Jumat, 03 April 2009

Arsitektur Kota Jawa: Kosmos, Kultur, dan Kuasa (Jo Santoso)

Apa yang terjadi ketika manusia yang mendiami sebuah kota tidak merasa menjadi bagian dari kota tersebut? Ketika sebuah kota menjadi begitu konformistis dan seragam, tidak memiliki orisinalitas dan identitas budaya. Ketika pusat kota menjadi lokasi konsumsi daripada sebagai pusat budaya, dan hubungan yang terjadi didalamnya bersifat anonim. Ketika kota hanya menjadi the temple of consumerism, tempat pemujaan bagi pemuasan nafsu belanja. Maka yang terjadi adalah perasaan teralienasi dengan akar budaya dan tradisi. Lantas, apa yang salah?
Pertanyaan itulah yang coba diungkap dalam buku setebal 234 halaman ini. Buku ini mencoba meneliti prinsip-prinsip dasar dalam pembentukan ruang dan kota di Jawa, Dan bagaimana kemudian ruang kota dan permukiman ditata sedemikian rupa sehingga mampu memberi wujud dan tubuh pada pemikiran dan kesadaran religius dan budaya masyarakat Jawa, sehingga menghasilkan harmoni antara jagad ageng dengan jagad alit, antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan alam dan manusia lain. Dengan kajian sejarah arsitektur yang komprehensif, disertai dengan kajian sosiologis dan antropologis yang memadai, penelusuran sejarah arsitektur dan tata ruang kota dalam buku ini membawa kita pada kesimpulan-kesimpulan yang mengejutkan.
Kajian dimulai dari zaman Megalitikum di pulau Nias, yang oleh Jo Santoso dianggap menjadi cikal bakal dan dasar yang kemudian berkembang menjadi prinsip umum tata kota di Jawa, bahkan di Nusantara. Permukiman pulau Nias yang berasal dari kebudayaan Melayu proto memiliki konsep dasar berupa mikrokosmos dualistis, adanya pembagian wilayah untuk yang sakral dan yang profan. Yang sakral dan yang profan ini membangun hubungan antara manusia dengan “dunia atas” serta dengan sesama manusia dan alam. Prinsip ini terus bertahan sekalipun setelah masuknya kebudyaan Melayu-deutero. Yang ada sebelumnya hanya melakukan proses integrasi terhadap unsur-unsur kebudayaan baru.
Dalam kajiannya pada Borobudur dan Prambanan, penulis menunjukkan kuatnya dimensi religius (spiritual) dan kesadaran kosmis dalam arsitektur Jawa. Di masa kejayaan Budha Mahayana, Borobudur merupakan sebuah penjabaran pusat dari totalitas keruangan. Manifestasi dari kerinduan manusia akan pembebasan sejati dan pertemuan dengan Sang Mahakuasa. Untuk mencapai tujuan itu, maka Borobudur harus mengatasi dimensi material (batu-batuan sebagai komponen utama Borobudur) sebagai bentuk penolakan terhadap kehidupan fana. Dan stupa di puncak Borobudur adalah simbol dari perjumpaan dengan Maha Kuasa dan kesatuan kosmis. Arsitektur dan penataan ruang Borobudur akhirnya membawa manusia meleburkan seluruh dimensi kehidupannya pada sebuah kehidupan yang bermakna religius.
Pada candi Prambanan, fungsinya lebih dari sekadar bangunan sakral, tetapi juga mencoba untuk menjabarkan hubungan yang hierarkis antara manusia dengan dewa serta alam dan manusia lainnya. Kecenderungan candi yang paling besar (Siwa) di pusat dan kemudian candi-candi yang semakin ke luar semakin kecil merupakan hierarkis pemujaan terhadap dewa-dewa dengan tingkatan yang berbeda. Candi ini juga bukan sebuah sentrum pemujaan tanpa batas, tapi dibatasi oleh ruang yang terbatas (hal 72). Candi ini juga menjadi tonggak arsitektur pagar keliling, yang pada tahap selanjutnya akan banyak mewarnai arsitektur dan penataan ruang kota di Jawa. Menurut Maclaine Pont, arsitektur inilah yang khas Jawa, dan tetap dipertahankan sampai era Islam. Dan Prambanan adalah awal dari proses rejavanisasi.
