa yang kamu lakukan, jangan hanya melakukan apa yang kamu cintai”, karena menjadi peneliti adalah persoalan eksistensi, to be or not to be.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-4029283649784661968?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/4029283649784661968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=4029283649784661968&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/4029283649784661968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/4029283649784661968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/05/tentang-peneliti.html' title='Tentang Peneliti'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SD5EuJJ8WHI/AAAAAAAAABk/nbBhRA0GgMg/s72-c/einstein.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-5726317751718382786</id><published>2008-05-14T18:41:00.002+07:00</published><updated>2008-05-29T14:19:58.131+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Fort Rotterdam, oleh-oleh dari Makasar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SCrSJxHPxvI/AAAAAAAAABA/nhKTgO5R90E/s1600-h/DSCI2261.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200199784997046002" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SCrSJxHPxvI/AAAAAAAAABA/nhKTgO5R90E/s200/DSCI2261.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 6pt 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Benteng itu berdiri megah dengan menghadap ke arah pantai. Aku bisa membayangkan betapa angkuhnya bangunan kolonialisme tersebut, saat didirikan berabad-abad yang lalu untuk menandingi kebesaran benteng Somba Opu milik kerajaan Gowa. Belum masuk benteng aku sudah mulai membandingkan dengan benteng Vredeburg di Yogyakarta (kebetulan yang terakhir ini sudah sangat akrab bagiku, karena dulu sering mendatanginya saat ada pertunjukan seni dan budaya disana). Tentu saja, Fort Rotterdam jauh lebih besar dan lebih megah daripada benteng Vredeburg, padahal, menurut dugaanku usia Fort Rotterdam lebih tua daripada Vredeburg. Fort Rotterdam sudah ada sejak zaman VOC, dan pernah direbut oleh Sultan Hasanuddin (untuk sementara dan sesaat) dalam pertempuran besar di Makassar (VOC saat itu bersekutu dengan Aru Palaka), sementara Vredeburg dibangun untuk membendung pengaruh Kesultanan Yogyakarta yang secara de jure dan de facto baru ada setelah perjanjian Gianti tahun 1755 (masa akhir VOC, yang dibubarkan tahun 1799). Usia Fort Rotterdam mungkin hanya kalah dari benteng Batavia.&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 6pt 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Masuk ke dalam benteng, akan membawa kita kepada pemahaman bagaimana ekspedisi bangsa Eropa membangun kolonialisme di tanah seberang. Benteng, berfungsi utama sebagai tempat perlindungan utama terhadap kepentingan-kepentingan koloni yang baru terbentuk tersebut. Perlindungan terutama dari kekuasaan pesaing-pesaing terdekat, dalam hal ini adalah dari kerajaan Gowa yang telah dulu berkuasa di daerah Makasar. Sebagai tempat berlindung, Fort Rotterdam boleh dibilang sangat kokoh, dan mustahil ditembus untuk ukuran zaman itu. Kenapa? Yang pertama, desain benteng tersebut sangat kokoh. Dibangun dari batu gunung dengan tebal tembok rata-rata 3 meter dan setinggi 3 meter, mustahil ditembus oleh meriam (kuno) kaliber terbesar sekalipun. Di beberapa ujung, dibangun &lt;i&gt;bastion&lt;/i&gt; sebagai pertahanan artileri utama. Terdapat beberapa lubang untuk penempatan meriam dan mengarahkan sasaran tembak, dan jumlahnya sangat banyak untuk tiap-tiap sisi benteng. Tidak terdapat indikasi adanya parit didepan benteng sebagaimana terdapat di Yogyakarta. Tetapi dengan bagian depan menghadap langsung ke laut, maka serangan dari laut akan sangat mudah sekali dihalau. Seperti kata Napoleon, “Satu meriam di darat lebih baik daripada 100 meriam di laut”. Berdiri di tembok benteng, jarak pandang sangat luas, sehingga memudahkan tentara dalam benteng dalam mengarahkan sasaran senapannya (VOC diberi hak oleh pemerintah kerajaan Belanda untuk mengeluarkan mata uang sendiri dan membentuk tentara). Dengan konstruksi benteng seperti itu, dapat dipastikan benteng tersebut menjadi salah satu benteng yang terkuat yang dibuat oleh VOC. Maka, ketika Sultan Hasanudin berhasil menguasai Fort Rotterdam, meskipun untuk sementara, membuktikan betapa dahsyatnya pertempuran yangterjadi dan betapa jeniusnya Sultan Hasanudin mengatur siasat perang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 6pt 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Yang kedua, ini berkaitan dengan perbedaan jauh antara teknologi yang dimiliki oleh VOC dan orang Makasar, dan orang Indonesia ada umumnya. Meskipun jumlah koloni bangsa Belanda di Makasar relative kecil, tetapi dengan keunggulan teknologi yang dimilikinya mampu mengatasi kekurangan yang dimilikinya. Perbedaan ini menjadikan Fort Rotterdam sangat kokoh dan sulit ditaklukkan. Keunggulan teknologi ini pula menjadikan posisi politik mereka sangat tinggi terhadap penguasa-penguasa pribumi. Maka tak heran VOC sering terlibat dalam konfilk antarpenguasa pribumi, karena permintaan penguasa pribumi tersebut untuk membantu mereka dalam persaingan antarpenguasa pribumi. Keadaan ini dimanfaatkan VOC untuk memecah belah kekuatan pribumi, dan lama-lama malah menguasai mereka. Mula-mula minta daerah konsesi sebagai imbalan karena memberi bantuan, lama-lama wilayah penguasa pribumi berkurang, dan akhirnya seluruh wilayah takluk di bawah kekuasaan Belanda (VOC). Perjanjian Gianti, adalah bukti keterlibatan VOC dalam memecah kerajaan Mataram. Keterlibatan VOC dalam konflik antara Sultan Hasanudin dan Aru Palaka di Sulawesi Selatan, dalam konflik antara kaum adat dengan kaum Paderi di Sumatra Barat, adalah bukti metode dan cara kerja kaum koloni awal tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 6pt 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Melihat dari bangunan yang ada di dalam Fort Rotterdam, benteng ini juga dimanfaatkan untuk membina koloni masyarakat Eropa di Makasar. Pada awal kolonialisme, sebagian besar penghuni benteng adalah pria (mengingat jauhnya Belanda – Indonesia, dan berbahayanya pelayaran ke Indonesia sebelum Terusan Suez dibuka, ekspedisi bangsa Eropa tidak diikuti oleh kaum perempuan Eropa). Bangunan didalamnya didesain mirip bangunan di Belanda, untuk menciptakan kondisi psikologis agar merasa di rumah sendiri. Hal ini diperlukan, karena apabila semnagat koloni turun karena kangen kampong kelahiran, tujuan Gold, Gospel, Glory dalam ekspedisi sulit tercapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 6pt 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebagai tempat pembinaan masyarakat koloni awal, benteng dirancang agar kehidupan masyarakat didalamnya berjalan teratur. Tak heran, di dalam Fort Rotterdam terdapat gereja yang berdiri megah ditengah-tengah benteng untuk mengatur kehidupan rohani masyarakat. Bagian terbesar dari benteng adalah garnisun/barak untuk para tentara/serdadu VOC. Di sebelah selatan dan timur merupakan tempat tinggal para serdadu. Sementara sebelah utara, berdiri bangunan yang diperkirakan merupakan tempat tinggal para pejabat tinggi dan para perwira, dan juga perkantoran (semacam balai kota, Stadhuis di Batavia). Bangunan tersebut agak tinggi, dengan pintu masukmelewati tangga di luar, dan berbeda adak mencolok dari bangunan disekitarnya. Bangunan yang difungsikan sebagai tempat tinggal banyak tersebar di beberapa lokasi, sampai di pojok-pojok benteng. Bahkan, bangunan-bangunan di sekitar pojok benteng kelihatan lebih besar daripada bangunan disekitarnya (apakah ini difungsikan juga sebagai tempat tinggal para petinggi?).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 6pt 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Juga terdapat penjara di beberapa sudut benteng. Disudut benteng sebelah barat laut terdapat penjara yang pernah digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro sampai beliau meninggal. Jika di benteng Batavia, proses peradilan dilakukan di Stadhuis, lalu dimanakah lokasi pengadilan di Fort Rotterdam?. Didalamnya juga terdapat bangunan yang digunakan sebagai gudang persediaan, seperti yang ada di sebelah utara (dekat dengan pintu gerbang). Apakah keberadaan bangunan tersebut erat kaitannya dengan Fort Rotterdam sebagai pelabuhan dan pangkalan dagang VOC di Sulawesi?. Beberapa meter ke utara (kurang dari 200 meter) dari Fort Rotterdam saat ini terdapat pelabuhan peti kemas yang relatif besar. Apakah letak pelabuhan Makasar zaman VOC sama dengan yang dipakai oleh pelabuhan bongkar muat barang sekarang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 6pt 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sebagai permukiman pertama kaum koloni Eropa, fasilitas dalam benteng termasuk lengkap. Selain keamanan, kesehatan juga mendapatkan perhatian. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Banyak saluran drainase yang dibangun, serta persediaan air bersih tercukupi (terdapat sumur air didalam benteng). Penataan bangunannya sangat rapi, dan kelihatan selaras dan harmonis. Mencerminkan bagaimana bangsa Eropa sangat cermat dalam merencanakan permukiman. Darimana kebutuhan pangan penghuni benteng terpenuhi? Mungkin dari perdagangan antarpulau yang dulu lazim terjadi di kepulauan Nusantara, atau dari pengambilan paksa terhadap pertanian peribumi? Entahlah…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 6pt 0cm; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-US"   style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Yang pasti, Fort Rotterdam merupakan benteng yang kokoh sebagai pertahanan, sehingga mendorong pelabuhan di Makassar menjadi ramai oleh aktifitas perdagangan (karena jaminan keamanan), rumah tinggal yang nyaman, sehat, tertur, rapi, dan lengkap. Yang jelas, benteng tersebut merupakan warisan cagar budaya bangsa yang harus dilindungi, terutama dari tangan bejat birokrat yang kongkalingkong dengan kaum kapitalis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-5726317751718382786?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/5726317751718382786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=5726317751718382786&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5726317751718382786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/5726317751718382786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/05/fort-rotterdam-oleh-oleh-dari-makasar.html' title='Fort Rotterdam, oleh-oleh dari Makasar'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_2NgZ192SPrs/SCrSJxHPxvI/AAAAAAAAABA/nhKTgO5R90E/s72-c/DSCI2261.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-1604576320339506190</id><published>2008-05-06T12:52:00.003+07:00</published><updated>2008-05-29T14:26:33.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Menyoal Pendidikan Kita</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Dalam rangka hari pendidikan nasional 2 Mei 2008, saya ingin sedikit menyorot tentang pendidikan nasional kita. Semoga bermanfaat dan masih relevan untuk didiskusikan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menyoal kualitas SDM, kita dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa kualitas SDM Indonesia yang rendah. Data Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) yang dikeluarkan UNDP tahun 2004 memperlihatkan bahwa posisi SDM Indonesia berada di peringkat 111 dari 175 negara. Bahkan, di antara negara-negara ASEAN, Indonesia berada di peringkat ke-6 setelah Singapura (25), Brunai Darussalam (33), Malaysia (58), Thailand (76), dan Filipina (83). Pertanyaannya adalah apa yang salah dengan kualitas SDM Indonesia dan mengapa hal itu terjadi? Kemudian, langkah konkret apa yang harus ditempuh untuk meningkatkan SDM Indonesia?&lt;br /&gt;Persoalan kualitas SDM tidak dapat dilepaskan dari masalah pendidikan. Pasalnya, kualitas SDM merupakan hasil dari sebuah proses pembangunan manusia yang disebut pendidikan. Upaya peningkatan kualitas SDM akan dihadapkan pada sebuah sistem pendidikan yang tersusun dari variabel-varibel yang saling berhubungan.&lt;br /&gt;Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, seperti pengeluaran Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), Pengembangan Manajemen Berbasis Kompetensi (MBK) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), mengubah sistem ujian akhir nasional (UAN) serta meningkatkan passing grade nilai UAN. Sayangnya, semua itu terkesan dilakukan secara tergesa-gesa sehingga menyebabkan pelaku pendidikan (guru, siswa/mahasiswa, orang tua, serta masyarakat) menjadi tidak siap dalam menyikapi kebijakan tersebut. Akibatnya, terjadi keresahan dan kekhawatiran di antara para orang tua dan masyarakat. Alih-alih memperbaiki kualitas pendidikan, yang terjadi adalah ketidakjelasan arah pendidikan nasional. Contoh kongkret dari kebingungan itu adalah ditahannya para guru di SMAN 2 Lubuk Pakam Sumsel akibat mengubah jawaban ujian nasional.&lt;br /&gt;Untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas SDM Indonesia diperlukan political will dari pemerintah serta keterlibatan aktif masyarakat. Di sisi lain, diperlukan juga sebuah pemahaman yang holistik dan komprehensif dari para pelaku pendidikan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, idealisme awal pendidikan sebagai sebuah proses dapat terus terjaga sehingga cita-cita pendidikan, yaitu menciptakan manusia berkualitas, baik lahir dan batin, dapat terwujud di Indonesia.&lt;br /&gt;Pengertian dan Tujuan Pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan adalah proses pengembangan pengetahuan dan karakter serta sikap hidup dalam diri manusia atau bangsa dalam arti utuh (Mangunwijaya, 2003:129). Utuh yang dimaksudkan oleh Mangunwijaya adalah adanya keterpaduan antara pengetahuan yang dipelajari dengan realitas kehidupan sehari-hari. Realitas tersebut merupakan cerminan dari persoalan-persoalan yang benar-benar terjadi di dalam masyarakat, yang kemudian dilakukan analisa untuk memperoleh model penyelesaian yang beretika. Singkatnya, pendidikan sebenarnya adalah proses memanusiakan manusia kembali (Freire,1970:)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Ideologi dan Paradigma Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak pendekatan yang dapat dipakai untuk memahami pendidikan yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah dengan memahami ideologi dan paradigma pendidikan. William O’Neill (2000), mengungkapkan bahwa terdapat enam ideologi dasar dalam pendidikan, yaitu fundamentalisme, intelektualisme, konservatifisme, liberalisme, liberasionisme, dan anarkisme. Menurut O’Neill (2000), terdapat tiga arus besar paradigma pendidikan, yaitu konservatif, liberal, dan kritis.&lt;br /&gt;Ideologi pendidikan memiliki pengaruh yang besar terhadap arah pengembangan pendidikan, terutama jika dikaitkan dengan kebijakan politik pemerintah. Kapitalisme global yang saat ini menguasai ideologi negara memiliki pengaruh yang sangat besar pada dunia pendidikan di Indonesia. Di bawah tekanan kapitalisme, pendidikan mengalami komodifikasi. Artinya, pendidikan sekarang menjelma menjadi komoditas yang mengikuti hukum-hukum pasar. Pendidikan beralih fungsi untuk menghasilkan manusia-manusia siap pakai untuk kebutuhan industri.&lt;br /&gt;Paradigma pendidikan memiliki implikasi pada metodologi pendidikan, yang dikaitkan dengan kesadaran ideologi masyarakat (Freire, 1970). Pun berimplikasi pada pendekatan dalam pendidikan, yaitu pendekatan pedagogy dan andragogy (Knowles, 1970)&lt;br /&gt;Penyelenggaraan sistem pendidikan, banyak dikendalikan oleh political will. Artinya, seluruh sistem pendidikan mengacu kepada kecenderungan politis. Para penguasa terlalu banyak mencampuri dan mengarahkan sistem pendidikan ini, sehingga apa yang disebut filsafat pendidikan nyaris tidak terefleksikan dalam setiap tindak pendidikan maupun pembelajaran (Semiawan, 2000). Karena kepentingan-kepentingan politis, kebijakan penguasa (pemerintah) dalam sosiologi Weberian disebut tidak pernah sepenuh hati. Kalaupun kebijakan itu dilakukan, dalam pelaksanaannya akan setengah-setengah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Perihal Pembelajaran, Pengajaran, dan Pelatihan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Istilah pendidikan dan sekolah merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kata pendidikan berasal dari bahasa Latin yaitu e-ducare, yang berarti menggiring ke luar. Yang dimaksud dengan menggiring ke luar adalah menggiring potensi diri. Kata sekolah juga berakar dari bahasa Latin, yaitu skhole, scola, scolae atau schola yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Menurut Roem Topatimasang (1998:6), orang Yunani kuno biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seorang pandai, dalam hal tertentu, untuk mempertanyakan dan mempelajari sesuatu yang memang mereka butuhkan dan dianggap penting.&lt;br /&gt;Selama ini, pendidikan sering diidentikkan dengan sekolah (sebagai tempat berlangsungnya pengajaran). Padahal, pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang berbeda. Pendidikan diartikan sebagai proses pembentukan watak dan karakter yang bebas, merdeka, dan bertanggungjawab, sedangkan pengajaran lebih menekankan pada proses transfer pengetahuan yang sifatnya kognitif.