Pada zaman Majapahit, proses rejavanisasi mencapai puncaknya. Prinsip dasar mikrokosmos dualistis dan arsitektur pagar keliling tetap dipertahankan. Upaya rekonstruksi ibukota Majapahit menunjukkan bahwa terdapat ruang/wilayah sakral dan profan di dalamnya. Wilayah sakral ada di sebelah selatan dan wilayah profan di sebelah utara yang dibatasi oleh jalan (Pigeaud), permpatan (Maclaine Pont). Alun-alun (Slamet Muljana). Bangunan di ilayah sakral adalah istana/kraton, kadharmadyaksan, candi budha dan siwa, Sedang wilayah utara ditempati pasar, administrasi kota, kediaman Mahapatih, dan permukiman orang asing (Arab, India, dan Cina).
Sementara untuk penerapan prinsip mikrokosmos hierarkis dilakukan dengan hubungan yang dibangun antarelemen dalam sistem compound dan manor. Hubungan satuan-satuan teritorial ini membentuk sebuah satuan mikrokosmos yang sifatnya lebih tinggi. Dengan cara inilah keseimbangan kehidupan sosial budaya dan`kemasyarakatan diwujudkan. Ketiadaan pagar yang mengelilingi ibukota Majapahit tidak berarti bahwa penerapan prinsip mikrokosmos hierarkis ini tidak bersifat total. Konsep ruang di Jawa tidak mengutamakan batasan teritorial, tetapi lebih pada hubungan antara elemen-elemen pembentuk ruang (hal 111).
Bentuk dan prinsip ini tetap dipertahankan pada zaman Islam, dengan lebih memperkuat fungsi alun-alun. Ada sebuah kontinuitas dalam pembentukan ruang kota dari sejak zaman Majapahit sampai zaman Islam (Banten, Pajang, Mataram). Dalam penelitian terhadap kota-kota Islam Banten, Pajang, serta Mataram (Plered, Surakarta, dan Kertasura), terdapat kesamaan dalam penggunaan poros sebagai orientasi ruang kota. Ada dua varian penggunaan poros, yaitu poros tunggal yang memanjang dari Selatan ke Utara, dan yang kedua adalah poros ganda (Selatan – Utara) yang mengapit alun-alun.
Alun-alun pada zaman Islam mengalami revitalisasi, dan memiliki arti dan fungsi yang berbeda. Pada zaman Islam, alun-alun melambangkan tegaknya sistem kekuasaan atas wilayah tertentu, sekaligus melambangkan tujuan dari penegakan sistem kekuasaan tersebut, yaitu menciptakan harmonisasi antara dunia nyata (mikrokosmos) dan universum (makrokosmos). Alun-alun berfungsi tempat perayaan ritual dan upacara keagamaan yang penting, seperti upacara grebeg mulud, grebeg sawal, dan grebeg besar. Selain itu, alun-alun juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan militer yang bersifat profan dan merupakan instrumen kekuasaan dalam mempraktekkan kekuasaan sakral penguasa (hal 176). Di sini, alun-alun menjadi penting sebagai ruang publik terbuka yang sifatnya demokratis dan egaliter.