&lt;br /&gt;Salah satu akar permasalahan dalam pendidikan di Indonesia adalah ketidakmampuan banyak orang untuk membedakan, dan dengan demikian mempersamakan secara sembrono, antara pendidikan atau proses pembelajaran dengan pengajaran (Harefa, 2000:59).&lt;br /&gt;Harefa juga menegaskan bahwa pengajaran saja belum cukup untuk mengeluarkan segenap potensi dalam diri manusia. Ada potensi diri yang hanya dapat dikeluarkan melalui proses pembelajaran dan pelatihan.&lt;br /&gt;Studi Kasus&lt;br /&gt;Pola pendidikan di masa prasekolah, bagi anak, merupakan proses pengenalan dan sosialisasi dengan lingkungannya. Interaksi yang terus-menerus mampu menimbulkan kontak emosional dan intelektual anak terhadap kehidupan di sekitarnya. Dalam proses tersebut pembelajaran sangat dianjurkan menggunakan metode bermain dan bernyanyi. Memasuki masa pendidikan sekolah dasar, metode pembelajarannya juga tidak jauh berbeda dengan masa prasekolah, hanya perlu ditambahkan beberapa pengetahuan lainnya.&lt;br /&gt;Tetsuko Kuroyanagi (2003) memaparkan bagaimana seharusnya pendidikan di sekolah dasar (SD) itu sebaiknya diselenggarakan. Kuroyanagi mengisahkan pola pendidikan di SD Tomoe di Jepang pada akhir perang dunia II. Di SD Tomoe, proses pembelajaran disesuaikan dengan minat masing-masing siswa. Guru hanya memfasilitasi dengan memberikan beberapa pilihan bidang pelajaran. Setiap siswa boleh belajar apa saja yang disukainya, tanpa ada paksaan dari guru. Peran guru yang memosisikan dirinya sebagai sahabat bagi anak-anak memudahkan pola interaksi di dalam kelas. Suasana kelas yang tidak terlalu banyak jumlah siswanya juga turut memengaruhi proses pembelajaran. Proses pembelajaran tidak hanya di dalam kelas. Siswa SD Tomoe diajak untuk belajar hal-hal yang ada di sekitarnya secara langsung, melatih kepekaan sosial.&lt;br /&gt;Pendidikan yang baik harus mampu menanamkan nilai-nilai kejujuran. Kejujuran yang dilandasi oleh rasa tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Alasan utama untuk memperjuangkan kejujuran adalah bahwa sekolah adalah tempat bagi setiap pelajar untuk belajar (Poedjinoegroho, 2002:34). Kejujuran mendidik siswa untuk menghargai nilai-nilai kehidupan, melampaui batas-batas indikator kesuksesan belajar yang selama ini hanya dilihat dengan deretan angka. Sistem pendidikan di Canisius College (CC), baik di tingkat SLTP maupun SLTA, selama ini telah menerapkan pola pendidikan yang integral antara pembangunan karakter, sikap hidup dan kemampuan akademik. Maka pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sejalan dengan petode pembelajaran yang telah diterapkan di CC.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Mewujudkan Manusia Terdidik yang Unggul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pola pendidikan yang didasarkan pada minat siswa sangat penting dalam menentukan kesuksesan hidupnya. Kesuksesan hidup tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, justru lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional. Belajar berdasarkan minat adalah implementasi dari kecerdasan emosional.&lt;br /&gt;Howard Gardner menggolongkan delapan kecerdasan yang ada di dalam diri setiap manusia, yaitu : kecerdasan linguistik (cerdas kata), kecerdasan matematis-logis (cerdas angka), kecerdasan spasial (cerdas gambar), kecerdasan kinestetis-jasmani (cerdas tubuh), kecerdasan musik (cerdas musik), kecerdasan interpersonal (cerdas bergaul), kecerdasan intrapersonal (cerdas diri), dan kecerdasan naturalis (cerdas alam).&lt;br /&gt;Menurut Howard Gardner, setiap orang memiliki kecenderungan yang paling menonjol terhadap satu atau dua kecerdasan di antara delapan kecerdasan yang ada. Artinya, kecenderungan kecerdasan seseorang dapat berbeda antara yang satu dengan yang lain sehingga pola pembelajarannya juga berbeda. Dengan demikian, pendidikan akan menghasilkan manusia-manusia yang berbudaya dan mampu mengandalkan diri sendiri untuk berkarya menghasilkan sesuatu yang kreatif dan inovatif. Jadi si murid abad-21 harus punya modal kemampuan khas untuk mencari sendiri. Dengan kata lain, ia sudah harus punya kebiasaan eksplorasi diri, berani dan tahu caranya bertanya dan memperoleh/merebut/mencuri (dalam arti baik) informasi (Mangunwijaya, 2003:219).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Empat Masalah Pendidikan di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saat ini dunia pendidikan Indonesia mengalami beberapa masalah yang perlu segera dibenahi. Masalah-masalah tersebut meliputi: pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah Pemerataan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Data Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam (Binbaga) Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54,8% (9,4 juta siswa). Artinya, banyak warga Negara yang tidak dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah Mutu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Indikator rendahnya mutu pendidikan nasional dapat dilihat pada prestasi siswa. Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia). Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran.&lt;br /&gt;Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata empat universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.&lt;br /&gt;Indikator lain yang menunjukkan betapa rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia.&lt;br /&gt;Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum, Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvai di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.&lt;br /&gt;Rendahnya mutu pendidikan Indonesia terkait dengan kualitas guru dan pengajar yang masih rendah juga. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3). Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan, tetapi pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, dan sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah Relevansi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar tiga juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Masalah Efisiensi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Rendahnya efisiensi pengelolaan pendidikan dapat dilihat dari: penyebaran guru yang tidak merata, terjadinya putus sekolah di semua jenjang pendidikan, bangunan fisik gedung sekolah yang cepat rusak dalam waktu yang pendek, jam belajar yang tidak efektif dan optimal, dan pengalokasian dana pendidikan yang tidak fleksibel.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Krisis Sumber Daya Manusia Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jika melihat pada fenomena sejarah, hasil pendidikan nasional saat ini belum dapat dibandingkan dengan pendidikan pada zaman pergerakan nasional (1908 – 1945). Meskipun pendidikan merupakan salah satu paket politk etis Van Deventer yang sarat dengan kepentingan kolonial, tetapi semangat zaman (zeitgeist) telah membawa kaum terdidik pada suasana “perlawanan terhadap kolonialisme” (Buchori, 2000). Dengan segala keterbatasan, kaum terdidik saat itu menjelma menjadi pemimpin nasional yang tangguh, pemimpin yang berorientasi pada rakyat. Pemimpin seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Sutomo, dan kawan-kawan adalah contoh produk pendidikan, yang ironisnya merupakan pendidikan kolonial. Perubahan rezim membawa semangat zaman yang berbeda, sehingga arah kebijakan pendidikan akan berbeda sesuai dengan kepentingan rezim tersebut. Pada era Orde Lama (1945–1959), semangat melawan diperlemah, dan pendidikan diarahkan untuk mendukung demokrasi terpimpin. Orde Baru (1965 – 1998) melumpuhkan semangat melawan tersebut, dan pendidikan hanya digunakan untuk mendukung ideologi pembangunan (developmentalism)&lt;br /&gt;Masalah rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia diiringi dengan terbatasnya lapangan kerja yang ada di Indonesia. Akibatnya, tingkat pengangguran di Indonesia tinggi, yakni mencapai 10% dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 10 juta orang (Kompas, 19 Februari 2005). Masalah pengangguran memang tidak memiliki kaitan langsung dengan pendidikan, karena pengangguran merupakan masalah investasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Tetapi, daya serap lapangan kerja terhadap sumber daya manusia menunjukkan besarnya kompetensi sumber daya manusia untuk menghadapi kebutuhan dasar dan tuntutan hidup. Kasus deportasi TKI yang bekerja di Malaysia, yang mayoritas pembantu rumah tangga dan buruh, membuktikan betapa rendahnya kompetensi sumber daya manusia Indonesia.