Kajian tentang beberapa kota seperti Pajang, Kotagede, Plered, sampai Surakarta dan Yogyakarta, menunjukkan bahwa kota Jawa berhubungan erat dengan prinsip-prinsip filsafat serta religius budaya yang dipahami sebagai sebuah kesatuan kolektif. Karena itu pengaturan tata ruang kota diatur dengan kaidah-kaidah kosmografis Jawa. Kosmografis Jawa juga mengatur hakikat hubungan antara manusia dengan benda, termasuk manusia dengan lingkungan bangunan. Kaitannya dengan itu, kegiatan pemerintahan dan sosial budaya religius bukan sekedar upacara religius semata, tapi mencoba untuk mendemonstrasikan sebuah hubungan sosial tertentu antarkelompok masyarakat. (hal 177)
Yang tak kalah penting adalah kemampuan kota Jawa untuk mendukung proses peradaban (civilization) lewat terbentuknya landasan religius-budaya antara elit penguasa dengan rakyat. Penguasa memberikan fasilitas kepada para tenaga ahli dan profesional agar dapat berkarya dalam satuan permukiman khusus. Satuan permukiman khusus ini pada gilirannya menopang kekuasaan sakral raja (hal 178-179). Struktur tata ruang dan permukiman kota-kota Jawa merupakan aplikasi instrumen dan pemberi wujud pada kehidupan sosial budaya religius-sakral masyarakat Jawa.
Kota-kota di Jawa merupakan bentuk kota yang khas dan unik, tidak ada duanya di dunia. Bentuk kota di Jawa berbeda dan bukan salinan dari bentuk kota yang berkembang di India dan Cina, dua kebudayaan besar yang selama berabad-abad memiliki pengaruh yang kuat di Nusantara. Dan ini tak lepas dari sistem kepercayaan dan filsafat masyarakat Jawa, yang mampu mensintetiskan hasil-hasil kebudayaan besar yang masuk ke Jawa tanpa harus menghilangkan kebudayaan asli Jawa. Struktur tata ruang kota di Jawa memungkinkan masyarakat untuk menerima ide-ide baru dari luar, mensintetiskan dan mengintegrasikan dengan kebudayaan lokal tanpa meninggalkan dan menghilangkan kebudayaan asal.
Di tengah perkembangan kota yang semakin tidak terarah, jauh dari nilai-nilai ideal budaya dan tradisi lokal bangsa, maka belajar dari kearifan leluhur dalam membangun kota menjadi relevan. Pengembangan arsitektur dan tata ruang kota harus berjalan seiring dengan perubahan dan transformasi masyarakat. Artinya, ada sebuah kontinum ruang – waktu yang semestinya tidak diputus secara semena-mena. Maka, dalam pembangunan dan pengembangan kota, sudah selayaknya memeperhatikan sejarah perkembangan masyarakat, termasuk didalamnya dimensi sosial budaya dan religius masyarakat, seperti yang dicontohkan oleh nenek moyang kita. Buku yang merupakan bagian dari disertasi penulis di Fakultas Arsitektur Technische Universitaet Berlin yang berjudul Zur Problematik des Baulich-raeumlichen Transformations-prozesses in der Vorkolonialen epochs Javas/Indonesiens, dapat menjadi rujukan yang berharga bagi para perencana kota, arsitek, insinyur dan terutama pengambil kebijakan perkotaan. Sejarah adalah kunci untuk melihat dan memahami masa depan. Kita harus belajar dari sejarah dalam membangun kota yang harmonis dan selaras antarelemen pendukungnya, bukan hanya elemen-elemen dalam satuan fungsi ekonomi semata, tapi juga unsur-unsur budaya. Berdasarkan pengalaman, kita lebih sibuk menyiapkan konsep tata ruang fisik dan ekonomi saja, dan cenderung melupakan tata sosial tata budaya. Kita bisa belajar dari kearifan dan kebijaksanaan leluhur dalam mengembangkan kota yang berkesinambungan dan nyaman bagi semua warganya. Dan buku ini bisa menjadi bahan renungan dan refleksi bagi semua.

Selasa, 03 Maret 2009

Oleh-oleh dari Kampung: Saat banjir datang lagi

Niat awal sih pengen nyenengin keponakan jalan-jalan naik dokar, tapi akhirnya tujuan perjalanan ke lokasi banjir juga. Ternyata, banjir yang menerjang kabupaten Bojonegoro dan diberitakan menerjang hampir seluruh wilyah kabupaten bukan isapan jempol. Menurut berita yang dilansir Kompas (Jum’at 27/02/09), kabupaten Bojonegoro merupakan tempat banjir terparah, dengan menenggelamkan 8.ooo lebih hektar sawah dan 13.000 lebih rumah serta pengungsian besar-besaran. Nah, ternyata air itu telah mencapai tempat yang hanya berjarak 3 km ke arah utara dari rumahku. Dan kesanalah dokar itu membawa rombongan kecil itu, rombongan aku dan keponakan-keponakanku yang berjumlah 7 orang Plus ibu-ibunya keponakanku yang masih kecil, jadinya 10 orang dalam rombongan itu. Sebenarnya aku masih punya dua orang keponakan, tapi karena dah pada gede alias ABG, jadi ga pada ikutan.
Selama perjalanan, kami melewati jalanan yang sudah rusak parah. Hampir separuh badan jalan ada lubang yang menganga, bahkan ada lubang yang selebar 1 m. Mungkin karena banjir jalanan itu jadi kayak gitu, tapi seingatku jalan ke arah Kanor emang dari dulu kondisinya seperti itu, rusak parah. Dan kalau sudah benar-benar parah cuman ditambal aja, kayak seragamnya partai Kay Pang (partai pengemis). Begitu musim hujan, kembali ke keadaan semula. Begitu seterusnya, selalu berulang-ulang selama bertahun-tahun. Tapi aku denger dari ibuku, bahwa ruas jalan di kecamatan Kanor baru aja 2 bulan dibangun jalan baru mulus beraspal, tapi ga tahu nasib jalannya sekarang setelah diterjang banjir.
Selama perjalanan pula, keponakan-keponakanku yang masih kecil (kurang dari 1 tahun) banyak ketawa riang, sambil m
enunjuk-nunjuk pada kuda. Sepertinya mereka sangat menikmati perjalanan itu. Di tengah jalan, seorang tua menyapa dengan melambaikan tangannya pada kami. Orang tua itu kecil tubuhnya, dengan agak bongkok. Aku inget siapa dia. Kakek-kakek itu adalah orang yang dulu saat aku masih duduk di bangku MI atau MTs jualan es lilin di sekolahku. Aku ga tahu dia sekarang kerja apa, tapi yang aku lihat saat itu dia hanya mencari rumput. Aku juga ga tahu untuk apa rumput-rumput itu. Kalo untuk ternak, ternak siapa? Ternak dia sendiri ataukah ternak orang lain? Kayaknya hidup itu makin lama makin sulit bagi dia dan ga jelas kepastiannya.
Di tempat kami ketemu kakek itu pula, aku melihat air sudah menggenangi persawahan dan halaman depan rumah penduduk, dan halaman depan sekolah dasar. Kayaknya sekolah itu diliburkan, karena tidak tampak satupun murid atau aktifitas belajar didalamnya. Bahkan, air sudah merendam jalan kecil, satu-satunya akses bagi warga desa menuju jalan raya terdekat.aku bisa membayangkan betapa repotnya mereka kalau harus ke pasar misalnya. Dimana-mana yang terlihat hanya genangan air. Air..air…saat jumlahnya kecil
dinanti-nanti, saat melimpah malah tidak diharapkan. Mungkin emang kita harus lebih bijak lagi dalam mengelola alam agar kita hanya mendapatkan jumlah yang dibutuhkan, ga lebih dan ga kurang.
Terus ke arah utara, tiba juga rombongan ke desa Simbatan. Kecamatan Kanor. Dari jauh udah tampak palang larangan untuk masuk bagi kendaraan bermotor. Yang masang palang itu adalah warga, untuk sebuah alasan yang kupikir masuk akal. Warga takut bila ada mobil atau kendaraan bermotor masuk, akan terjadi gelombang air yang akan