&lt;br /&gt;Persoalan yang mendasar dalam pendidikan adalah bahwa pendidikan nasional Indonesia belum memiliki sistem pendidikan yang relevan dengan kehidupan riil masyarakat yang dinamis. Ditambah lagi dengan perhatian pemerintah tidak serius terhadap dunia pendidikan. Kebijakan seperti kurikulum yang selalu berubah, buku pelajaran yang tiap tahun ganti. Masalah rendahnya gaji guru/dosen, minimnya sarana dan prasarana sekolah, serta alokasi anggaran yang rendah untuk pendidikan adalah bukti ketidakseriusan pemerintah di bidang pendidikan. Pemerintah gagal mewujudkan pendidikan dengan kualitas yang merata. Banyak ditemui disparitas kualitas pendidikan antardaerah.&lt;br /&gt;Persoalan ini bila tidak diatasi akan semakin menjatuhkan Indonesia dalam lubang krisis. Laporan UNDP dari tahun 2000 hingga 2004 menunjukkan bahwa kualitas SDM Indonesia cenderung menurun. Di masa datang, bila kondisi ini tidak diantisipasi, bangsa Indonesia akan menjadi budak di negeri sendiri, akibat kalah bersaing dengan sumber daya manusia dari negera lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Peran dan Tanggung Jawab Pemerintah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pasal 31 amandemen UUD 1945 ayat (1) menyatakan, “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”, dan ayat (2) menyatakan, “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Pasal tersebut diperkuat oleh UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang disahkan Presiden tanggal 8 Juli 2003. Dalam UU Sisdiknas pasal 5 ayat (1) disebutkan, “setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”. Pasal 11(1) menyatakan, “pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”, serta pasal 11 ayat (2) menyatakan, “pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya anggaran guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun”.&lt;br /&gt;Berdasarkan UU di atas, tugas dan tanggung jawab pemerintah, baik pusat maupun daerah, ada dua, yaitu : (1) membiayai pendidikan, dan (2) memberikan pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi kepada warga negara. Kewajiban membiayai pendidikan, dipertegas dalam pasal 49 UU Sisdiknas yang menyatakan, “Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Membiayai Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pasal 49 UU Sisdiknas di atas menyatakan secara eksplisit kewajiban negara untuk mengalokasikan minimal 20 % dari APBN maupun APBD untuk sektor pendidikan. Sektor pendidikan ini di luar gaji guru dan biaya dinas, karena gaji guru dan dinas masuk dalam pos belanja rutin pegawai. Ini berarti, sekitar Rp. 73.76 triliun/tahun dari total anggaran belanja negara yang sebesar Rp. 368.8 triliun harus dialokasikan untuk pendidikan. Tetapi, dalam tahun anggaran 2004 – 2005, anggaran pendidikan hanya sebesar Rp. 15,2 triliun, atau sekitar 4,12 % (Kompas, 05/08/2004). Di sini, pemerintah telah melanggar konstitusi negara dan Undang-undang.&lt;br /&gt;Selama ini, di bawah tekanan IMF dan Bank Dunia, pemerintah dipaksa mencabut subsidi untuk sektor sosial, termasuk di dalamnya pendidikan, sebagai bagian dari paket restrukturisasi ekonomi. Menurut catatan Revrisond Baswir (Kedaulatan Rakyat, 23 Februari 2005), dari total belanja negara, yang digunakan untuk mencicil utang negara adalah Rp. 140 triliun. Dari jumlah itu, pembayaran utang dalam negeri dalam bentuk bunga obligasi sebesar Rp. 44 triliun dan dinikmati oleh kalangan perbankan. Jika dibandingkan dengan besarnya alokasi untuk pendidikan, tampak bahwa pemerintah tidak memiliki perhatian yang serius terhadap pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Dalam konteks otonomi daerah, nilai minimal 20 % dari anggaran belanja daerah memunculkan masalah baru. Setiap daerah memiliki kondisi dan kemampuan yang berbeda-beda, sehingga sangat sulit diharapkan untuk mencapai nilai minimal 20%. Konsekuensinya, akan terjadi disparitas kualitas pendidikan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Akibatnya, di kemudian hari, dapat memunculkan kesenjangan kemajuan antardaerah.&lt;br /&gt;Dana merupakan hal yang niscaya, dan kekurangan anggaran akan menghambat peningkatan kualitas pendidikan serta membatasi akses pendidikan untuk rakyat. Akibat langsung dari kurangnya anggaran pendidikan dari pemerintah adalah pengalihan tanggung jawab pembiayaan pendidikan kepada masyarakat. Masyarakat, dalam hal ini orang tua, dibebani dengan bermacam-macam biaya pendidikan. Jenis biaya pendidikan yang harus dibayar dan besarnya bervariasi, yang terkadang semua itu di luar dari yang ditentukan. Biaya seperti uang gedung, uang BP3, dan biaya lain-lain yang terkadang diluar biaya resmi sering dibebankan pada orang tua, bahkan dengan jumlah yang tidak sedikit. Padahal, sebagian besar penduduk Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Fenomena di mana orang tua banyak menggadaikan barang-barangnya pada pegadaian setiap tahun ajaran baru, serta banyak kasus lainnya yang terjadi, membuktikan hal ini. Implikasinya, terjadi diskriminasi dalam akses pendidikan.&lt;br /&gt;Pengalokasian anggaran minimal 20 % dari APBN untuk pendidikan harus segera dilakukan, dengan terlebih dahulu membenahi manajemen keuangan negara. Bila hal ini dapat diwujudkan, dunia pendidikan nasional tidak akan separah seperti saat ini. Dana sebesar Rp. 73.76 triliun per tahun dapat dialokasikan untuk sektor-sektor yang dapat mendukung secara langsung peningkatan kualitas pendidikan nasional, misal perbaikan sarana dan prasarana sekolah. Bila mungkin, dana tersebut dapat digunakan untuk membiayai pendidikan dasar sembilan tahun secara gratis. Pengertian gratis tidak hanya biaya SPP (Sumbangan Pengembangan Pendidikan), tetapi juga penyediaan seragam, buku-buku, dan peralatan sekolah. Bahkan, dana tersebut dapat digunakan untuk subsidi daerah dengan kemampuan kurang dalam membiayai pendidikannya. Sehingga, kesenjangan antara daerah kaya dan miskin dapat direduksi, dan tercipta pemerataan kualitas pendidikan.&lt;br /&gt;Pemerintah perlu segera mengupayakan peningkatan kesejahteraan para pengajar (guru dan dosen). Pemerintah wajib memenuhi minimal kebutuhan dasar hidup para pengajar, sehingga mereka dapat lebih konsentrasi dalam melaksanakan tugasnya. Mereka tidak dapat lagi dipandang sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, tapi harus dipandang sebagai tenaga profesional. Sebagai tenaga profesional, mereka harus mendapatkan gaji yang memadai. Karena itu, pemerintah harus segera menaikkan gaji para pengajar (terutama guru honorer) agar profesionalitas mereka dapat terus ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memberikan Pendidikan Bermutu Tanpa Diskriminasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban pemerintah selanjutnya menurut UUD 1945 maupun UU Sisdiknas adalah memberikan pendidikan yang berkualitas tanpa diskriminasi pada seluruh rakyat. Berarti, pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas untuk seluruh warga negara tanpa memandang suku, agama, gender, status sosial dan ekonomi. Pendidikan yang berkualitas merupakan pendidikan yang memenuhi empat pilar sebagaimana yang dirumuskan oleh UNESCO dalam “The International Commision and Education for The Twenty First Century”, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.&lt;br /&gt;Empat pilar tersebut merupakan artikulasi dari keinginan untuk menyelaraskan proses pendidikan dengan globalisasi, humanisme, demokratisasi, bahkan dengan kondisi sosio-kultural masyarakat. Artinya, pendidikan diarahkan untuk membekali peserta didik dengan keterampilan dasar (basic skills) untuk siap menghadapi kehidupan nyata. Pendidikan disebut berkualitas apabila manusia hasil dari proses pendidikan mampu dan berhasil dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan nyata.&lt;br /&gt;Pendidikan yang berkualitas harus dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Artinya, pendidikan nasional pada tataran idealisme (das sein) harus memiliki kualitas yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Tetapi faktor geografis (profil alam) dan demografis (profil manusia) yang ada di Indonesia menyebabkan ketidakmerataan kualitas pendidikan. Faktor tersebut perlu dijadikan pertimbangan utama dalam perencanaan manajemen dan kurikulum pendidikan nasional. Kualitas pendidikan di Jakarta, tentu akan berbeda dengan kualitas pendidikan di pedalaman Papua.