menghantam perumahan dan permukiman warga. Gelombang ini ditakutkan akan memperparah tingkat kerusakan rumah warga yang sebagian besar masih dari gedhek (anyaman bambu). Kekhawatiran lain adalah gelombang tersebut dapat mempercepat jebolnya tanggul. Tanggul yang menahan luapan air sungai bengawan solo emang masih dibangun dari tumpukan tanah aja. Apabila tergerus air, sedikit demi sedikit akan jebol juga. Akibat banjir aja udah banyak kerusakan yang ditimbulkan, jadi ga usah ditambah lagi lah kerusakannya, mungkin demikian pikir warga.
Saat melihat banjir itu, kami ditawari orang untuk naik perahu kalau mau melihat banjir. Dalam hati aku pikir, hebat juga orang desa ini menangkap peluang dari bencana ya
ng terjadi. Tapi aku menolak, karena beberapa pertimbangan. Yang pertama kayaknya karena hatiku menolaknya. Mana mungkin aku jalan-jalan “berwisata” menikmati kesusahan orang lain sambil jepret sana jepret sini dengan kamera digital yang kubawa. Aku ga mau menyakiti perasaan warga korban banjir. Jadinya, ya kita ngeliat banjir hanya dari jauh aja, dari tempat kereta kuda itu berhenti, dari tempat perbatasan genangan air dengan daratan. Yang kedua, karena aku ingat tragedy yang menimpa keluarga temen MTs-ku. Seluruh anggota keluarganya, bapak, ibu, dan adik-adiknya, tewas seluruhnya (hanya benar-benar menyisakan dia seorang) saat naik perahu ketika terjadi banjir besar beberapa tahun lalu. Bayangan itu bikin aku merinding dan memutuskan untuk tidak naik perahu.
Setelah puas melihat banjir (masya Allah), dan keponakanku main air di tempat bencana, maka kami memutuskan kembali pulang. Di tengah perjalanan pulang,
kusir dokar ketemu koleganya sesama petani. “Piye mbah? Kelem (gimana kek? Tenggelam?) ”, sapa kusir itu. “iyo, blas ra siso (iya, ga ada yang tersisa)”, jawab kakek itu dengan tatapan mata yang kosong dan nanar. Tampak jelas guratan kesedihan itu. Kesedihan ditambah dengan kebingungan. Mungkin yang ada dalam pikiran dia saat itu adalah gimana nglunasi utangnya, sementara panen gagal. Gimana nasib anak istrinya? Gimana ini gimana itu, sepertinya berjibun pertanyaan yang sulit dijawab. Mungkin juga saat itu kakek itu berharap ada keajaiban, ada caleg yang melunasi hutangnya, ga hanya pasang tampang di poster atau baliho dengan janji-janji kosong mau menyejahterakan petani.
Kayaknya emang petani itu lapisan masyarakat atau kelompok sosial yang emang di
kutuk untuk selalu mengulang-ngulang kesialan seumur hidupnya. Sepertinya mereka mewarisi kesialan dari nenek moyangnya sebagai petani. Mulai dari jaman feodalisme (kerajaan-kerajaan tradisional), masa kolonial dan pasca-kolonial, termasuk era orde lama dan orde baru, nasib petani hanya dimain-mainkan dalam pusaran kekuasaan yang saling berebut pengaruh. Penderitaan mereka hanya dieksploitasi untuk mendapatkan simpati demi kursi. Sementara petani, selamanya berkubang dalam lumpur kemiskinan. Kebijakan harga, kebijakan pupuk, kebijakan pasar, ga pernah berpihak pada petani. Entah kapan lingkaran setan penderitaan itu putus.
Akhir perjalanan menyisakan kebahagiaan buat keponakanku, tapi juga menyisakan pertanyaan buatku. Saat aku mau kembali ke Bandung, tersiar kabar bahwa tanggul di Semambung kecamatan kanor, dan di Bayeman jebol, sehingga banjir menjadi semakin tidak terkendali. Jalur transportasi terputus dan dialihkan ke jalur lain, sehingga membuatku hampir ketinggalan bus yang akan membawaku ke Bandung karena susuhnya transportasi menuju kota Bojonegoro. Sebelum pulang, dering telp berbunyi dan dari seberang sana suara Pak De-ku mengabarkan kalau tanggul di Widang – Tuban jebol, sehingga merendam rumahnya dan sedang siap-siap untuk mengungsi. Sabar ya Pak de…