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Desentralisasi Manajemen Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam manajemen pendidikan, terdapat dua sistem manajemen yang terkait dengan sistem dan budaya politik suatu negara. Sistem tersebut adalah manajemen sentralistik birokratis, yang menjadi ciri khas sistem manajemen negara feodal otoriter, dan sistem desentralistik partisipatoris, yang erat kaitannya dengan negara demokratis dan terbuka. Dalam dikotomis antara setralistik dan desentralistik, Tilaar (1992), mengemukakan tujuh unsur yang merupakan poros-poros penentu perumusan strategi pengelolaan, yaitu : (1) Wawasan Nusantara, (2) Asas demokrasi, (3) Pengembangan kurikulum, (4) Proses belajar dan mengajar, (5) Efisiensi dalam sistem pendidikan, (6) Pembiayaan, dan (7) Ketenagaan.&lt;br /&gt;Dalam manajeman pendidikan yang sentralistik, dengan berpijak pada tujuh poros tersebut di atas, memiliki sifat-sifat berikut (Tilaar,1992:34):&lt;br /&gt;a. Memperkuat rasa kebangsaan dan kohesi nasional, meskipun mengambil bentuk yang semu&lt;br /&gt;b. Memperlambat proses demokratisasi dan menghasilkan organisasi yang kuat tapi kaku. Akibatnya, partisipasi masyarakat kurang dan cenderung pasif.&lt;br /&gt;c. Dalam pengembangan kurikulum, tujuan pendidikan mudah dicapai konsensus tetapi sulit beradaptasi dengan kebutuhan lingkungan.&lt;br /&gt;d. Dalam proses belajar mengajar, cenderung bebas lingkungan dan budaya sehingga cenderung intelektualistik. Evaluasi sebagai alat standarisasi dan sebagai alat legitimasi kekuasaan pemerintah pusat, dan pengawasan agak sulit.&lt;br /&gt;e. Pada efisiensi, secara eksternal menyebabkan kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerja terampil.&lt;br /&gt;Sementara itu, manajemen pendidikan desentralistik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Dapat memperlemah kohesi nasional, dan memunculkan rasa kedaerahan yang sempit.&lt;br /&gt;b. Proses demokratisasi berjalan dengan baik. Perangkat organisasi yang dihasilkan fleksibel dan merata di seluruh daerah, sehingga partisipasi masyarakat sangat nyata dan spontan dan memupuk kemandirian.&lt;br /&gt;c. Diadaptasikan pada tuntutan lingkungan sosial dan budaya masyarakat setempat, konsensus mengenai tujuan pendidikan sulit dicapai.&lt;br /&gt;d. Lingkungan merupakan bagian yang terintegral dari proses pembelajaran. Sulit menerapkan standar nasional. Tetapi, di lain pihak, pengawasan proses pembelajaran menjadi efektif.&lt;br /&gt;e. Efisiensi secara eksternal, relatif terjadi kesesuaian antara supply dan demand tenaga kerja. Kurikulum yang relevan sehingga efisien dalam menggunakan sumber-sumber pendidikan.&lt;br /&gt;f. Dalam pembiayaan dapat dengan segera memobilisasi sumber-sumber pendidikan, asal disertai partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya.&lt;br /&gt;g. Pengadaan dan pemanfaatan ketenagaan dapat diadakan sesuai dengan kebutuhan yang nyata, termasuk untuk daerah terpencil.&lt;br /&gt;Saat ini, perencanaan dan manajemen pendidikan nasional Indonesia masih bersifat sentralistik dan birokratik. Buktinya, sampai saat ini, sistem pendidikan nasional masih bersifat top down, dalam pengertian semua peraturan dan perangkat diatur oleh pemerintah pusat dengan sedikit keterlibatan para pelaku pendidikan (orang tua/masyarakat, guru/dosen, dan siswa/mahasiswa).&lt;br /&gt;Dalam pendekatan birokratik sentralistik, metodologi kuantitatif sangat dominan. Kurikulum yang ada saat ini disusun secara sentralistik, sangat padat dan cenderung abstrak, sehingga menambah beban anak didik. Pendidikan hanya diarahkan untuk mencapai target angka-angka, dengan indikator ekonomi dan kriteria efektifitas. Ujian Akhir Nasional (UAN), sebagai sistem evaluasi proses pendidikan di Indonesia, masih menekankan aspek kognitif dengan mengesampingkan aspek afektif maupun psikomotorik siswa. Keberhasilan pendidikan masih dilihat pada sebatas angka kelulusan sekolah 100%, nilai passing grade yang semakin meningkat. Akibatnya, banyak lulusan sekolah yang tidak memiliki kompetensi dan akhirnya menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;Melihat kegagalan manajemen sentralistik, perencanaan pendidikan seharusnya berorientasi pada sistem manajemen terbuka dan fleksibel. Sistem ini, akan melahirkan perencanaan partisipatoris, di mana para pelaku pendidikan terlibat aktif dalam perencanaan dan pengelolaan pendidikan. Dalam pendekatan partisipatoris, proses perencanaan dan pengelolaan pendidikan didasarkan pada peningkatan kualitas dengan dititikberatkan pada manajemen sumber-sumber pendidikan. Dengan demikian, perlu ada peralihan dari perencanaan birokratik yang berstereotip kekuasaan ke arah perencanaan terbuka yang berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam konteks otonomi daerah, peralihan ini akan menjelma dalam bentuk desentralisasi. Seiring dengan usaha desentralisasi pengelolaan pendidikan, kebutuhan akan kurikulum yang berbasis pada kebutuhan daerah merupakan hal yang mendesak untuk segera diwujudkan. Hal ini karena selain kurikulum yang ada selama ini terlalu padat, sebagai konsekuensi logis dari kurikulum yang sentralistik, juga karena proses penyusunan materi kurikulum masih jauh dari partisipasi aktif masyarakat (Tilaar, 2002:13).&lt;br /&gt;Dengan keterlibatan aktif masyarakat dan adanya sinergitas dengan pemerintah daerah, akan tercipta sistem pendidikan yang berbasis pada masyarakat (education base community). Sistem pendidikan ini, termasuk di dalamnya adalah kurikulum yang relevan dengan kebutuhan daerah dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan minat anak didik. Dengan desentralisasi, pemanfaatan sumber daya pendidikan menjadi optimal. Mobilisasi sumber daya pendidikan baik keuangan maupun ketenagaan dapat berlangsung dengan efektif di tingkat daerah bila dibandingkan dengan tingkat nasional. Masyarakat dapat melakukan pengawasan secara langsung atas terselenggaranya pendidikan, sehingga fungsi pengawasan menjadi lebih efektif. Pemerintah dan masyarakat dapat menyusun suatu sistem evaluasi yang dapat merepresentasikan kualitas yang baik dari proses pendidikan.&lt;br /&gt;Sistem manajemen pendidikan yang desentralistik memunculkan masalah baru ketika diletakkan dalam konteks negara Indonesia. Berkaca pada penerapan UU No.22/1999 tentang Otonomi Daerah yang memunculkan penguasa-penguasa baru di daerah, kecenderungan ini harus diwaspadai dalam pengembangan sistem manajemen pendidikan desentralistik. Masalah ini menjadi serius apabila dalam proses pendidikan menghasilkan chauvinisme kedaerahan yang sempit. Persoalan lainnya adalah kesulitan dalam penetapan standar kualitas pendidikan secara nasional.&lt;br /&gt;Melihat masalah ini, dapat dibandingkan dengan negara dengan sistem manajemen pendidikan desentralistik. Hampir semua negara yang menganut sistem desentralisasi pendidikan memiliki sistem pemerintahan federal. Dalam sistem desentralisasi yang dianut oleh negara-negara tersebut, pemerintah pusat hanya menentukan kerangka kurikulum nasional, tetapi penjabarannya dilakukan oleh negara bagian atau sekolah. Di India, penjabaran kurikulum nasional untuk tingkat SD dilakukan oleh distrik (setingkat kabupaten), negara bagian hanya menjabarkan kurikulum untuk tingkat sekolah menengah. Bahkan, kurikulum pendidikan Amerika Serikat dan Jerman disusun dan dijabarkan sepenuhnya oleh negara bagian. Pada negara-negar tersebut, tidak ada ujian nasional. Ujian akhir hanya diadakan oleh negara bagian/distrik, dengan mengacu pada standar nasional.&lt;br /&gt;Dalam konteks Indonesia, manajemen pendidikan nasional dapat dibangun secara desentralistik dengan tetap dalam kerangka negara kesatuan. Indonesia bukan negara federal murni, tetapi daerah memiliki kewenangan lebih dalam mengatur kehidupan rumah tangganya, sesuai dengan UU No. 22/1999. Pemerintah pusat menetapkan kerangka kurikulum dan standar nasional yang akan dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum daerah. Kerangka kurikulum nasional ini berfungsi untuk memperkuat kohesi nasional dan mengantisipasi kecenderungan global yang harus dihadapi oleh daerah. Kerangka ini terdiri dari kurikulum pendidikan Bahasa Indonesia, Pancasila, Bahasa Inggris, maupun Pendidikan Agama, serta beberapa mata pelajaran kemampuan dasar (basic skills). Daerah kemudian menerjemahkan dan menjabarkan kerangka ini menjadi kurikulum daerah.&lt;br /&gt;Untuk sistem evaluasi, pemerintah daerah harus diberi kewenangan dalam menyelenggarakan ujian. Ujian daerah ini tetap mengacu pada standar nasional yang ingin dicapai. Secara teknis, ujian daerah ini lebih mudah pelaksanannya. Sehingga, daerah bisa dengan leluasa menyelenggarakan ujian dengan berbagai macam variasi untuk mendapatkan gambaran kualitas yang sebenarnya dari pendidikan. Selain itu, pengawasannya lebih mudah, sehingga dapat mereduksi berbagai kecurangan dalam ujian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Kurikulum yang Relevan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kurikulum merupakan instrumen utama pendidikan dalam mengatur arah dan tujuan pendidikan. Kualitas pendidikan ditentukan oleh kemampuan kurikulum dalam membekali anak didik dengan kemampuan untuk menghadapi dunia nyata, disamping kualitas guru/dosen dalam menerjemahkan kurikulum dalam proses pengajaran. Menurut keberdampakannya pada siswa, Raka Joni (2000) membagi kurikulum menjadi lima tataran yang berbeda, yaitu :&lt;br /&gt;a. Kurikulum ideal, yang mengandung segala sesuatu yang dianggap penting dan perlu dimasukkan ke dalam pendidikan.&lt;br /&gt;b. Kurikulum formal, adalah kurikulum yang ditampilkan dalam bentuk dokumen resmi kurikulum.&lt;br /&gt;c. Kurikulum interaksional, adalah terjemahan dari kurikulum formal menjadi seperangkat skenario pembelajaran.&lt;br /&gt;d. Kurikulum operasional, adalah perwujudan objektif dari niat kurikulum instruksional dalam bentuk interaksi pembelajaran.&lt;br /&gt;e. Kurikulum eksperiensial, adalah makna dari pengalaman belajar yang terhayati oleh siswa.&lt;br /&gt;Sementara Belen (2000), mengemukakan terdapat tiga pendekatan kurikulum, yaitu :&lt;br /&gt;a. Pendekatan konten, yang menekankan daftar/topik/tema/bidang mata pelajaran yang biasanya dijabarkan dari ilmu. Akibatnya, materi amat menekankan pengembangan ranah kognitif dan melalaikan pengembangan ketrampilan dasar mata pelajaran serta sikap dan nilai.&lt;br /&gt;b. Penekatan outcome, disebut juga pendekatan kompetensi atau kemampuan dasar, menekankan pada pengembangan ketrampilan dasar mata pelajaran disamping pengetahuan, pemahaman serta sikap dan nilai.&lt;br /&gt;c. Kombinasi antara konten dan outcome.&lt;br /&gt;Akibat materi kurikulum yang cenderung abstrak, pada tataran interaksional maupun operasional banyak mengalami hambatan sehingga dalam proses pembelajaran cenderung mereduksi kurikulum tersebut. Selanjutnya kegagalan pada tataran interaksional dan operasional akan menyebabkan kegagalan pada tataran eksperiensial.&lt;br /&gt;Inilah yang terlihat pada dunia pendidikan kita selama ini. Siswa tidak pernah dirangsang untuk berdialog dan berdiskusi. Siswa dituntut untuk menyelesaikan target kurikulum yang demikian padat. Selain itu, pendekatan konten dalam kurikulum nasional menyebabkan target-target kurikulum itu masih menekankan pada aspek kognitif, dan melupakan aspek-aspek lain.&lt;br /&gt;Pendidikan yang demokratis harus memberlakukan beragam metode yang menggali kemampuan siswa untuk berperan secara akif, dengan mengakui perbedaan kemampuan intelektual, kecepatan belajar, sifat, sikap, dan minatnya (Semiawan, 2000). Kurikulum pendidikan seharusnya disusun dengan melihat kemampuan siswa yang berbeda-beda. Menurut Howard Gardner, penggagas multiple intelligences, setiap orang memiliki satu kecerdasan yang cenderung menonjol di antara kecerdasan yang lain. Perbedaan kemampuan siswa ini harus diakomodasi dalam sebuah kurikulum yang memungkinkan siswa mengembangkan seluruh potensi dan kemampuannya secara optimal.&lt;br /&gt;Agar tujuan pendidikan dapat tercapai, dalam penyusunan kurikulum hendaknya beralih dari pendekatan konten ke pendekatan outcome. Dengan pendekatan outcome, siswa dibekali dengan kemampuan dasar mata pelajaran yang memungkinkannya untuk menghadapi kehidupan nyata dan mengantisipasi masa depan. Pendekatan konten memungkinkan terjadi reduksi antara proses pembelajaran dengan kurikulum. Tetapi dengan pendekatan outcome, terjadi sinergitas antara proses pembelajaran dengan kurikulum.&lt;br /&gt;Langkah pemerintah untuk menyusun Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) patut diapresiasi. Ada dua catatan yang harus diperhatikan dalam penyusunan KBK ini. Pertama, kurikulum ini masih disusun secara sentralistik oleh pemerintah dan tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. Kurikulum ini belum mengakomodasi kepentingan daerah secara khusus. Akibatnya, kurikulum ini masih belum memiliki relevansi dengan kehidupan nyata masyarakat. Kedua, implementasi dari KBK masih terkesan tergesa-gesa tanpa mempersiapkan perangkat yang dapat mendukung. Akibatnya, di beberapa tempat terjadi kesalahmengertian tentang KBK dan ketidaksiapan dalam pelaksanaannya.&lt;br /&gt;Setelah kerangka kurikulum formal terbentuk, maka harus segera disusun model pembelajaran (kurikulum interaksional atau operasional) yang dapat menterjemahkan kerangka kurikulum formal tersebut. Beberapa metode pembelajaran itu adalah student centered learning dan problem based learning. Dalam student centerde learning, siswa menjadi pusat proses pendidikan. Siswa didorong untuk menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Siswa hanya diajarkan pengetahuan yang sifatnya dasar, sehingga siswa lebih terdorong untuk bertanya. Dalam metode problem based learning, siswa dihadapkan pada persoalan nyata sehari-hari dan didorong untuk menyelesaikan masalah tersebut. Diharapkan, muncul ide-ide kreatif dan inovatif dari siswa.&lt;br /&gt;Pemerintah, baik pusat maupun daerah harus menyiapkan semua perangkat yang dibutuhkan terlebih dahulu sebelum mengeluarkan sebuah kebijakan. Ketersampaian pesan pendidikan sangat tergantung bukan pada materi pesan yang ingin disampaikan, melainkan pada cara penyampaiannya – the process is the content, the medium is the massage. Dengan persiapan perangkat ini, terjadi sinergitas antara kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dengan implementasi di lapangan, yang melibatkan banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Kebijakan Buku&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Selama ini, salah satu masalah yang sering muncul dalam pendidikan nasional adalah masalah buku teks. Isi/materi buku teks dipengaruhi oleh kurikulum formal yang digunakan dalam sistem pendidikan. Kecenderungan kurikulum yang berubah, selalu diikuti oleh perubahan buku teks yang digunakan dalam proses pengajaran. Akibatnya, masa pakai buku teks sangat singkat. Di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu saat ini, hal ini tentu saja memberatkan orang tua siswa.&lt;br /&gt;Persoalan lain terkait dengan penetapan dan pengadaan buku teks pelajaran. Penetapan buku teks selama ini masih menjadi kebijakan pemerintah pusat tanpa melibatkan pihak sekolah selaku pelaksana pendidikan. Sementara itu, monopoli pengadaan buku menyebabkan harga buku teks dipermainkan oleh penerbit. Akibatnya, harga buku teks menjadi mahal dan sulit terjangkau oleh orang tua siswa. Monopoli pengadaan buku kadang disertai dengan kolusi antara pihak sekolah dengan penerbit. Akibatnya, sekolah menjadi ladang bisnis penjualan buku teks oleh pihak sekolah.&lt;br /&gt;Dalam regulasi perbukuan yang dikeluarkan pemerintah, memuat kebijakan bahwa buku pelajaran hanya memuat konsep-konsep dasar pengetahuan yang tidak banyak perubahan dalam kurun waktu lima tahun. Dari kebijakan tersebut diharapkan tidak terjadi pergantian buku selama ditinjau dari segi keilmuan dan pengetahuan masih layak. Untuk mencapai target tersebut, perbaikan kurikulum mutlak diperlukan. Seperti disebutkan di atas, kerangka kurikulum nasional hendaknya berisi kemampuan dasar mata pelajaran yang relatif tidak berubah untuk jangka waktu lama (minimal lima tahun). Materi buku teks yang digunakan akan disesuaikan dengan kurikulum tersebut, sehingga masa pakai buku teks tersebut dapat diperpanjang.&lt;br /&gt;Dalam konteks desentralisasi pendidikan, di mana kurikulum lokal disusun oleh daerah, maka kehadiran penerbit lokal harus terus didorong. Untuk mencegah monopoli, sebaiknya pengadaan buku diserahkan kepada swasta. Sekolah, kemudian memilih buku teks yang akan di gunakan selama proses pembelajaran. Pemilihan buku ini harus didasarkan pada kurikulum nasional maupun daerah yang digunakan. Artinya, harus dilihat apakah buku teks tersebut sinergi dengan kurikulum atau justru mereduksinya. Buku teks yang digunakan seharusnya sinergis dengan kurikulum yang digunakan.&lt;br /&gt;Fungsi buku teks yang hanya memuat konsep-konsep dasar pengetahuan, tidak dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat dewasa ini. Karena itu, mutlak diperlukan adanya buku-buku pendukung. Sayang, kebiasaan membaca masyarakat masih sangat rendah. Ini diperparah dengan kecilnya anggaran yang disisihkan untuk belanja buku. Bahkan, ketiadaan anggaran untuk membeli buku mencapai 80 %. Selain faktor pendidikan, tingkat ekonomi masyarakat turut memengaruhi pola konsumsi buku. Bagi sebagian besar penduduk Indonesia, buku masih merupakan barang mahal, karena tingkat penghasilan rakyat yang masih rendah, dan bukan kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi.&lt;br /&gt;Selama ini, pemerintah belum memerhatikan secara serius masalah perbukuan. Persoalan mahalnya harga buku dapat diantisipasi dengan mendirikan perpustakaan umum yang mudah diakses oleh masyarakat dan pemberian insentif (subsidi) terhadap berbagai komponen perbukuan maupun pembebasan beragam pajak yang dilekatkan dalam industri perbukuan. Pemberian insentif dan pembebasan pajak dapat mendorong penurunan harga buku, sehingga terjangkau oleh tingkat pendapatan masyarakat dan konsumsi buku masyarakat meningkat. Selain itu, pemerintah perlu mendorong peningkatan minat baca masyarakat dengan menggalakkan kampanye gemar membaca.&lt;br /&gt;Peran dan Tanggung Jawab Pelaku Pendidikan&lt;br /&gt;Tanggung jawab pembangunan manusia Indonesia tidak hanya dibebankan kepada pemerintah. Para pelaku pendidikan (orang tua/masyarakat, guru/dosen, serta siswa/mahasiswa) juga memiliki peran yang sangat penting. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Orang Tua/Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pelaku pendidikan yang utama dan pertama adalah orang tua, sedangkan sekolah hanya memainkan peran sebagai pembantu. Artinya, dalam sekolah hanya berlangsung proses pendidikan yang mendukung ke pengajaran.&lt;br /&gt;Peran orang tua/masyarakat Indonesia dalam menyiapkan generasi penerus bangsa masih harus terus ditingkatkan. Kegiatan belajar, dalam hal ini membaca, seharusnya tidak hanya berlangsung di sekolah. Selepas sekolah, siswa dapat melanjutkan dan mengembangkan proses belajar dengan bantuan orang tua. Tetapi sayangnya, para orang tua dan masyarakat kurang menyadari peran dan tanggung jawabnya. Para orang tua cenderung hanya mencukupi segala kebutuhan materi bagi anaknya yang sekolah. Padahal menurut Illich (2000:ix) bahwa etos masyarakatlah, dan bukan hanya lembaga, yang harus dibebaskan dari kecenderungan yang menganggap sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah ternyata anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Ini memberikan bukti bahwa selama ini proses pendidikan hanya menciptakan manusia-manusia yang berperilaku seperti robot. Akibatnya, anak-anak tidak mampu berpikir dan bertindak kreatif.&lt;br /&gt;Untuk menumbuhkan minat pada buku, pertama-tama yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma dalam memandang buku. Buku hendaknya dianggap sebagai makanan untuk rohani. Agar menyenangkan, ketika membaca buku tinggalkan cara lama yaitu memandang terus-menerus rangkaian kata-kata dalam buku. Sebaiknya menggunakan metode multiple intelligences yang meliputi S (somatis), A (audio), V (visual), dan I (intelektual).&lt;br /&gt;Kemampuan bernalar anak-anak tidak dapat dilepaskan dari kemauan dan cara belajarnya. Seringkali orang tua memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka. Hal demikian akan menghambat kreatifitas anak-anak. Padahal, setiap anak memiliki kemauan dan cara belajar sendiri-sendiri, yang tidak sama antara anak yang satu dengan yang lain. Di sinilah orang tua harus jeli. Penerapan metode belajar kecerdasan majemuk (multiple intelligences) akan sangat membantu orang tua dalam memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.&lt;br /&gt;Dalam sudut pandang psikologi, usia lima tahun pertama merupakan masa kritis bagi perkembangan anak. Pada usia sekian terjadi pembentukan struktur dasar kepribadian anak. Mengingat hal tersebut, pola pendidikan anak balita harus disesuaikan dengan kepribadian dasar si anak, yaitu kasih sayang yang utuh. Hal tersebut akan mendorong perilaku positif dari anak kepada keluarga maupun sebaliknya, sehingga mampu merangsang timbulnya daya kreatifitas anak.&lt;br /&gt;Seto Mulyadi menegaskan bahwa untuk menumbuhkan dan mengembangkan kreatifitas anak, setiap keluarga harus memerhatikan dua hal, yaitu keamanan dan kebebasan psikologis. Keamanan psikologis artinya memberi suasana gembira agar anak mampu menunjukkan eksistensi diri yang sesuai dengan keinginannya, tanpa mendapat penilaian yang terburu-buru dari keluarga atau orang tua yang justru dapat mematikan kreatifitas. Kebebasan psikologis artinya memberi kesempatan si anak untuk mengungkapkan segala ide-ide maupun pendapatnya. Peran keluarga sebagai fasilitator pertumbuhan anak sangat penting. Untuk itu keluarga harus mampu melihat potensi yang ada pada anak. Peran keluarga juga tak kalah penting ketika si anak mendapat masalah. Di sini, keluarga berperan memberikan terapi untuk mengembalikan suasana kegembiraan dalam kehidupan anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Guru/Dosen&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini ditegaskan oleh Paul Suparno (2002:58-59) bahwa guru merupakan ujung tombak kesuksesan pelaksanaan pendidikan. Tanpa guru sebagus apapun kurikulum yang dirancang, tidak akan menghasilkan pendidikan yang berkualitas.&lt;br /&gt;Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah disebabkan oleh profesionalisme pengajar di Indonesia masih merupakan cita-cita yang belum menjadi realita. Sosok pengajar yang baik adalah pengajar yang selalu menunjukkan hasrat dan keinginan yang besar untuk terus-menerus belajar. Muchtar Buchori menyebutkan ada lima ciri profesional, yaitu : sikapnya yang altruistik; tingkat keahlian melakukan hal-hal yang biasa dengan cara yang luar biasa; tidak pernah menyebut dirinya profesional, tetapi memperoleh pengakuan itu dari masyarakat; hidup berlandaskan nilai-nilai etis; dan melakukan pekerjaan itu untuk mencari nafkah.&lt;br /&gt;Paradigma pengajaran konvensional, yang selama ini digunakan oleh para guru dan dosen, agaknya harus segera ditinggalkan. Ketika sang guru (master) tidak lagi menganggap dirinya sebagai sumber informasi atau model keterampilan yang lebih hebat, anggapan mereka bahwa mereka mempunyai kearifan yang lebih hebat akan mengandung kebenaran (Illich, 2000:129)&lt;br /&gt;Perubahan sosial, budaya dan teknologi yang kian cepat harus disadari oleh para pendidik. Para pendidik harus mampu menciptakan suasana yang nyaman bagi siswa maupun mahasiswa dalam belajar. Penciptaan suasana yang nyaman dan menyenangkan mampu membuat suasana belajar lebih efektif. Juga perlu dirubah paradigma belajar dari teaching oriented menjadi student center learning sehingga terjadi proses pembelajaran dua arah. Hasilnya, akan tercipta manusia-manusia pembelajar yang memiliki semangat tinggi untuk membangun bangsanya.&lt;br /&gt;Untuk tujuan tersebut perlu diperhatikan tujuan pendidikan di perguruan tinggi dan praperguruan tinggi. Pasalnya, tidak semua siswa akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Hal ini perlu diperhatikan karena akan sangat memengaruhi pola pendidikan dan pengajaran yang digunakan. Pater Drost (1990:5) memberikan kritik terhadap para pengajar di perguruan tinggi bahwa seorang ilmuwan sejati seharusnya tidak akan, atau bahkan menolak, mendidik sarjana yang tidak mampu berpikir dan berkreatifitas. Di sinilah pentingnya pendidikan praperguruan tinggi sebagai tempat menyiapkan calon mahasiswa yang mampu bernalar dan berkreatif. Pendidikan yang didasarkan pada multiple intelligences akan menghasilkan calon mahasiswa yang memiliki kreatifitas untuk menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Siswa/Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tanggung jawab pendidikan, dan akhirnya ketersediaan lapangan kerja, merupakan tanggung jawab semua pihak. Setelah pemerintah, para orang tua/masyarakat, dan guru/dosen bekerja optimal meningkatkan kualitas pendidikan, kini saatnya para peserta didik mengambil peran.&lt;br /&gt;Berbekal moral (hasil dari pembelajaran), pengetahuan (hasil dari pengajaran) dan keterampilan (hasil dari pelatihan) manusia Indonesia diharapkan mampu mendayagunakan kreatifitasnya untuk memecahkan berbagai persoalan sosial, budaya, ekonomi maupun politik dengan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat yang tentunya tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa. Inilah manusia Indonesia yang dicita-citakan oleh Mangunwijaya yang harus punya kebiasaan eksplorasi diri, berani dan tahu caranya bertanya dan memperoleh informasi untuk memecahkan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat.&lt;br /&gt;Proses pembelajaran seperti yang dicita-citakan Mangunwijaya tersebut hanya dapat dilakukan apabila setiap manusia Indonesia menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia yang harus terus-menerus belajar sepanjang hayat. Belajar tidak hanya dilakukan dalam institusi formal pendidikan, tetapi juga belajar dari lingkungan dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KESIMPULAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya kualitas SDM Indonesia berpangkal pada rendahnya kualitas pendidikan nasional. Penyebabnya antara lain: (1). Kekurangan anggaran, (2). Manajemen pendidikan yang sentralistik-birokratis, (3). Kurikulum yang tidak relevan dengan kebutuhan nyata dan cenderung mengutamakan aspek kognitif, (4) Metode pembelajaran yang menempatkan siswa/mahasiswa sebagai obyek, dan (5) Sinergitas antara pemerintah dan para pelaku pendidikan yang kurang.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, beberapa hal yang mendesak yang harus dilakukan antara lain:&lt;br /&gt;a. Realisasi anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN.&lt;br /&gt;b. Meningkatkan kesejahteraan para pendidik (guru/dosen)&lt;br /&gt;c. Desentralisasi manajemen pendidikan nasional yang menyangkut kurikulum, ketenagaan, pembiayaan, evaluasi, dan metode pembelajaran.&lt;br /&gt;d. Keterpaduan antara pemerintah, baik pusat maupun daerah, dengan para pelaku pendidikan (orang tua/masyarakat, guru/dosen, siswa/mahasiswa,) dalam perencanaan pendidikan.&lt;br /&gt;e. Mendorong minat baca masyarakat dengan kampanye gemar membaca dan mendirikan perpustakaan umum. Selain itu, memberikan insentif dan pembebasan pajak agar harga buku menjadi murah dan terjangkau.&lt;br /&gt;Metode pembelajaran yang digunakan selama ini tidak efektif karena cenderung mengeliminasi peran siswa dalam proses pembelajaran. Sistem KBK yang dikembangkan pemerintah masih memiliki kekurangan dalam paradigma dan implementasi.&lt;br /&gt;Metode pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan potensi, kemauan, dan kemampuan siswa yang didasarkan pada multiple intelligences.&lt;br /&gt;Pendidikan hendaknya dikembangkan dan disesuaikan dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi informasi dalam kehidupan masyarakat terkini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Armstrong, T., Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan, cetakan ke-3, Kaifa, Bandung , 2004.&lt;br /&gt;Baswir, R., Menolak BBM Naik, Kedaulatan Rakyat, 23 Februari 2005.&lt;br /&gt;Belen, S., Ebtanas, Kurikulum, dan Buku Pelajaran, Basis Nomor 07 – 08 Tahun ke -49, Juli – Agustus 2000, Kanisius, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;Buchori, M., Peranan Pendidikan dalam Budaya Politik di Indonesia, Basis Nomor 07 – 08 Tahun ke -49, Juli – Agustus 2000, Kanisius, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;Drost, J., Untuk Apa Perguruan Tinggi Didirikan?, Prisma Nomor 1 edisi 1990, LP3ES, Jakarta, 1990.&lt;br /&gt;Freire, P., Illich, I., Menggugat Pendidikan: Konservativisme, Liberalisme, dan Kritis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;Hernowo, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan “Word Smart”, cetakan ke-3, Kaifa, Bandung, 2004.&lt;br /&gt;Harefa, A., Menjadi Manusia Pembelajar, cetakan ke-6, Gramedia, Jakarta 2000.&lt;br /&gt;Harefa, A., Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup, cetakan ke-2, Gramedia, Jakarta, 2002.&lt;br /&gt;Illich, I., Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2000.&lt;br /&gt;Kuroyanagi, T., Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, cetakan ke-2, Gramedia, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;Lie, A., Menggugat Tanggung Jawab Negara atas Pendidikan, Kompas, 5 Agusrus 2004.&lt;br /&gt;Mangunwijaya, Y. B., Impian dari Yogyakarta: Kumpulan Esai Masalah Pendidikan, Kompas, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;O’Neill, W., Ideologi-ideologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.&lt;br /&gt;Poedjinoegroho, E. B., Latihan Mengasah Hati Nurani untuk Berkembang, Basis Nomor 07-08 Tahun ke-51, Juli-Agustus 2002, Yogyakarta, 2002.&lt;br /&gt;Joni, T. R., Memicu Perbaikan Pendidikan Melalui Kurikulum, Basis Nomor 07 – 08 Tahun ke -49, Juli – Agustus 2000, Kanisius, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;Silaban, S., Suka, S. G., dan Donald, P. (ed), Pendidikan Indonesi : dalam Pandangan Lima Belas Tokoh Pendidikan Swasta, Dasamedia Utama, Jakarta, 1993.&lt;br /&gt;Suparno, P., Sikap Guru dalam Menghadapi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Basis Nomor 11-12 Tahun ke-51 November-Desember 2002, Yogyakarta, 2002.&lt;br /&gt;Suparno, P., Kurikulum SMU yang Menunjang Pendidikan Demokrasi, Basis Nomor 07 – 08 Tahun ke -49, Juli – Agustus 2000, Kanisius, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;Semiawan, C., Relevansi Kurikulum Pendidikan Masa Depan, Basis Nomor 07 – 08 Tahun ke -49, Juli – Agustus 2000, Kanisius, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;Tilaar, H.A.R., Manajemen Pendidikan Indonesia: Kajian Pendidikan Masa Depan, cetakan ke-6, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003&lt;br /&gt;Topatimasang, R., Sekolah Itu Candu, cetakan ke-4, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-1604576320339506190?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/1604576320339506190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=1604576320339506190&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/1604576320339506190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/1604576320339506190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/05/menyoal-pendidikan-kita.html' title='Menyoal Pendidikan Kita'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360784789886574322.post-4909131901521920059</id><published>2008-05-06T12:33:00.002+07:00</published><updated>2008-05-06T12:37:41.607+07:00</updated><title type='text'>Wilujeng Sumping</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Selamat datang,,, kata-kata seperti itu banyak dipasang dipinggir jalan tiap masuk kota di Indonesia. Bukti keramahan bangsa ini. Karena aku adalah bagian dari bangsa tersebut, maka tolong terima keramahanku juga, dengan mengucapkan Selamat datang diduniaku, dunia simulakral tentunya. Orang Jawa bilang Sugeng Rawuh, Urang Sunda bilang Wilujeng Sumping, Kalo orang Arab bilang Ahlan Wa Sahlan, Tapi kalau orang Namibia ga tahu bilangnya…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya ini bukanlah yang pertama aku nulis blog. Tapi bikin blog khusus, ini juga bukan yang pertama. Yang pertama pake Wordpress, tapi karena alasan teknis (lupa password:)), jadi aku bikin baru lagi aja.  Sebelumnya banyak nulis di FS (yang aku lupa alamat blognya). Sebenarnya inipun karena ikut-ikutan tren yang berkembang sekarang. Jadi biar ngga dikatain katrok, ndeso, jadul, de es be…Jadi tolong jangan katakan bahwa aku juga udah mulai ikut-ikutan &lt;em&gt;mass culture&lt;/em&gt; yang menghilangkan identitas unik pribadi. Bukan karena itu. Juga bukan karena sekarang era terbuka, sehingga aku perlu membuka semua hal tentangku disini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Percayalah, hanya lewat blog aja, anda ga akan tahu siapa saya sebenarnya. Dalam dunia simulakral, antara nyata dan ga nyata sulit (untuk tidak mengatakan ga bisa) dibedakan, karena kita bermain di wilayah citra. Ketika masuk wilayah citra, harus dilihat apa kepentingannya. Dan akhirnya dunia tersebut hanyalah menjadi medan perebutan makna tanpa tahu entitas realitas yang sebenarnya (apaan sich...).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi bagaimanapun juga, dengan membaca blogku ini, semoga muncul rasa ingin tahu. Bukankah rasa ingin tahu adalah pintu masuk ke wilayah pengetahuan ? So, jangan biarkan dahaga rasa ingin tahu anda tidak terpuaskan. Eksplorasi lebih jauh, dan pilah-pilah mana yang nyata dan mana yang tidak, maka anda akan menemukan pengetahuan yang sebenarnya. Bukankah pengetahuan yang sebenarnya dekat dengan kebijaksanaan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360784789886574322-4909131901521920059?l=wong-samin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wong-samin.blogspot.com/feeds/4909131901521920059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360784789886574322&amp;postID=4909131901521920059&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/4909131901521920059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360784789886574322/posts/default/4909131901521920059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wong-samin.blogspot.com/2008/05/wilujeng-sumping.html' title='Wilujeng Sumping'/><author><name>wong-samin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13779680043045606193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_2NgZ192SPrs/SRqIEKPrMMI/AAAAAAAAAHU/jzXPocoO18A/S220/DSC08169.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