Jumat, 26 Desember 2008

A Never Ending Love: Jogjakarta

Bicara Jogja tidak pernah ada habisnya. Dengarlah cerita dan pengakuan Katon Bagaskara ketika menciptakan lagu Yogyakarta yang legendaris ini:

Katon diminta Adi membuat lirik. Dalam pikiran Katon, lagu mestinya berbau latin. Itu berarti ia harus membuat setting kota di mana di kota itu terjadi romantika percintaan seseorang yang lama ditinggalkan kekasihnya. Namun, kota tersebut selalu membawa kenangan indah. Romantika lagu sudah jadi, tetapi kotanya belum terpilih. Konsep awal yakni nama kota yang berbau Eropa, membingungkan Katon.

“Saya lalu berpikir, kenapa tidak kota di Indonesia, namun yang bisa membangkitkan romantisme, dan terpikirlah Yogyakarta. Langsung kebayang Malioboro, Tugu, Tamansari, yang tiap sudut menyapaku bersahabat”, kata Katon Bagaskara.

Jogjakarta, akan selalu menjadi kota yang istimewa bagi orang yang pernah tinggal disana. Dan aku akan selalu merindukan Jogjakarta, dengan segala kisahnya.

Tapi maafkan aku Jogja, aku tidak memasukkan namamu dalam daftar yang harus kukunjungi dalam perjalanan panjangku tahun ini. Bukan karena aku tidak merindukanmu, tapi biarkan rasa rindu ini semakin terpendam dan menjadi dalam, sehingga pada waktunya nanti membuncah menjadi sebuah kemesraan yang tak terlupakan.

Dengarkanlah lagu baru Katon yang berjudul Jogja, Never Ending Love

In the sand
I can see my footprints left behind
Parangtritis waves calling in rhyme

For the longest time
life has been a struggle in the past
Now it’s time to free my soul at last

Between waves chasing each other to the shore
The sound of Gamelan enticing even more
This calm I’ve been waiting for

Letting myself fly
I see all these people passing by
bicycles are everywhere I go

Smiles so beautiful
friendly faces greeting me so nice
My heart’s found its home in paradise

Watch that lady
dancing gracefully
She brings to life the legend of Tamansari
How softly and sweetly
tradition’s calling me

Oh please let me stay
time don’t pass away
I treasure your beauty
day to day

Here peace I can find
leave troubles behind
just this city in my mind

A place that’s so real
and yet makes me feel
like being in heaven up above
Pure white like a dove
a passion deep in my heart

A never ending love:
Jogjakarta
Hoo~ woo~

Deep within my heart will never be apart
Javanese romance enchanting like a dance
Oh.. so innocently tradition’s calling me

~-~

Oh please let me stay
time don’t pass away
I treasure your beauty day to day

Here peace I can find
leave troubles behind
just this city in my mind

A place that’s so real
and yet makes me feel
like being in heaven up above
Pure white like a dove
a passion deep in my heart

A never ending love:
Jogjakarta

Kamis, 18 Desember 2008

Bandung Military Tour



Well, selalu menyenangkan jalan-jalan. Apalagi kalau jalan-jalan tersebut dapat memberikan banyak pengetahuan baru.
Minggu yang lalu, aku mengikuti acara Militour, jalan-jalan mengintip fasilitas militer yang ada di kota Bandung. Memang, Bandung (Priangan), selain dulunya disiapkan sebagai ibukota Negara Hindia Belanda sebagai pengganti Batavia, juga disiapkan sebagai pusat militer pemerintah kolonial. Maka tidak mengherankan bila di Bandung terdapat banyak fasilitas militer.
Di mulai dari Gudang Utara, yang merupakan arsenal militer Hindia Belanda, perjalanan bermuara di Museum Mandala Wangsit, museum perjuangan Kodam III/Siliwangi. Seperti biasa, militer selalu mengklaim dirinyalah sendiri yang menopang kedaulatan dan pejuang sejati kemerdekaan Indonesia. Istilah seperti “tentara berjuang bersama rakyat”, sering mereka keluarkan daripada pernyataan: “rakyat berjuang bersama tentara”. Seolah-olah merekalah komponen utama perjuangan dulu. Tapi sudahlah, bangunan dan fasilitas militer lebih menarik untuk diamati daripada memikirkan hal itu.
Sayangnya, kita tidak bisa masuk ke dalam instalasi dan fasilitas militer, alasannya sih katanya demi menjamin kerahasiaan Negara (hehehe..padahal fasilitas mereka sudah bisa dipotret lewat Google Earth). Jadi kita hanya bisa menikmati arsitektur klasik romantik dari luar aja. Kalau dari sudut sejarahnya sih ga ada yang menarik menurutku. Bukannya nyombong, tapi aku sedikit banyak tahu tentang sejarah militer di Indonesia, mulai dari KNIL, PETA, dan laskar-laskar rakyat sampai TNI sekarang. Cuman mungkin dengan berkunjung ke tempat-tempat itu, aku ngerasa seperti terlibat langsung dengan sejarah militer Indonesia sendiri.
Yang menarik bagiku adalah karinding yang dimainkan oleh seorang anggota Bandung Heritage. Karinding merupakan alat musik tiup sederhana yang terbuat dari batang bambu, yang ukurannya kecil sekali, panjang sekitar 10 cm, lebar 1 cm, dan ketebalan 1-2 mm. Ketika ditiup oleh satu orang, suaranya emang lirih dan kecil. Tetapi ketika ditiup secara bersamaan oleh eberapa orang, interferensi suara menghasilkan suara yang nyaring. Menurut pengakuan orang itu, frekuensi yang dihasilkan oleh interferensi suara itu dapat mengusir hama di sawah. Alat musik ini dulunya banyak dimainkan oleh urang sunda saat di sawah. Sambil menunggu sawah, mengusir hama, juga bermain musik dengan karinding. Bayangkan “kebudayaan petani” yang bersahaja dan memiliki kohesi sosial yang sangat kuat. Saat individualisme belum mencemari pematang sawah.
Keberadaan karinding ini sudah sangat langka, untuk tidak mengatakan hampir punah. Dan sudah jarang sekali orang yang bisa memainkannya. Begitulah nasib budaya kita…Tergusur oleh kekuatan besar yang sekarang lagi dominan: KAPITALISME. Saat kita melupakan karinding, bisa jadi dalam beberapa tahun mendatang Malaysia akan meng-klaim bahwa karinding adalah produk budaya mereka. Siapa peduli?...
Yang tersisa dari perjalanan ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang terkadang klise tapi jawabannya sulit tersedia. Lantas, peran Dinas Pariwisata dimana? Justru kelompok-kelompok masyarakat seperti Bandung Heritage inilah yang memiliki kepedulian nyata terhadap warisan sejarah dan budaya bangsa. Bukankah gila kalau Tommy Winata mau membeli gedung Sabau (bekas gedung Department van Oorlog dan bekas gedung KNIL) untuk dijadikan hotel, dan Pangdam III/Siliwangi mengijinkannya.
Sejarah memang harus ditulis ulang, dengan kajian akademik yang objektif lepas dari kepentingan penguasa. Kenapa? Karena apa yang tertulis dan terpampang di Museum adalah warisan sejarah Orde Baru yang militeristik. Apakah otak dan kesadaran anak cucu kita harus terkontaminasi sejarah yang “bengkok”?